24 November 2019, 06:00 WIB

Menulis untuk Salurkan Energi


Try/M-3 | Weekend

MI/ADAM DWI
 MI/ADAM DWI
Nova Riyanti Yusuf, Psikiater

DI sela berbagai jadwal seminar, menjadi pembicara, sekaligus melayani pasiennya, Psikiater Nova Riyanti Yusuf yang akrab disapa Noriyu, sedang menyelesaikan buku terbarunya. Buku yang membahas seniman yang bunuh diri itu direncanakan terbit pada Desember mendatang.

"Saat ini sedang menulis buku tentang bunuh diri berdasarkan tesis dan disertasi. Saya pernah buat tesis tentang dua pelukis bunuh diri, yang saya lakukan autopsi psikologis. Jadi, berusaha membedah hidupnya, tapi orangnya sudah meninggal," cerita dokter Noriyu di Jakarta, Jumat (1/11).

Dalam proses pendalamannya, Noriyu mewawancari keluarga dan teman pelukis yang berada di Yogyakarta. Ia juga meneliti dan menganalisis lukisan dengan metode triangulasi. Ditambah lagi, ia meminta bantuan dari psikiater asal Australia yang ahli dalam analisis lukisan dan melibatkan kurator seni.

Penelitian tersebut dia lakukan untuk melihat kerentanan kejiwaan pada kalangan seniman. Apalagi sekarang banyak orang bergerak di bidang kreatif. "Itu ternyata kerentanannya lebih tinggi secara teoritis, makanya saya teliti," ujarnya.

Mereka yang bekerja di bidang kreatif, seperti pelukis dan iklan, butuh energi lebih besar. Pasalnya, waktu kerja mereka sering tidak mengenal batas.

Dari hasil wawancara itu, Noriyu mendapatkan gambaran mengenai perilaku si pelukis yang ke arah manik, bagian dari bipolar. Dia melihat ada perubahan dalam gaya melukis seniman tersebut, yang mana saat kondisi sehat atau kondisi manik sampai kondisi menjelang bunuh diri.

"Setelah saya wawancara, ternyata saat melukis dia selalu senang, berdandan, bernyanyi, energinya seperti tidak habis-habis. Waduh, sebenarnya itu ada gambaran manik, bipolar. Saya tidak mengatakan profesinya membuat dia seperti itu. Namun, tuntutan pekerjaan dia yang harus bekerja panjang, perilaku yang ditampilkan itu saru dengan sebenarnya dia sedang menampilkan gejala," ujar Noriyu.

"Orang melihat dia hebat energi banyak melukis sampai malam. Sebenarnya, dalam fase hidup telah ada episode-episode itu. Itu yang membuat seniman menjadi rentan secara teoritis. Itu akan dibukukan, dilanjutkan disertasi saya tentang pencegahan bunuh diri remaja."

Menulis ternyata menjadi sarana Noriyu menyalurkan pemikiran ide. Tidak jarang dia menulis di beberapa harian surat kabar untuk menyuarakan pemikirannya mengenai awareness ketahanan jiwa.

"Menulis itu juga buat saya menyalurkan pemikiran dan energi. Kenapa saya membuat penelitian tentang bunuh diri pelukis, karena dahulu saya masih sangat penulis sekali, skenario film dan lainnya. Akhirnya, saya penasaran yang personal sekali, benar tidak seniman ada kecenderungan. Karena saya juga butuh energi besar, meski sekarang saya sudah lebih mengatur waktu," ujarnya.

Pada seniman, termasuk pelukis dan penulis, kata Noriyu, ada bahasa-bahasa simbolis yang bisa muncul di dalam karya. Bahasa simbolis itu yang terkadang butuh keluar atau diungkapkan.

"Makanya kenapa karya seni itu suka simbolisasi. Itulah yang sulit membedakan seniman lagi melakukan bahasa simbolisasi atau memang murni kreativitas," tuturnya.

Namun, dia tekankan penyaluran energi ke arah yang positif itu penting dan baik bagi manusia. "Bisa dalam bentuk menulis, melukis atau yang lagi ramai, seperti olahraga lari. Sekarang berapa banyak yang lari dari kenyataan dengan maraton. Itu lebih positif. Itu penting buat orang menyalurkan energinya," tukas Noriyu. (Try/M-3)

 

BERITA TERKAIT