24 November 2019, 07:10 WIB

Staf Khusus Milenial Jangan cuma Kemasan


Abdillah Muhammad Marzuqi | Politik dan Hukum

MI/Susanto
 MI/Susanto
Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh

PENGANGKATAN Staf Khusus (Stafsus) Presiden dari kalangan milenial disebut sebagai salah satu indikasi dari praktik kekuasaan pasca-Jawa oleh Presiden Joko Widodo.

Praktik kekuasaan model ini digambarkan tidak lagi berbasis senioritas dan unggah-ungguh, tetapi lebih berorientasi pada kompetensi. Karena itu, seusai diberikan kesempatan oleh Presiden Jokowi, para stafsus milenial harus memperagakan kinerja dan kompetensi sehingga keberadaan mereka di ring satu istana pun memberikan benefit nyata bagi peningkatan kualitas kebijakan publik. Bukan sekadar gimmick dan kemasan.

Itulah benang merah pandang­an pengamat politik Fachry Ali dan jubir PKS Muhammad Kholid yang berkomentar secara terpisah terkait pengangkatan tujuh staf khusus dari kalangan milenial dalam periode kedua pemerintahan Jokowi.

Fachry Ali mengemukakan analisis seusai peluncuran buku Indonesia Pasca-Jawa dan Peluncuran Sekolah Ekonomi Politik Suropati Syndicate di Jakarta, Sabtu (23/11).

Sumber: Tim Riset MI/Foto:ANTARA

 

Ia menegaskan bahwa pengang­katan stafsus milenial dapat menjadi gambaran tentang sikap dan orientasi Jokowi yang tidak lagi berkutat pada ide, tetapi bergeser pada isu lebih taktis, yakni bagaimana cara mencapai tujuan. Ekspektasi Jokowi atas keberhasilan untuk meraih tujuan itu pun dinilai tinggi.

Karena itu, Fachry Ali sepen­dapat dengan dorongan yang mengharuskan para stafsus milenial tidak bekerja paruh waktu. “Seharusnya mereka full (penuh waktu),” tegas dia.

Dengan bekerja full time, kaum milenial dapat menunjukkan kompetensi dan kinerja sesungguhnya setelah mereka diberikan kesempatan bagus masuk ke penentu kebijakan publik.

Muhammad Kholid meminta pengangkatan Stafsus Presiden dari karangan milenial dapat meme­ngaruhi kebijakan Presiden Jokowi dalam menentukan kebijakan, terutama bagi kepentingan anak muda di bidang ekonomi.

“Sebanyak 64% milenial dinilai kurang puas dengan kebijakan ekonomi saat ini karena berdampak langsung. Youth and employment (pengangguran) tinggi sekali,” cetus Kholid, Sabtu (23/11).

Paralel dengan angka pengang­guran yang didominasi lulusan SMK, menurut Kholid, para stafsus milenial harus mampu memberikan masukan kepada Presiden terkait kebijakan untuk mengatasi hal itu sehingga ada solusi yang dirasakan oleh masyarakat, terutama kalangan milenial. “Jadi, semoga pengang­katan mereka bukan hanya sekadar gimmick.”

 

Transformasi

Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menilai keputusan Presiden mengangkat stafsus milenial menjadi bukti pemerintahan Jokowi tengah mempersiapkan transformasi regenerasi. “Pengangkatan stafsus milenial oleh Presiden betul-betul mempersiapkan transformasi regene­rasi,” ujar Surya di Surabaya, Sabtu (23/11).   Kebijakan itu, kata dia, patut didukung agar dalam menjalankan tugas mampu memberikan yang terbaik. Menurut Surya, keberadaan stafsus milenial tidak jauh berbeda dengan memberi kesempatan kepada anak-anak muda belajar sekaligus teman diskusi Presiden yang memang membutuhkan masuk­an milenial. “Kalau di sekolah dan kampus, namanya magang. Namun, ini kesempatan resmi, yakni sebagai staf khusus. Saya pikir ini satu kebijakan yang memang patut diapresiasi.”   

Stafsus Presiden, Aminuddin Ma’ruf, membenarkan ia tidak memiliki office hours atau jam kerja. Namun, hal itu akan dimanfaatkan untuk membuka ruang diskusi dengan pemuda dan masyarakat. “Senin sampai Jumat menyebar diskusi dengan pemuda, santri, aktivis, dan lainnya,” ungkap Aminuddn. (Iam/Ant/X-6)Abdillah Muhammad Marzuqi

 

BERITA TERKAIT