24 November 2019, 22:35 WIB

Kepedulian pada Dunia Pendidikan Lahirkan Ruangguru


M Ilham Ramadhan Avisena | Humaniora

ANTARA
 ANTARA
Chief Executive Officer Ruangguru, Adamas Belva Syah Devara

LAHIRNYA gagasan untuk menciptakan aplikasi dalam jaringan (daring) di bidang pendidikan Ruangguru merupakan bentuk kepedulian pada dunia pendidikan Indonesia yang masih jauh dari kata baik dan mumpuni.

Demikian dikatakan Chief Executive Officer Ruangguru, Adamas Belva Syah Devara, saat ditemui di Metro TV, Jakarta, Minggu (24/11).

"Kita tahu pendidikan di Indonesia masuk yang paling buruk, ada di dua terbawah berdasarkan ranking PISA tahun 2012. Nah kami berpikir, harus menggunakan teknologi supaya ada lompatan ke depan," ucapnya.

Berawal dari pengetahuannya di bidang komputer dan kecintaannya pada dunia pendidikan, Belva memberanikan diri untuk melawan arus utama sektor pendidikan dengan menciptakan aplikasi Ruangguru lima tahun silam.

Bentuk kepeduliannya itu kini menuai hasil, meski belum signifikan, minat anak-anak Indonesia untuk mencari ilmu terbilang luar biasa.
"Alhamdulillah dua tahun ke belakang ternyata bisa booming jug aplikasi belajar di Indonesia, itu artinya kan anak-anak di Indonesia ketika ada platform-nya, ada aplikasinya, mereka mau kok belajar," uja Belva.

Tak berpuas diri, ia yang baru saja ditunjuk sebagai Staf Khusus Presiden itu, ingin terus melahirkan inovasi melalui Ruangguru. Salah satunya yakni dengan memperluas pasar.

Bila sebelumnya aplikasi belajar itu hanya ditujukan kepada siswa sekolah dasar hingga menengah atas, kini Ruangguru mencoba untuk menyentuh kalangan profesional.

"Sekarang kita ada yang namanya skill academy, itu adalah platform baru untuk profesional, jadi profesional itu bisa belajar lewat kursus online. Misal, marketing, sales, public speaking, TOEFL, dan lainnya. Itu inovasi baru," jelas Belva.

Tak hanya itu, Ruangguru juga akan melakukan ekspansi ke luar Indonesia untuk menjangkau pasar yang lebih luas dan mendorong anak-anak untuk mau belajar.

Belva menyebutkan, Ruangguru akan menginjakkan kakinya ke Vietnam dan akan terus melebarkan sayapnya di 2020. Dengan begitu, Ruangguru akan memiliki tiga wilayah negara pengoperasian.

"Intinya kami akan terus berinovasi ke bisnis atau unit baru di bidang pendidikan dan juga new market dan new geography outside Indonesia," terang Belva.

Lebih lanjut, meski ditunjuk sebagai staf khusus oleh presiden untuk membawa aspirasi masyarakat dan menyampaikan inovasi untuk perbaikan kualitas sumber daya manusia Indonesia, Belva mengaku tidak akan kesulitan membagi waktunya sebagai CEO sekaligus sebagai pembantu presiden.


Baca juga: Penghargaan People of The Year Metro TV akan Diadakan Tiap Tahun


"Jadi seperti amanat pak Presiden sendiri, yang muda ini memang tidak untuk tercabut dari akarnya di sektor masing-masing jadi memang di harapkan untuk melanjutkan posisi masing-masing justru," tuturnya.

Ia menambahkan telah memiliki sebuah usulan yang akan dibawa dan disampaikan kepada presiden. Usulan itu mengenai pemanfaatan teknologi digital dalam lingkungan sekolah.

Sebab menurutnya, sekolah formal hingga kini masih belum memberdayakan teknologi digital. Ranah itu, kata Belva, merupakan domain pemerintah, sehingga ia mengharapkan bila usulannya sampai ke presiden, maka digitalisasi di dalam sekolah dapat terwujud.

"Kalau saya dari pihak swasta, selama ini kan dalam pendidikan, digitalisasinya di luar sekolah, yang mungkin akan saya bawa ke presiden adalah digitalisasi di dalam sekolah. Karena kalau di dalam sekolah itu kan gak mungkin dilakukan swasta, di dalam itu memang porsinya pemerintah," urainya.

"Sekarang saya ada dua topi, swasta juga publik juga, jadi yang tadinya saya cuma bisa gemes aja, kenapa sekolah gak bisa kayak gini, kenapa sekolah formal gak bisa begini, kan begitu, sekarang saya jadi mempunyai channel juga untuk membawa aspirasi," sambung Belva.

Lebih jauh, bertepatan dengan Hari Guru yang jatuh pada 25 November, Belva menginginkan agar para guru di seluruh Indonesia mau membuka diri dan melakukan terobosan dalam mengajar.

"Saya harapkan guru-guru mau terbuka terhadap teknologi, karena itu dapat membantu," pungkas Belva.

Ia tak memungkiri dirinya bisa berada dalam posisi saat ini berkat kerja guru yang mengajarnya. Guru, menurutnya, pahlawan tanpa jasa meski kadang kerap menemui ketidakadilan.

"Pengabdian mereka sangat luar biasa. Namun, masih banyak guru yang belum dapat upah yang setara dengan pengabdiannya, walaupun begitu, mereka tetap berjuang untuk pendidikan Indonesia," pungkas Belva. (OL-1)

BERITA TERKAIT