23 November 2019, 23:00 WIB

Bakar-bakaran ala Warung Jepang


Fetry Wuryasti | Weekend

 MI/ BARY FATHAHILAH
  MI/ BARY FATHAHILAH
Aneka makanan bakar-bakaran

MENYANTAP yakiniku saat cuaca dingin tentunya menghangatkan perut kosong dan hati Anda. Apalagi menyantap yakiniku di tempat yatai alias warung angkringan tenda ala Jepang. Konsep street food asal ‘Negeri Matahari Terbit’ itu menjadi inti dari Tanpopo yang hadir di Jakarta sejak 2016.

Warung yang pertama kali dibuka di Gandaria ini milik tiga orang yang mengadaptasi dan belajar langsung dari Jepang. Bahkan, diawal buka mereka menggunakan juru masak khusus dan membuat pakem bumbu dan racikannya.

"Tanpopo Jakarta memiliki tiga cabang, di Gandaria dan Pluit yang warung tenda bongkar pasang. Cabang terbaru dibuka sejak September 2019 di Tebet, Jakarta Selatan. Dengan ingin benar-benar seperti warung tenda Jepang, kami buka dari pukul 18.00, tutup 01.00 WIB," ujar supervisor restoran Suci Herawati di Jakarta, Jumat (8/11). Tidak semata tampilan warung, para juru masak dan pelayan pun menggunakan outer ala Jepang.

Yakiniku menjadi hidangan andalan di sini. Autentisitas Jepang pun dipertahankan dalam cara bersantap seperti penggunaan jejaring panggangan dengan pemanas arang yang membara. Selain itu, makanan di sini menggunakan harga per piring.

"Alasannya porsi makan setiap orang tentu berbeda, pilihan makanan mereka masing-masing beda. Maka harga makanannya dihitung per piring untuk meleluasakan mereka menentukan makanan yang hanya ingin mereka makan," jelas Suci.

Pilihan daging yang paling disukai di sini, antara lain tenderloin harami beef yakiniku yang disediakan dengan ukuran daging steik sekitar 100 gram-150 gram (Rp80ribu), irisan 8 lembar short rib yang juicy (Rp35ribu), dan chicken basil yang segar (Rp35 ribu).

Selain daging, ada sejumlah seafood yang pas dibakar di atas arang, seperti salmon, gindara, udang, dan cumi-cumi. Untuk boga bahari ini tersedia dalam porsi per piring dengan harga Rp15 ribu-Rp60 ribu dan satai atau hamayaki, dari harga Rp15 ribu-Rp35 ribu.

Subjektif
Berbicara rasa, bisa dibilang cukup subjektif. Bagi para pengunjung yang terbiasa dengan aneka saus, bumbu, dan variasi kecap mungkin akan kecewa. Pasalnya, celupan yang disediakan hanya kecap yakiniku asam dan manis. Jadi, bagi penikmat daging steik tenderloin akan terasa 'kering'.

Sebaliknya, bagi penikmat daging merah, Anda bisa merasakan empuk dan gurihnya daging karena termarinasi dengan baik, sedangkan rasa seafood-nya masih manis dan segar. Nah untuk penikmat cumi-cumi, Anda bisa memotong sendiri satu ekor cumi berukuran besar.

Satu hal yang perlu dicermati, karena membakarnya menggunakan arang, tingkat panas bara tidak bisa dikendalikan. Anda harus benar-benar mencermati tingkat kematangan yang diinginkan. Lengah sedikit, daging, ayam, atau ikan yang Anda bakar akan hangus. Seperti ikan gindara, bila dipanggang dengan benar dan sedikit gosong di luar, rasanya akan manis.

"Untuk daging, pembakarannya akan lebih cepat dibandingkan ayam. Karena kita harus memastikan bagian dalam ayam juga matang, tidak sekadar lapisan luarnya," kata Suci.

Berbeda bila Anda memesan satai atau hamayaki. Sebelum disajikan, juru masak akan membakarnya terlebih dahulu. Pasalnya, ukuran pembakaran di meja tamu tidak cukup besar untuk menampung yakiniku dan hamayaki sekaligus.

Pilihan makanan lainnya ada beef maki. Hidangan ini berupa nasi kepal dengan tusuk sate dan dibungkus daging sapi yang tipis. Rasa dagingnya gurih dengan tekstur sangat lembut. Nasi di dalamnya tawar, tetapi cukup pulen. Rasanya akan lebih enak jika dimakan menggunakan saus soyu.

Ramen
Tidak semata yakiniku, ada pilihan kuah berupa ramen shabu. Mi yang digunakan memang mi ramen, tapi dengan kuah shabu orisinal. Rasa kaldu sapi sangat terasa dari kuah berwarna putih, semakin lengkap dengan sayuran dan irisan short rib.

Dalam penyajiannya, hidangan ini hadirkan panci yang dimasak di dapur. Cara ini dipilih mereka karena tamu banyak yang meminta kuah sudah mendidih saat sampai di meja.

Panci tersebut akan digantung di atas daing dan bakaran arang dengan jarak 10-15 sentimeter (cm). Panas dari arang akan mempertahankan panas panci dan mendidihkan kuah ramen.  

Satu porsi ramen shabu ini cukup banyak, bisa dibagi untuk 3-4 orang. Dagingnya pun melimpah dengan kuah gurih dan sayuran segar. Sebaiknya ramen ini segera disantap, soalnya kalau terlalu lama didiamkan akan membuat mi lembek dan rasa kurang pas.

Selain itu, tersedia teppanyaki yang dimasak sang koki. Pilihan isinya bisa menggunakan chicken basil atau beef rib teppan. Daging tersebut akan mereka iris-iris dan ditumis bersama tauge, kol, dan wortel, lalu disiram dengan saus yakiniku asin.

Pada hidangan penutup, mereka menyediakan es krim goreng bernama crepe suzzete. Es krim vanila ini dibalut ke dalam lembaran crepes tortilla, lalu diberikan taburan gula di bagian kulit dan dibakar hingga menjadi karamel keras. Kulit crepes panas bercampur es krim vanila dingin memberi campuran rasa yang enak. Namun, ingat, mendiamkannya terlalu lama akan membuat es krim lekas mencair. (M-3)

 

BERITA TERKAIT