25 November 2019, 14:50 WIB

Kurikulum Pendidikan Harus Selaras Perkembangan Zaman


Aries Wijaksena | Humaniora

istimewa
 istimewa
Anggota DPR RI Fraksi NasDem Ahmad Sahroni.

ANGGOTA DPR dari Fraksi NasDem Ahmad Sahroni mendorong dunia pendidikan untuk selalu meng-update kurikulum sesuai perkembangan zaman agar para lulusannya mampu bersaing dan menciptakan peluang-peluang dari perubahan dunia yang bergerak begitu cepat.

Sahroni menyampaikan hal tersebut dalam sambutannya sebagai perwakilan mahasiswa pascasarja Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (Stikom) Inter Studi yang diwisuda hari ini, Minggu (24/11).

“Kita semua menyadari bahwa dunia begitu cepat berubah. Perubahan ini berdampak pada industri dan lapangan kerja yang akan kita hadapi bersama,” kata Sahroni.

Wakil Ketua Komisi Hukum DPR RI ini lebih jauh merujuk pada laporan terbaru McKinsey and Company yang dirilis September 2019 lalu, dimana diperkirakan 23 juta pekerjaan pada tahun 2030 akan hilang, seiring meningkatnya adopsi otomatisasi dan kecerdasan buatan.

Realitas ini menurutnya akan menjadi tantangan bagi dunia pendidikan untuk selalu meng-update kurikulum sesuai perkembangan zaman. Begitu pula menjadi tantangan bagi kita sebagai produk perguruan tinggi.

“Bekal ilmu pengetahuan yang kita peroleh di bangku kuliah akan segera menjadi tidak relevan, apabila kita tidak terus menerus belajar untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman,” ucap Sahroni.

“Continuous learning atau belajar berkelanjutan adalah keniscayaan bagi kita agar tetap bertahan di tengah perubahan dunia dan persaingan global,” imbuhnya.

Sejalan dengan itu, kampus InterStudi sebagai lingkungan akademik yang telah membekali para lukusannya dengan keilmuan di bidang komunikasi dan kreativitas, tentu juga dituntut mampu bertahan di tengah derasnya perubahan zaman.

“Belajar dan mendengar, dalam pengalaman pribadi saya, adalah kunci agar kita selalu exist dalam banyak situasi,” tukas Sahroni membagikan pengalaman suksesnya baik di dunia bisnis maupun politik.

Ia kemudian mengingatkan kepada para wisudawan-wisudawati tidak menjadikan selembar ijazah sebagai tanda bahwa kita telah selesai belajar, melainkan sebagai bekal awal untuk terjun dan berkontribusi nyata kepada masyarakat. (A-2)

BERITA TERKAIT