24 November 2019, 17:16 WIB

Pegiat Seni Kecam Sikap Pejabat DKI


Insi Nantika Jelita | Megapolitan

Antara
 Antara
 Penyair Imam Ma'arif 

PEGIAT seni Imam Ma'arif membenarkan kericuhan antara Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Pemprov DKI Dadang Solihin dengan para seniman senior saat diskusi publik 'PKJ-TIM Mau Dibawa Ke Mana?' pada Rabu (20/11).

Imam yang menjadi inisiator diskusi tersebut menerangkan, Dadang tersulut emosi kala para seniman menolak rencana pembangunan hotel bintang 5 di dalam TIM tersebut.

"Itu kesalahan ada di Pak Deputi, dia kurang menguasai permasalahan. Jadi teman-teman (seniman) teriak segala macam. Lalu dibalas oleh Pak Deputi. Seharusnya, situasi chaos itu mestinya Pak Deputi mendingankan (suasana) dirangkul, bukan malah teriak-teriak balik," kata Imam saat dihubungi, Jakarta, Minggu (24/11).

Kericuhan tersebut diketahui berasal dari video yang diunggah oleh akun Humor Politik, yang menuliskan keterangan "Begini cara staff Anies sosialisasi tentang renovasi Taman Ismail Marzuki (TIM), di hadapan para senior. Pakai cara arogan, bentak-bentak, ngancem, dll".

Dadang yang menjadi narasumber dalam diskusi tersebut, diketahui menggantikan Gubernur DKI Anies Baswedan yang berhalangan hadir. Imam mengatakan, Dadang tidak menguasai materi diskusi tersebut. Sehingga membuat para seniman bertanya-tanya mengenai konsep revitalisasi TIM tersebut.

"Kronologi sebenarnya itu Pak Deputi juga tidak menguasai persoalan. Pak Deputi juga kan baru dua bulan ya diangkat Anies sebagai pembantunya. Jadi itu yang kemudian membuat ricuh," kata Imam.

"Teman-teman (seniman) kan membutuhkan jawaban yang kira-kira (menjelaskan). Diskusi itu saya buat, saya yang menginisiasi dalam rangka mempertemukan antara eksekutif, legislatif dan seniman. Apa seniman itu membutuhkan hotel bintang lima atau tidak? Rupanya kan seniman tidak membutuhkan itu," lanjutnya.

Imam menuturkan, di akhir diskusi, Dadang akhirnya meminta maaf dan suasana bisa cair kembali. Secara terpisah, Dadang menepis bahwa dirinya marah-marah dihadapan para seniman.

"Hanya diskusi saja, cuma diskusi dengan seniman biasalah, baru satu kalimat dipotong (sama seniman). Kemudian, saya juga lagi batuk dan serak. Saya bilang ke mereka 'Diskusi ini mau dilanjutin enggak',  setelah itu kami ketawa bercanda lagi," jelas Dadang. (OL-8)

BERITA TERKAIT