25 November 2019, 08:22 WIB

Pemkot Samarinda Belajar Budidaya Kelor ke Blora


Akhmad Safuan | Nusantara

MI/Akhmad Safuan
 MI/Akhmad Safuan
Bupati Blora Djoko Nugroho mendamping Wali Kota Samarinda, Syaharie Jaang (pakai ikat kepala) meninjau budidaya kelor di Blora.

KEBERHASILAN Blora, Jawa Tengah menekan stunting dengan kelor semakin menasional. Pemerintah Kota Samarinda, Kalimantan Timur belajar ke Blora untuk budidaya tanaman kelor dalam upaya memerangi stunting di daerahnya. Tanaman kelor yang dibudidayakan di Blora mampu menekan stunting yang sebelumnya mencapai 50%, kini menjadi 8,2%.

"Kelor merupakan tanaman ajaib, menurut sebuah penelitian. Vitamin A di daun kelor empat kali lebih tinggi daripada wortel dan vitamin C tujuh kali lebih tinggi dari jeruk. Dengan kandungan yang bisa menangkal radikal bebas tersebut, stres oksidatif juga bisa dikurangi,� kata Ai Dudi Krisnadi, orang pertama yang membudidayakan kelor di Blora, Senin (25/11/2019).

Kepopuleran kelor sebagai tanaman yang memiliki nutrisi dan gizi tinggi untuk menekan stunting mengundang banyak perhatian. Pemerintah Kota Samarinda dipimpin Wali Kota Syaharie Jaang yang datang ke Blora khusus untuk belajar menangani stunting dan budidaya kelor.

Disambut langsung oleh Bupati Blora Djoko Nugroho dan staf, Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang dan sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) Kota Samarinda langsung menggelar pertemuan dan diskusi di Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora.

Bupati Blora menjeaskan bahwa manfaat kelor memang luar biasa. Tanaman kelor mempunyai banyak manfaat untuk kesehatan termasuk mencegah stunting atau kekerdilan, sehingga banyak orang dari luar Blora datang untuk belajar mengolah kelor.

Menurutnya kelor yang dikembangkan pertama kali di Pusat Pengembangan Tanaman Kelor Puri Kelorina di Desa Ngawenombo, Kecamatan, Kunduran ini semakin terkenal dan banyak yang tahu tentang Kabupaten Blora.

"Saya juga ucapkan terimakasih pada Pak Dudi yang telah membudidayakan kelor," imbuh Djoko.

Kedatangan rombongan Pemerintah Kota Samarinda ke Blora ini, ujar Djoko Nugroho, nanti tidak hanya belajar tentang penanganan stunting dan budidaya kelor. Tetapi juga akan lakukan kerja sama lain untuk kemajuan kedua daerah ini.

Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang mengapresiasi langkah yang ditempuh Pemerintah Kabupaten Blora dalam memerangi stunting dengan kelor. Budidaya tanaman kelor berhasil menekan angka kekerdilan dalam lima tahun terakhir menjadi daya tarik daerah lain bahkan luar negeri.

"Kami datang ke Blora dalam rangka belajar Tanaman Kelor yang berada di Desa Ngawenombo, Kecamatan Kunduran," ucap Syaharie Jaang.

Sebelum datang ke Blora, lanjut Syaharie Jaang, sudah mengundang Ai Dudi Krisnadi untuk memberikan paparan kepada seluruh Kepala OPD, Camat dan Kades/ Lurah di Samarinda, sehingga kedatangan mereka sebagai bentuk tindak lanjut dan mengecek fakta di lapangan.

baca juga: 3.100 Huntap Ditargetkan Rampung Sebelum Lebaran 2020

Syaharie berharap di masa mendatang Pemkot Samarinda merencanakan pengembangan tanaman kelor, sehingga masyarakat Samarinda tahu dan memanfaatkan tanaman tersebut. Langkah ini diambil karena tanaman kelor mudah perawatannya dan cepat panen. Berbeda dengan sawit atau jagung yang membutuhkan waktu tiga bulan untuk panen, kelor bisa dipanen sebulan setelah ditanam. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT