20 November 2019, 22:30 WIB

Indonesia Miliki Peran Penting di The Meeting of Minds Forum


Deri Dahuri | Humaniora

Medcom.id/Husen Miftahudin.
 Medcom.id/Husen Miftahudin.
Wakil Ketua Forum MeMinds Salina Nordin. 

INDONESIA akan menjadi  tuan rumah The Meeting of Minds Forum (MeMinds). Acara tersebut akan digelar di Jakarta, pada 11-12 Desember, 2019.

Dalam MeMinds Forum yang 3.000 peserta dari berbagai negara tersebut akan membahas topik utama mengenai sains teknologi dan inovasi untuk menyediakan solusi untuk pengembanga keuangan dan perbankan Islam.

Selain itu, forum yang dipimpin Forum Prof Dr. Ismail Serageldin itu akan membahas wakaf, bisnis, modal usaha, pemberdayaan gender dan kaum muda, peran sains dalam biologi baru dan bioteknologi, kecerdasan buatan (artificial inteligence), dan revolusi teknologi informasi komunikasi.

The MeMinds Forum akan dihadiri figur-figur penting seperti penerima Nobel di bidang biokimia dan fisiologi molekuler, Sir Richard Timothy Hunt dan Co-Founder The Billion Dollar Funds, Nadereh Chamlou.

“The Meeting of Minds Forum akan menghubungkan ASEAN dengan Timur Tengah, Afrika Utara dan Asia Tengah untuk membawa ide-ide dan ilmu pengetahuan terbaik di bidang ekonomi, sosial budaya dan pandangan politik, dan pengertian saintifik untuk meraih tujuan pembangunan berkelanjutan oleh PBB demi masa depan yang makmur dan berkelanjutan,” kata Wakil Ketua Forum MeMinds, Salina Nordin CHFC.

Menurut Salina, ditunjuknya sebagai tuan rumah karena Indonesia memainkan peran penting dalam Forum MeMind dan merupakan negara dengan perekonomian terbesar di wilayah Asia Tenggara.

“Indonesia dengan lebih dari 270 juta populasi dan muslim sebagai penduduk mayoritas. Pesatnya pertumbuhan keuangan dan perbankan Islam, Indonesia akan menjadi acuan studi berharga bagi dunia,” kata Salina pada jumpa pers di di The Tribrata, Jalan Dharmawangsa III, Jakarta Selatan, Selasa (19/11).   

Di satu sisi, Asian Development Bank (ADB) melaporkan bahwa sekitar 9,8% dari populasi Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan pada 2018. Akses kepada sumber makanan di Indonesia juga tidak merata berdasarkan data World Food Program.

World Food Program juga melaporkan hal itu dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kemiskinan dan kurangnya infrastruktur.  Tingginya harga pangan dengan harga beras 50% sampai 70% lebih mahal jika dibandingan dengan negara-negara tetangganya. Dampaknya, 19,4 juta jiwa dari penduduk Indonesia tidak mencapai kebutuhan pangan mereka.

“Keuangan sosial Islam yang menganjurkan ekonomi bersama dan mendorong redistribusi diharapkan mampu memainkan peran penting dalam membantu meraih tujuan pengembangan oleh Bank Dunia untuk mengakhiri kemiskinan global pada tahun 2030,”ujar Salina .

“Institusi dan instrumen dari keuangan sosial Islam berakar dari redistribusi dan kedermawanan, yang meliputi qard al hasan, zakat, dan sedekah, mampu memenuhi kepentingan dasar dari kaum miskin dan membentuk keamanan sosial,” paparnya. (OL-09)

BERITA TERKAIT