25 November 2019, 05:40 WIB

Guru Peduli


Syamsir Alam Divisi Pengembangan Kurikulum dan Penilaian Yayasan Sukma | Opini

Dok.Pribadi
 Dok.Pribadi
Syamsir Alam Divisi Pengembangan Kurikulum dan Penilaian Yayasan Sukma 

SEBAGAI bentuk penghargaan kepada guru, hampir setiap negara merayakan Hari Guru meskipun pada tanggal yang berbeda. Sebagai contoh, Malaysia merayakan Hari Guru pada setiap 16 Mei, Korea Selatan 15 Mei, Singapura 1 September, dan Vietnam 20 November.

Di Indonesia, Pemerintah Republik Indonesia melalui surat Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, menetapkan hari lahir PGRI pada 25 November sebagai Hari Guru Nasional yang diperingati setiap tahun.

Pada peringatan Hari Guru Nasional kali ini, kita bersyukur karena salah seorang guru pendidikan anak usia dini (PAUD), Hikmah Mulia Dewi, yang mendirikan pendidikan prasekolah di Pekalongan, Jawa Tengah, telah berhasil mengungguli lebih dari 10 ribu calon dari sejumlah negara untuk dinobatkan sebagai salah satu dari 50 pendidik terbaik tahun ini di ajang Global Teacher Prize.

Penghargaan tahunan itu disebut sebagai Hadiah Nobel Mengajar. Penghargaan ini merupakan bentuk pengakuan pada seorang guru luar biasa yang telah berkontribusi bagi profesi pendidikan.

Hikmah Mulia Dewi mendirikan Rainbow Preschool pada 2011, dengan tujuan untuk membuktikan bahwa PAUD sama penting dan berharganya dengan bekerja untuk anak-anak yang lebih besar (grade schools). Pada awalnya, siswa terdaftar hanya sebanyak tiga orang. Namun, karena kegigihan, prasekolah yang didirikan Hikmah terus berkembang.

Saat ini, seperti yang dilaporkan buletin Teacher (2019), sudah tercatat sebanyak 150 siswa yang bersekolah di sana dan Hikmah dilaporkan sudah mendirikan sekolah kedua yang lokasinya juga berada di Pekalongan, Jawa Tengah.

Pembelajaran bagi siswa

Mengajar di Rainbow Preschool tidak hanya sekadar bernyanyi dan bermain. Sebaliknya, Hikmah sejak awal sudah mendasarkan pembelajaran pada penyelidikan ilmiah dan penugasan proyek.

Siswa didorong untuk mengekspresikan ide-ide mereka, mendiskusikan tema, melakukan pengabdian, mengajukan pertanyaan, mengumpulkan informasi, serta bermain dan membuat suatu produk. Tugas lain berupa menulis jurnal dan buku-buku sederhana, yang beberapa di antaranya sudah diterbitkan (Teacher: 2019).

Bersamaan dengan hasratnya yang kuat untuk mendukung siswa dan orang tua, Hikmah juga bergiat membantu sesama pendidik menjadi seorang profesional. Dia merancang program peningkatan guru yang disebut Noble Educator Academy, yang tujuannya ialah untuk menciptakan guru-guru prasekolah yang ahli. Guru-guru diberi kesempatan untuk magang dan belajar di Rainbow Preschool dan memberikan kepada sekolah lain akses terhadap pelatihan dan alat pengajaran.

Jika kita baca dengan teliti, keberhasilan Hikmah merupakan kombinasi buah kerja keras dan sikap peduli. Kerja keras saja mungkin akan berhasil, tapi hanya untuk diri sendiri. Namun, kerja keras dengan diikuti kepedulian terhadap sesama/kemanusian akan berdampak luas bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.

Sementara itu, bagi siswa, yang dikatakan keberhasilan dalam belajar hanya apabila kualitas praktik pembelajaran itu mampu menumbuhkan kemampuan/keterampilan berkumunikasi, bekerja sama, bernalar (reasoning) untuk memecahkan masalah baru, berpikir kritis, dan inovatif. Singkatnya, pembelajaran yang berorientasi pada siswa.

Keterampilan inilah tampaknya yang dilakukan Hikmah melalui penugasan proyek, mendiskusikan tema, melakukan pengabdian, mengajukan pertanyaan, mengumpulkan informasi, bermain, dan membuat suatu produk; jurnal dan buku-buku sederhana.

Orientasi pembelajaran

Selain pembelajaran berorientasi bagi siswa, sebagaimana yang diadopsi Rainbow Preschool di atas, juga dikenal pendekatan yang instruksinya diarahkan guru. Pembelajaran model ini menempatkan guru sebagai pusat pembelajaran. Guru memimpin setiap aktivitas dan langkah pembelajaran.

Kedua pendekatan di atas menurut Schleicher (2019) tidak mesti dihadapkan atau diadu. Itu karena setiap orientasi pembelajaran ini memiliki tempatnya sendiri. Keberhasilan akademik yang didasarkan pada instruksi guru dibuktikan sekolah komunitas Michaela, yang terletak di Wembley Park, sebuah lingkungan yang kurang beruntung di London Utara (Schleicher A: 2019).

Menurut Schleicher, guru di Michaela selalu membuat tujuan pembelajaran secara eksplisit, menyusun pelajaran dengan jelas, dan mereka mengajukan pertanyaan menarik yang merangsang pemikiran tingkat tinggi. Tidak ada waktu yang terbuang karena siswa tahu persis apa yang diharapkan. Tidak ada hafalan, semua siswa ditantang untuk menemukan cara alternatif dalam menyelesaikan masalah, dan mengomunikasikan proses dan hasil berpikir mereka secara ringkas. Itu karena siswa belajar cara belajar dan bekerja keras sejak dini. Mereka tidak harus berebutan berlatih untuk ujian akhir dan/atau kehilangan waktu berharga untuk persiapan ujian.

Jadi, tidak mengherankan, hasil ujian siswa pada General Certificate of Secondary Education (GCSE) sangat baik. Kantor Pemerintah Inggris, untuk standar dalam pendidikan, mengakui kualitas pendidikan Michaela sesuatu yang luar biasa, yang langka terlihat pada sekolah lain di lingkungan semacam ini. Murid menyadari dan menghargai bahwa kesuksesan membutuhkan kerja keras. Akan tetapi, Michaela juga memastikan bahwa murid yang berjuang akan mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan (Schleicher A: 2019).

Katharine Birbalsingh, kepala sekolah dan pendiri Michaela, sebagaimana dikemukakan Schleicher (2019), merangkum keterampilan yang ingin dikembangkan pada siswa, yaitu sebagai pekerja keras dan memiliki sikap baik hati. Sebuah aspirasi yang mengandung pesan sangat kuat dan sederhana.

Menurut Birbalsingh, murid perlu menghargai bahwa kesuksesan membutuhkan kerja keras, tetapi sekolah juga memastikan bahwa murid yang berjuang akan menerima dukungan yang mereka butuhkan. Disiplin merupakan bagian penting, tapi yang perlu diperhatikan bahwa tidak seorang pun di sini berteriak atau memaksakan disiplin melalui tekanan eksternal.

Sebaliknya, disiplin diciptakan melalui struktur, prediktabilitas, dan kepemilikan. Karena itu, siswa di Michaela tampak bahagia dan percaya diri. Mereka menghargai lingkungan sekolah yang mana intimidasi tidak biasa, tidak merasa canggung, dan menjalin hubungan dengan tulus dan penuh hormat dengan guru ialah sebuah norma.

Kedua orientasi belajar di atas dimungkinkan untuk tetap digunakan dan disesuaikan dengan lingkungan belajar siswa. Namun, yang juga penting ialah menyiapkan guru agar lebih terampil dan profesional. Karena itu, mampu menumbuhkan kemandirian belajar pada setiap siswa. Wallahualam bissawab.

BERITA TERKAIT