23 November 2019, 19:01 WIB

Stafsus Bukan Pekerjaan Sambilan, Mestinya jadi Pembuktian Diri


Abdillah Muhammad Marzuqi | Politik dan Hukum

MI/ BARY FATHAHILAH
 MI/ BARY FATHAHILAH
Pengamat politik Fachry Ali

PENGAMAT politik Fachry Ali mengungkapkan bahwa seharusnya Staf Khusus Presiden (Stafsus) tidak bekerja paruh waktu. Hal itu terkait dengan pengangkatan Stafsus dari kalangan milenial yang bekerja paruh waktu dengan gaji Rp51juta.

"Seharusnya mereka full (penuh waktu)," terangnya saat ditemui usai peluncuran buku Indonesia PascaJawa dan Peluncuran Sekolah Ekonomi Politik Suropati Sundicate di Jakarta (23/11).

Menurutnya, banyak kalangan milenial yang menilai bahwa pengangkatan mereka adalah kesempatan bagus untuk membuktikan diri bahwa milenial bisa masuk dalam penentu kebijakan publik.

"Apalagi ada yang mengatakan, dari kalangan milenial, inilah kesempatan anak-anak muda masuk dalam kebijakan publik," pungkasnya.

Baca juga: Staf Khusus bukan Aksesori

Menurutnya, selama ini jarang ada orang yang ditunjuk untuk menduduki jabatan publik ketika usianya masih tergolong muda. Hal itu berubah ketika era Presiden Jokowi yang banyak memasukkan anak muda untuk mengurusi pemerintahan.

"Jadi disamping senioritas, unggah-ungguhnya juga ada. Tentu kemudian adalah kompetensi. Sedangkan Jokowi benar-benar (menunjuk anak muda)," tegasnya.

Fachry Ali juga mengungkapkan bahwa pengangkatan Stafsus Milenial juga menjadi gambaran sikap dan orientasi presiden yang tidak lagi berkutat hanya pada persoalan ide, tetapi bergeser pada persoalan yang lebih taktis yakni bagaimana cara mencapai tujuan.

"Itu artinya dia orientasinya itu tidak lagi pada soal ide, soal etiket kekuasaan. Jokowi tidak lagi berbicara tentang etiket kekuasaan. Tetapi bagaimana dia mencapai tujuannya dan dengan siapa dia akan mencapai.

Dengan pertanyaan itulah muncul tokoh-tokoh milenial yang umurnya 23 tahun," pungkasnya.(OL-4)

BERITA TERKAIT