23 November 2019, 07:25 WIB

Indonesia Berupaya Bebaskan 3 Nelayan


Uca/Ant/X-11 | Internasional

Al Jazeera/Medcom.id
 Al Jazeera/Medcom.id
Ilustrasi -- Kelompok militan Abu Sayyaf yang bermukim di Filipina Selatan. 

PEMERINTAH Indonesia terus berkoordinasi dengan otoritas Malaysia dan Filipina untuk membebaskan tiga nelayan Indonesia yang disandera kelompok Abu Sayyaf.    

Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (PWNI dan BHI) Kementerian Luar Negeri, Judha Nugraha, menyampaikan hal itu terkait rekaman video dari ketiga WNI soal permintaan uang tebusan yang diunggah di media sosial akhir pekan lalu.

“Kami sedang berkoordinasi dengan otoritas Malaysia dan Filipina untuk upaya pembebasan sandera tersebut,” tutur Judha di Jakarta, kemarin.

Mereka bernama Maharudin Lunani, 48, bersama anaknya, yaitu Muhammad Farhan, 27, dan sepupu Farhan bernama Samiun Maneu, 27. “Kami bekerja di Malaysia. Kami ditangkap kelompok Abu Sayyaf pada 24 September 2019. Kami harap bos kami membantu kami untuk bebaskan kami,” kata Samiun dalam video itu. Ia juga menyebut kelompok itu meminta uang tebusan 30 juta peso atau sekitar Rp8 miliar.        

Media Malaysia, The Star, melaporkan bahwa kelompok Abu Sayyaf menangkap Maharudin, Farhan, dan Samiun ketika ketiganya tengah melaut dan memancing udang di Pulau Tambisan, Lahad Datu, Sabah, Malaysia. Kawasan itu bisa dicapai dalam beberapa jam menggunakan perahu dari perbatasan Malaysia-Filipina, yaitu Provinsi Tawi-tawi, Fili­pina.

Dilaporkan bahwa dua kapal kecil merapat dari bagian burit­an dan tujuh orang bertopeng dengan senapan menaiki kapal tersebut sekitar pukul 23.58 waktu setempat.

Perairan tersebut memang dikenal rawan pembajakan dan penyanderaan oleh kelompok bersenjata dari selatan Filipina, seperti Abu Sayyaf.

Komisaris Kepolisian Negara Bagian Sabah, Omar Mammah, mengatakan, berdasarkan informasi yang didapat dari otoritas Filipina, sang penculik telah meminta tebusan serupa kepada pihak keluarga beberapa hari setelah penyanderaan terjadi. Meski begitu, Omar enggan mengatakan jumlah tebusan yang diminta penyandera. (Uca/Ant/X-11)

BERITA TERKAIT