24 November 2019, 19:20 WIB

Sampaikan Pesan Antinuklir, Paus Ingatkan Kengerian Nagasaki


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

AFP
 AFP
Pemimpin umat Katolik sedunia, Paus Fransiskus

PEMIMPIN umat Katolik sedunia, Paus Fransiskus, Minggu (24/11), mengecam keras senjata-senjata atom, strategi pencegah nuklir, dan perdagangan senjata yang berkembang, ketika ia memberikan penghormatan kepada para korban kengerian yang tak terkatakan dari bom Nagasaki.

Dalam kunjungan yang sangat simbolis ke kota Jepang yang hancur akibat serangan nuklir pada Agustus 1945, Paus mengatakan senjata nuklir bukan jawaban terhadap untuk keamanan, perdamaian, dan stabilitas.

Sedikitnya 74.000 orang tewas akibat bom atom yang meletus di kota di Jepang barat--hanya tiga hari setelah serangan nuklir pertama di dunia menghantam Hiroshima dan menewaskan sedikitnya 140.000 orang.

"Tempat ini membuat kami sangat sadar akan rasa sakit dan kengerian yang kita manusia bebankan pada satu sama lain," kata Paus.

Ratusan orang yang mengenakan baju pelindung antiair duduk di bawah hujan deras untuk mendengar pidato Paus, di sebelah foto demonstrasi seorang anak lelaki yang menggendong adik laki-lakinya yang masih bayi di punggungnya setelah serangan bom atom.

Dia meletakkan karangan bunga putih dan berdoa diam-diam, tanpa perlindungan dari hujan deras.

Fransiskus menyoroti apa yang disebutnya dikotomi sesat dari strategi pencegahan nuklir, dengan mengatakan perdamaian tidak sepadan dengan ketakutan akan kehancuran timbal balik atau ancaman penghancuran total.

Pernyataannya bertentangan dengan Paus di masa lalu--dalam pidato PBB pada 1982, Paus Yohanes Paulus II menggambarkan pencegahan nuklir sebagai kejahatan yang perlu dilakukan.

Paus Fransiskus, yang berusia 82 tahun, juga mengecam uang yang dihambur-hamburkan dan kekayaan yang dihasilkan dalam perdagangan senjata. Ia menggambarkannya sebagai penghinaan di saat jutaan anak tinggal di tempat yang tidak berperikemanusiaan.


Baca juga: Dugaan Intervensi Tiongkok Kacaukan Kampanye Pemilu Taiwan


Minggu malam, Fransiskus akan mengunjungi Hiroshima dan bertemu dengan orang-orang yang selamat dari serangan bom atom, yang dikenal dalam bahasa Jepang sebagai hibakusha, di Peace Memorial yang terkenal di dunia di kota yang identik dengan kengerian perang nuklir.

Dua orang yang selamat dari bencana Nagasaki, Shigemi Fukahori, 89, dan Sakue Shimohira, 85, menyerahkan karangan bunga kepada Paus.

Fukahori, seorang Katolik, telah berdoa setiap hari untuk mereka yang terbunuh dan keluarga mereka yang berduka.

"Bertemu dengan Paus saja sudah cukup. Saya senang dan tidak bisa berkata-kata."

Shimohira, yang berusia 10 tahun pada saat serangan itu, menyampaikan teror bom tersebut.

"Ibu dan kakak perempuan saya terbunuh, hangus. Bahkan jika Anda selamat, Anda tidak bisa hidup seperti manusia atau mati seperti manusia. Ini adalah kengerian senjata nuklir," ungkapnya

Dalam Misa di stadion baseball di Nagasaki, Fransiskus mengatakan kota itu menanggung luka yang sulit disembuhkan di dalam jiwanya dan memperingatkan Perang Dunia ketiga sedang dilancarkan sedikit demi sedikit.

Seperti di Thailand, kota pertama dalam tur Asia Paus, Katolik adalah agama minoritas di Jepang dengan hanya sekitar 440.000 umat.

Paus juga dijadwalkan untuk mengadakan Misa di stadion bisbol Tokyo, bertemu Kaisar baru Jepang, Naruhito, dan mengadakan pembicaraan dengan pejabat pemerintah Jepang dan para pemimpin Katolik setempat. (AFP/OL-1)

 

BERITA TERKAIT