24 November 2019, 16:24 WIB

Stafsus Presiden belum Merepresentasikan Kalangan Agamawan


M. Iqbal Al Machmudi | Politik dan Hukum

MI/ Susanto
 MI/ Susanto
 M Qodari 

PENGANGKATAN staf khusus presiden yang baru saja dilakukan oleh Presiden Joko Widodo dinilai masih kurang karena tidak menggandeng kalangan agamawan

"Masih agak kurang yang mewakili kelompok keagamaan dari Nadhlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah karena isu keagamaan semakin besar dan perlu kacamata antisipatif jadi kalau boleh staf khusus sosial keagamaan," kata Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari saat dihubungi, Minggu (24/11).

Walaupun unsur tersebut sudah terwakili oleh Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) 2014-2017, Aminuddin Ma’ruf, ia menilai masih belum menggigit. Menurutnya, pemuda dari unsur agama harus terwakili sendiri sehingga narasi pencegahan radikalisme dapat dilakukan oleh kalangan muda.

"Untuk mencegah radikalisme di kalangan anak muda. Sehingga diperlukan kacamata memberikan masukan langsung kepada presiden. Itu tugas dari staf khusus presiden," ujar Qodari.

Kedati demikian, ia berpendapat pengangkatan 7 stafsus kalangan milenial di lingkaran RI 1 sangat baik. Alasannya, Presiden memberi kesempatan audisi sekaligus magang bagi tokoh milenial untuk tampil sehingga ketika mereka berada di puncak pemerintah sudah tidak asing lagi.

"Karena tidak menutup mata mereka bisa jadi yang memimpin bangsa kedepannya. Saya rasa sangat tepat presiden menunjuk milenial," pangkas Qodari.

Diketahui, saat ini staf khusus presiden berjumlah 14 orang yang berasal dari tokoh-tokoh lama dan milenial. Presiden nampaknya ingin menyoroti milenial. Bukan tanpa alasan, milenial digandeng karena jumlahnya sangat besar, yakni 1/3 dari total penduduk Indonesia.

"kedua, milenial merupakan tulang punggung ekonomi Indonesia kedepan sekaligus tulang punggung perubahan 5-20 tahun akan datang," tandasnya. (OL-8)

 

BERITA TERKAIT