25 November 2019, 09:20 WIB

Pertamina Menbangun Infstratuktur Energi


Media Indonesia | Ekonomi

Dok. Pertamina
 Dok. Pertamina
Grafis Inftastruktur Pertamina.

SELAMA 62 tahun Pertamina terus berkomitmen untuk melayani energi di 17 ribu pulau Indonesia, dari Sabang sampai Merauke serta dari Miangas hingga Pulau Rote. Dengan berbagai tantangan yang dihadapi di seluruh tanah air, hingga kini Pertamina tetap menjadi tulang punggung distribusi BBM, LPG dan Avtur yang mengalir dari Kilang, Terminal, Depo hingga ke SPBU.

Sebagai negara kepulauan, penyaluran energi di Indonesia dengan penduduknya lebih dari 260 juta jiwa yang mendiami 1,9 juta km persegi ini, diakui sebagai salah satu yang terumit di dunia.

Meski rumit, Pertamina selaku Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mengemban tugas utama menyediakan energi ke seluruh pelosok negeri terus berupaya mengembangkan kemampuan dan kapabilitas agar dapat memenuhi aspek ketersediaan (Availability), kemudahan akses (Accessibility), keterjangkauan (Affordability), pengembangan energi hijau dan BBM berkualitas tinggi (Acceptability) serta keberlanjutan (Sustainability).

 ”Dalam mengemban tugas tersebut, selain melakukan rekonfigurasi pola suplai, Pertamina harus terus memperkuat infrastruktur distribusi energi di beberapa wilayah di tanah air,” ucap Nicke Widyawati, Direktur Utama Pertamina.

Nicke menjelaskan, pada tahun 2019, Pertamina membangun 46 proyek fasilitas hilir yang bertujuan meningkatkan keandalan infrastruktur energi. Total investasinya sekitar US$ 1 Miliar.

“Kami terus bergerak dan mempercepat penyelesaian proyek agar dapat menjamin ketersediaan dan distribusi energi dengan lebih efektif dan efisien,”ujarnya optimis.

Menurut Nicke, proyek ini semuanya dikerjakan oleh para putra terbaik bangsa dan menggunakan produk dalam negeri, sehingga Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk terminal BBM mencapai 100%, karena pelat baja yang merupakan komponen utama tangki menggunakan bahan baku dalam negeri. Sementara untuk pembangunan terminal LPG, Pertamina tetap mengutamakan angka TKDN yang tinggi. Hal inilah yang mendorong industri nasional terus tumbuh sejalan dengan pengerjaan proyek ini.

“Proyek infrastruktur energi yang dibangun Pertamina turut meningkatkan ekonomi masyarakat sekaligus menyerap tenaga kerja yang cukup besar,” imbuh Nicke.

Pembangunan infrastruktur secara keseluruhan, lanjut Nicke, sekaligus akan mengurangi impor BBM dan Petrokimia, sehingga akan meningkatkan cadangan devisa negara. Dengan penambahan kapasitas kilang, maka volume impor BBM akan semakin berkurang. Bahkan, sejalan dengan megaproyek RDMP dan GRR, yang meningkatkan kapasitas kilang menjadi 2 juta barel, nantinya Indonesia akan mencapai swasembada energi, sehingga tidak lagi tergantung dengan BBM impor.

 

Infrastruktur Energi, Tingkatkan Kapasitas

Keputusan mengelontorkan investasi besar untuk membangun infrastruktur energi bagi Pemerintah dan Pertamina merupakan pilihan yang tak dapat ditawar.

Di tahun ini, sebanyak 364 proyek dijalankan untuk mendukung kegiatan pendistribusian BBM dan LPG di Indonesia, termasuk pula di wilayah Timur Indonesia. Menjelang akhir tahun 2019, sebagian dari proyek tersebut telah selesai dan berdampak pada meningkatnya kapasitas penyimpanan LPG sebesar ±110.000 MT dan BBM bertambah sebesar ±157.000 KL. Peningkatan kapasitas ini penting untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan energi yang terus meningkat seiring dengan kemajuan teknologi. Penambahan ini juga untuk mendukung program BBM 1 Harga yang bertujuan untuk memberikan aksesibilitas terhadap BBM kepada seluruh masyarakat Indonesia.

Nicke menguraikan, dari total investasi tersebut, Pertamina dapat meningkatkan kapasitas penampungan (storage) bahan bakar minyak (BBM) yang sebelumnya hanya sekitar 6.100 juta liter menjadi sekitar 6.257 juta liter.

Demikian pula dengan kapasitas penampungan LPG. Jika pada tahun 2018, daya tampung fasilitas LPG berkisar 207 ribu Metrik Ton (MT), maka di tahun 2019, Pertamina dapat meningkatkan kapasitas storage LPG menjadi 317 ribu MT.

“Melalui peningkatan kapasitas penampung BBM dan LPG, otomatis kita dapat memperkuat keandalan suplai, sehingga kebutuhan bahan bakar untuk masyarakat lebih terjamin,”tegasnya. Bukan hanya itu, Nicke menambahkan, tuntasnya pembangunan infrastruktur hilir BBM, LPG dan Avtur tersebut akan berdampak pada meningkatnya lifting crude domestik.

 Secara berkala, Pertamina melakukan evaluasi terhadap pola suplai dan melakukan inisiatif yang bersifat quick win. Biasanya inisiatif ini membutuhkan pembangunan infrastruktur baru yang signifikan dan dapat dilakukan dengan memodifikasi proses bisnis atau sarana fasilitas yang ada, misalnya optimalisasi pola suplai di Terminal BBM Panjang dan Terminal BBM Tanjung Gerem. Pertamina melakukan pembenahan supply chain dengan meningkatkan utilitas kapal dan mengurangi integrated port time atau waktu idle kapal tanpa operasi. Dari inisiatif quick win yang dilakukan pada tahun 2019, Pertamina bisa menghasilkan efisiensi yang terus meningkat, jika berbagai pembangunan sarana dan prasarana di seluruh tanah air telah beroperasi.

“Di Tanjung Sekong misalnya, jika nanti Terminal LPG disana sudah full operasi, akan bisa mendaratkan 2 buah kapal besar VLGC, sehingga akan memberikan nilai efisiensi tinggi,” imbuh Nicke. Pada tahun 2019 40 proyek pembangunan infrastruktur telah selesai dan akan atau telah dioperasikan.

 

Dukung Infrastruktur Hilir, Kilang Tingkatkan Produksi

Pembangunan infrastruktur energi yang dilakukan Pertamina jalan serentak. Selain mengupayakan pembangunan infrastruktur hilir, perusahaan energi terintegrasi ini juga sedang menggenjot penyelesaian proyek megaproyek pengembangan kilang.

Megaproyek kilang tersebut adalah 4 proyek pengembangan kilang (Refinery Development Master Plan/ RDMP) yakni RDMP Refinery Unit (RU) V Balikpapan; RDMP RU IV Cilacap; dan RDMP RU VI Balongan, RDMP RU II Dumai, serta 2 proyek Pembangunan Kilang Minyak dan Petrokimia (Grass Root Refinery/GRR) Tuban dan GRR Bontang.

Menurut Nicke, secara bersamaan Pertamina akan mempercepat penyelesaian proyek-proyek kilang tersebut agar dapat mendukung penyediaan BBM dan LPG yang akan mengoptimalkan penyaluran BBM dan LPG dari infrastruktur hilir yang ditargetkan rampung secara bertahap hingga 2026.

“Kehadiran Megaproyek kilang minyak dalam negeri akan mendukung kemandirian dan ketahanan energi nasional, dan kehadirannya akan mampu memproduksi bahan bakar dari saat ini sebesar 600.000 barel per hari menjadi 1,7 juta barel per hari dengan produk berstandar internasional Euro V,” katanya.

 

Tetap Melayani Dalam Bencana

Tekad untuk terus melayani penyediaan energi, khususnya BBM, LPG dan Avtur tidak mengenal kondisi. Bahkan, dalam situasi darurat bencana alam sekalipun, Pertamina berupaya mengoptimalkan penyaluran bahan bakar.

Dalam mengamankan pasokan energi di wilayah terdampak bencana alam, Nicke menyampaikan bahwa Pertamina menerapkan strategi RAE (Regular, Alternative, Emergency) untuk mengamankan pasokan energi wilayah tersebut. Pengiriman bahan bakar ditempuh melalui jalur darat, laut dan udara. Untuk menambah pasokan bagi masyarakat korban bencana dan menghidupkan kembali perekonomian di wilayah terdampak, seperti yang dilakukan di Palu dan Donggala, Pertamina melakukan alih suplai dari Terminal BBM yang beroperasi. Sedangkan untuk pengiriman bahan bakar melalui jalur udara, dilakukan dengan menggunakan pesawat air tractor.

“Dalam kondisi terburuk pun, kami akan memastikan penyediaan energi di wilayah terdampak bencana tetap terpenuhi,”imbuhnya.

Pembangunan berbagai infrastruktur hilir yang gencar dilakukan Pertamina, diharapkan akan semakin memperkuat stok energi di seluruh wilayah Indonesia hingga ke pelosok negeri. Pertamina juga bisa semakin tangguh dan cepat tanggap dalam mendistribusikan energi ke wilayah bencana. Kesiapan ini perlu terus ditingkatkan, mengingat Indonesia berada pada wilayah rawan gempa dan bencana alam.

BERITA TERKAIT