25 November 2019, 15:30 WIB

Pembangunan Hotel di TIM Langgar Konsep Pelestarian Budaya


Sri Yanti Nainggolan | Megapolitan

 ANTARA/Nova Wahyudi
  ANTARA/Nova Wahyudi
Pekerja membongkar trotoar lama di Jalan Cikini Raya depan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta

RENCANA pembangunan hotel bintang lima di area Taman Ismail Marzuki (TIM) menuai kritik. Proyek itu dinilai keluar dari konsep pelestarian budaya.

"Ada ruang yang memang kita pertahankan untuk bisa melestarikan leluhur bangsa. Maka revitalisasi yang dilakukan tidak boleh melenceng dari tujuan itu," kata Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono saat dihubungi, Senin (25/11).

Menurut dia, ruang budaya tidak bisa dicampuradukan dengan bisnis. Bisnis menerapkan untung rugi, sedangkan budaya tidak

"Bicara budaya itu tidak bisa ngomongin untung rugi, tapi bagaimana kita bisa eksis dengan jati diri bangsa kita yang dilakoni para seniman, khususnya di Jakarta," papar dia.

Baca juga: PDIP Tolak Keras Revitalisasi TIM

Gembong menilai seniman merupakan orang yang bebas. Sehingga, tidak harus menginap di hotel bintang lima.

"Alasan Pak Anies (Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan) untuk membangun hotel ini hanya kamuflase untuk menutup dari publik bahwa ada orientasi bisnis di sana," kata dia.

Dewan akan berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) untuk membahas masalah ini. Sementara itu, para seniman juga menolak revitalisasi TIM, khususnya pembangunan hotel bintang lima.

Penolakan tersebut diketahui dari unggahan video yang viral. Dalam video itu, Deputi Gubernur DKI Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Dadang Solihin tampak berbicara dengan nada tinggi di hadapan seniman dalam diskusi 'PKJ-TIM Mau Dibawa ke Mana?'

Proses revitalisasi TIM memakan biaya hingga Rp1,8 triliun. Revitalisasi akan menggunakan penyertaan modal daerah (PMD) Jakpro yang telah masuk dalam APBD DKI Jakarta. (Medcom/OL-2)

BERITA TERKAIT