23 November 2019, 14:00 WIB

Layani Kesehatan di Wilayah 3T dengan Rumah Sakit Apung


Rifaldi Putra Irianto | Humaniora

ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma
 ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma
Anak Buah Kapal (ABK) mempersiapkan RS Apung dr Lie Dharmawan saat acara peresmian di Dermaga Pantai Mutiara, Jakarta Utara

RISET Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menampilkan data hampir 63% masyarakat menyatakan akses untuk mendapatkan layanan kesehatan di Rumah Sakit masuk kedalam katagori sulit dan sangat sulit. Sementara 60,8% masyarakat Indonesia kesulitan mengakses layanan kesehatan primer seperti puskesmas dan klinik.

Seraya membantu masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan, Yayasan Dokter Peduli atau akrab dikenal dengan DoctorShare, organisasi kemanusiaan nirlaba yang memfokuskan diri pada pelayanan kesehatan dan bantuan kemanusiaan, sudah 10 tahun ikut andil menyediakan akses bantuan medis secara holistik, independen dan imparsial untuk orang-orang yang paling membutuhkan, khusunya untuk wilayah yang dikategorikan Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T).

"Memang sudah selayaknya masyarakat di Indonesia mendapatkan layanan kesehatan yang sama. Masyarakat di kota maupun di pedesaan harus mendapat layanan kesehatan yang layak. Ini bukan hanya menjadi tugas pemerintah, melainkan tugas kita bersama untuk mewujudkannya," kata Pendiri DoctorShare, Lie Dharmawan, di Jakarta, Sabtu (23/11).

Baca juga: Menhub: RS Terapung Beroperasi Agustus 2019 di Perairan Sumenep

Menjawab tantangan pelayanan kesehatan di Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar, DoctorShare menyediakan program Rumah Sakit Apung untuk tetap dapat membantu masyarakat di wilayah 3T.

"Untuk dapat melayani wilayah 3T kita memiliki program RSA (Rumah Sakit Apung) dan fasilitasnya tak kalah dengan Rumah Sakit lainnya. Di RSA kita ada poliklinik, IGD, Laboratorium, peralatan x-ray, kamar bedah, bahkan kita menyediakan 44 tempat tidur untuk pasien yang memang harus di rawat," imbuhnya.

Lie menceritakan salah satu tantangan yang pernah dialaminya saat turun langsung di wilayah 3T yakni kurangnya edukasi dan informasi masyarakat mengenai bedah sesar.

"Misalnya saya pernah bertugas di salah satu wilayah 3T, ada 5 calon ibu yang sudah saatnya melahirkan dan saat diperiksa kesehatan mereka harus dilakukan pembedahan sesar, tapi karna kepercayaan mereka yang keliru mengenai bedah. Mereka menganggap pembedahan akan mengakibatkan kematian, mereka kabur semua," tuturnya.

"Ini yang kemudian membuat saya memberikan edukasi mengenai informasi kesehatan dan alhamdulillah lima-limanya sudah melahirkan dengan baik," ucapnya.

Sementara itu, Direktur Pelayanan Kesehatan Primer Kementerian Kesehatan, Saraswati, mendukung penuh program-program yang telah dilakukan DoctorShare dan berharap program ini dapat terus berjalan.

"Tentunya kami menyambut baik, karena kami gak mungkin bekerja sendiri. Apa yg sudah dilakukan DoctorShare dapat disebut bukti nyata. Itu yang saat ini banyak kita harapkan pada private sektor memiliki andil dalam melayani masyarakat," ucap Saraswati.

Ia juga menyebutkan program ini membantu komitmen pemerintah untuk membawa perubahan dunia di tahun 2030.

"Indonesia menjadi salah satu dari 193 negara yang berkomitmen untuk membawa perubahan dunia di tahun 2030. Komitmen tersebut tertuang dalam Sustainable Development Goals (SDGs), kesehatan menjadi salah satu poinnya. Pada butir ketiga SDGs disebutkan membentuk kehidupan yang sehat dan mendukung kesejaheraan bagi seluruh masyarakat, ini tentunya sangat membantu pemerintah untuk mencapai itu," tutur Saraswati.(OL-5)

BERITA TERKAIT