24 November 2019, 07:00 WIB

Abracadabra, Ilusi Pembuka yang Memukau


Ardi Teristi Hadi | Weekend

DOK. FOURCOLOURS FILM
 DOK. FOURCOLOURS FILM
Film yang tayang perdana di JAFF 2019 ini mengajak penonton ke dunia sureal dengan adegan-adegan bak teka-teki.

HARI itu berita menggemparkan muncul di dunia pesulap. Seorang pesulap nomor satu memberi kejutan. Ia mengumumkan mundur dari panggung ilusionis. Namun, sebelum pensiun, ia ingin menampilkan trik sulap legendaris yang belum pernah ia mainkan sebelumnya.

Di panggung, pesulap bernama Lukman (Reza Rahadian) tersebut memanggil seorang relawan untuk maju ke depan. Tak berapa lama kemudian, seorang bocah maju dan bersedia membantu trik sulap yang akan dipertunjukkan.

Sang anak diminta masuk ke sebuah kotak. Dengan mantra abrakadabra, anak tersebut menghilang. Tepuk tangan pun bergemuruh. Namun, di luar dugaan, ketika Lukman hendak mengembalikan anak tersebut, ia gagal. Mantra abrakadabra tidak mampu berfungsi.

Situasi menjadi panik. Beberapa pesulap yang hadir mencoba membantu, tetapi tidak berhasil.Teka-teki untuk menguak hilangnya anak lelaki pun dimulai. Apalagi bukan hanya bocah tersebut yang hilang, ibunya pun turut lenyap dari dalam kotak sulap.

Cerita semakin menarik karena kotak yang digunakan pesulap bukanlah kotak sembarangan, melainkan kotak sulap legendaris. Kotak itu bernama Yggdrasil. Konon, kotak tersebut dulunya milik pesulap legendaris bernama Herbert Nivell. Pada era Nazi, Nivell menggunakannya untuk 'melarikan' orang-orang dari kamp konsentrasi di Auschwitz. Mereka menghilang ketika masuk ke kotak ajaib. Setelah perang berakhir, kotak itu kemudian hilang dicuri.

Seusai pertunjukan pamungkas yang menggegerkan itu, Lukman pergi ke lain kota bersama kotak ajaib tersebut. Namun, perempuan-perempuan misterius kemudian bermunculan dari kotak tersebut. Siapa mereka? Dan bagaimana akhir misteri hilangnya sang bocah?

Cuplikan kisah tersebut merupakan bagian dari film Abracadabra karya Faozan Rizal--sutradara Habibie dan Ainun (2012) yang menjadi pembuka Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2019, pertengahan pekan ini. Sepanjang 86 menit, film drama fantasi surealis dengan sentuhan komedi satir tersebut mengusik rasa penasaran penonton.

Dunia surealis Abracadabra sendiri secara visual terbangun lewat palet warna film yang sedikit banyak mengingatkan kepada film Moonrise Kingdom besutan Wes Anderson. Elemen itu diperkuat dengan desain kostum yang sebagian ada rasa-rasa zaman Great Gatsby--tata rias, dan set tempat yang 'anonim'. Namun, ada saatnya Abracadabra tampil dengan gambar monokrom dan adegan bak film bisu ketika menceritakan flashback.

Visualisasi Abracadabra tersebut bersenyawa dengan plot walau punya unsur komedi, relatif kompleks, dan adegan-adegan yang sarat teka-teki. Hasilnya ialah film yang membuat penonton melarung dalam dunia ilusi.
Film yang diproduksi Fourcolours Film bersama Hooq dan Ideosource itu juga menampilkan sederet aktor dan aktris kawakan. Selain Reza, ada Butet Kartaredjasa, Egy Fedly, Salvita Decorte, Asmara Abigail, Jajang C Noer, dan Lukman Sardi.

Pemilihan film Abacadabra sebagai film pembuka JAFF 2019 merupakan atas pertimbangan yang matang. Presiden Festival JAFF Budi Irawanto mengatakan, film Abracadabra sesuai dengan tema JAFF tahun ini, yaitu tentang revival (kebangkitan). Tema itu merefleksikan secara lebih dalam kekayaan sejarah dan peradaban Asia.

"Film Abracadabra tentang tukang sulap mengajak kita kembali melihat sejarah film," kata dia. Film dulu dipandang semacam sulap, sebuah permainan ilusi yang memukau, tetapi tidak membohongi. Artinya, walaupun cerita film diangkat dari kisah nyata, toh film yang dihasilkan tersebut merupakan ilusi.

Ke-14
Abracadabra merupakan satu dari 113 film dari 28 negara Asia yang diputar sepanjang JAFF 2019, 19-23 November 2019. Film-film tersebut merupakan hasil kurasi dari sekitar 500 film yang masuk ke JAFF.

Pada 2019 ini, JAFF telah memasuki tahun ke-14. Budi mengatakan, setelah tahun ke-10, lanjut dia, JAFF telah menemukan identitasnya. "Sejak awal ingin mempromosikan film-film Asia yang selama ini tidak dikenal, bahkan oleh masyarakat di Asia sendiri," kata dia.

Padahal, banyak negara yang kurang dikenal, film-filmnya ternyata memiliki industri perfilman yang luar biasa. Misalnya, tahun lalu JAFF memperkenalkan industri film di Kyrgyzstan. Untuk tahun ini, JAFF ingin menunjukkan ada industri film di India selain di Mumbai atau Bolywood, yaitu di Bengali. Ada pula film-film di negara-negara kawasan Asia Tenggara yang bagus, tetapi tidak banyak yang tahu, seperti film dari Kamboja.

Menurut dia, menghadirkan film-film yang selama ini tidak banyak diketahui ke publik sangat penting. Pasalnya, film, jelas dia, the politic of visible, sesuatu yang tampak dan terlihat sehingga akan mampu menampakkan dampak politisnya.

Beragam program dihadirkan, dari Layar Klasik, pelatihan teknis perfilman, hingga pemutaran film di desa-desa. Pada tahun ini, film yang diputar ialah Surat untuk Bidadari karya Garin Nugroho dan Ugetsu karya Kenji Mizoguchi.

JAFF sekaligus acara yang menghidupi komunitas-komunitas film yang ada di Tanah Air lewat forum komunitas. JAFF menjadi platform bagi pembuat film independen memperoleh ruang untuk mengekspresikan karya mereka dan mendapatkan apresiasi, baik dari penonton, kritikus film, maupun sineas lain.

Para pencinta film dan pegiat komunitas film juga mendapat ruang untuk mengikuti edukasi film dari para ahli. Mereka bisa belajar terkait aspek-aspek teknis dalam film, dari tentang kamera, akting, budgeting, hingga distribusi.

Pemutaran film di desa-desa sehingga semua orang mempunyai akses untuk menonton film. "Film yang dipilih merupakan hasil kurasi, yaitu film yang membawa nilai pluralitas dan toleransi," kata dia.

Budi berharap, ke depan film-film di Asia tetap memiliki warna beragam dan mampu mengartikulasikan keberagaman persoalan kultur dan ekspresi. Kekayaan sejarah dan budaya di Asia membuat film Asia memiliki kekhasan.

Direktur Festival JAFF Ifa Isfansyah mengajak semua pihak memberi masukan, kritikan terhadap JAFF, agar lebih baik lagi di tahun depan. "Sudah waktunya untuk JAFF memperkuat komunitas yang terbentuk karenanya, tapi bukan komunitas namanya jika hanya mengambil manfaatnya, tapi tidak ingin menghidupinya," pungkas dia. (M-2)

 

BERITA TERKAIT