24 November 2019, 03:00 WIB

Memburu Diri untuk Karya Seni


(Gas/M-4) | Weekend

MI/GALIH AGUS SAPUTRA
 MI/GALIH AGUS SAPUTRA
Hanura Hosea tengah memberikan pengarahan kepada peserta lokakarya Buru Diri, di Galeri Kertas Studio Hanafi , Depok, Jawa Barat, Selasa (12

KARYA ialah hasil sebuah kerja dengan tangan dan dari situ lah sebuah karya akan lebih mudah dilihat jejaknya. Itulah mengapa setiap coretan selalu punya alasan. Ia tidak mulai dari nol. Ada sesuatu yang digagas, ingin disampaikan, kemudian memburu diri secara praksis.

Pandangan tersebut dikutip dari pernyataan seorang perupa, Hanura Hosea. Pria kelahiran Wates yang kini menetap di Jerman itu beberapa waktu lalu memberikan lokakarya Buru Diri, yang berlangsung di Galeri Kertas Studio Hanafi, Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat.

Lokakarya Buru Diri itu diselenggarakan sebagai salah satu bagian dari pameran tunggal Hanura Hoesa yang dikemas dalam tajuk Alihan. Melalui lokakarya itu, Direktur Studio Hanafi, Hanafi Muhamad selanjutnya mengatakan bahwa harapannya Galeri Kertas dapat memberikan fasilitas bagi generasi muda untuk berkreasi dan tentunya untuk merawat kecintaan mereka terhadap dunia seni.

Hal itu perlu dilakukan, lantaran menurut Hanafi, saat ini minat anak muda terhadap dunia seni sangat tinggi. Oleh karena itu, ia tidak cukup jika hanya ditampung melalui institusi pendidikan formal. "Ini menjadi semacam alternatif dan yang dipelajari juga bukan hanya mengutip atau menduplikasi yang formal saja. Hal-hal yang terlewat juga dipelajari sehingga nanti tidak ada lagi perbedaan-perbedaan atau pembandingan di antara keduanya," imbuhnya, saat ditemui Media Indonesia, di Galeri Kertas Studio Hanafi, Selasa (12/11).

Sementara itu, lokakarya Buru Diri sendiri berlangsung sejak 12 hingga 17 November. Kegiatan itu diikuti empat peserta dengan latar belakang atau minat berkesenian masing-masing. Mereka terpilih seusai melewati tahap seleksi yang telah dibuka beberapa saat sebelumnya.

Salah satu peserta, Ivan Oktavian dimentori Hosea untuk mengembangkan potensinya di bidang seni rupa murni dan menggambar (drawing). Sementara peserta lainnya, Faris Abulkhair dipandu dalam hal desain grafis. Susilo Nofriadi dipandu untuk mengeskplorasi seni dan fotografi, sedangkan Dimas Islmail Muhammad pada kesempatan ini dibimbing untuk mendalami kreasinya di ilustrasi dan komik.

Meski belum dapat banyak bicara karena peserta masih berproses dengan karya masing-masing, Hosea selaku mentor lokakarya mengatakan bahwa pada kesempatan ini mereka memiliki antusiasme yang sangat besar untuk menggarap tema yang diberikan. Baginya hal itu menjadi langkah awal yang cukup bagus, khususnya bagi anak muda yang tengah bergelut atau memulai karyanya.

Mengenali potensi
Menyoal tema, Hosea mengatakan bahwa Buru Diri ditentukan berdasarkan curahan hati sejumlah anak muda yang datang di beberapa sesi bincang sebelumnya. Kala itu, sebagian besar dari mereka mengaku selalu gelisah dengan teknik dan karya, yang bagi Hosea sendiri cukup wajar karena kerap dialami siapa saja saat mulai berkarya.

"Dari situ saya lalu mempunyai ide untuk memburu diri sendiri atau mengenali potensi masing-masing. Menurut saya, itu yang paling susah. Kita pun yang sudah tua seperti ini, kadang-kadang juga masih susah untuk melakukannya. Apalagi tidak selalu ada eksekusi yang baik dalam mengenali diri, karena diri ini selalu berkembang. Meskipun kita bisa mendekati dengan keraguan, tetapi justru itu yang membuatnya semakin menarik," tuturnya.

Dalam berkarya, Hosea mengatakan bahwa dirinya juga selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu. Sebelumnya ia lebih banyak mengeksplor pensil dan tinta cina, namun demikian, belakangan ia sedang merasakan lompatan dengan cat minyak. Hal itu kemudian menjadi kenikmatan tersendiri baginya, khususnya sebagai jalan yang ia tempuh secara praksis dalam berkesenian.

Sementara itu, terkait proses berkarya, Hosea mengharapkan semua peserta dapat menikmatinya. Sembari bertukar pikiran satu sama lain, mereka juga dapat mengambil berbagai macam dinamika untuk dieksekusi sebagai sebuah karya. Begitu banyak persoalan yang ada di sekitarnya, mulai dari masalah rutinitas, kerja, hingga asmara.

"Masalah teknis, mereka juga tidak terlalu bermasalah sepertinya. Mereka sudah belajar dari waktu ke waktu. Hanya saja, apa yang selama ini mereka yakini enak, saya coba geser sedikit ke sana-sini. Cobalah ini, cobalah itu, karena mereka ini masih muda, masih banyak kesempatan untuk bereksperimen. Itu yang selalu saya bicarakan kepada mereka," imbuh Hosea.

Dalam menyoal hasil karya, Hosea selanjutnya mengatakan bahwa dirinya selalu mengedepankan pikiran terbuka. Baginya, seni itu layaknya sebuah ekspresimen untuk mencapai suatu hal yang bisa saja berhasil atau sebaliknya. Berkenaan dengan pameran, Hosea juga belum terlalu memikirkannya, karena setiap orang memiliki kehendak masing-masing. "Kalau mau pameran ya pameran. Tetapi, kalau tidak ya tidak apa-apa. Coba lagi, coba lagi. Terus saja seperti itu. Nikmati prosesnya," tutup Hosea. (Gas/M-4)

 

 

 

BERITA TERKAIT