23 November 2019, 08:00 WIB

Membangun Ekosistem Bermutu lewat Kompetensi Pendidik


mediaindonesia.com | Humaniora

ANTARA
 ANTARA
Sejumlah guru madrasah mengikuti ujian seleksi akademik Pendidikan  Profesi Guru (PPG) berbasis komputer di Sekolah MAN 1 Aceh Barat, Aceh.

DI tengah masifnya perubahan dan modernisasi hingga digitalisasi di semua bidang, dunia pendidikan pun dituntut untuk terus beradaptasi terhadap tuntutan zaman. Tenaga pendidik saat ini memiliki peran besar untuk terus memberikan inovasi dalam setiap pembelajaran mereka.

Namun, hal tersebut tidak bisa serta-merta muncul begitu saja tanpa upaya perbaikan dan penyempurnaan yang terus-menerus. Oleh sebab itu, ekosistem dibutuhkan untuk mendorong peningkatan kualitas pendidikan dan kompetensi dari pendidik itu sendiri

Direktur Pembinaan Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Santi Ambarukmi mengatakan kepala sekolah memainkan peran yang penting untuk menjadi dirigen orchestra dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang bermutu dan inovatif. “Kepala sekolah ibarat ujung tombak dari segala kebijakan kependidikan di unitnya masing-masing. Untuk itu, kepala sekolah harus memiliki kompetensi memadai untuk menggerakkan dan mengembangkan semua potensi di sekolah,” tutur Santi kepada Media Indonesia, Rabu (20/11).

Sebagai informasi, Permendikbud No 6 Tahun 2018 Tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah menekankan beban kerja kepala satuan pendidikan sepenuhnya melaksanakan tugas manajerial, pengembangan kewirausahaan, dan supervisi kepada guru dan tenaga kependidikan, yang tertuang pada bab VI pasal 15.

Selanjutnya, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 13/2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah menyebutkan ada lima kompetensi kepala sekolah yang harus terus ditingkatkan, yakni kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial. Kelimanya saling terkait dalam manajemen berbasis sekolah dan memerlukan partisipasi masyarakat.
“Sebagai dirigen panggung orkestra, kepala sekolah harus bisa mengatur dan membuat sinergi antara siswa, guru, orangtua, pengawas, dan semua pihak yang terlibat dalam kegiatan belajar di sekolah,” ucap Santi.

Untuk itu, pihaknya terus meningkatkan kompetensi dan kemampuan kepala sekolah dengan pelatihan, seminar, lokakarya, dan program kemitraan. “Melalui perkumpulan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) sebagai forum komunikasi, kepala sekolah juga dapat bertukar informasi dan ide antarsesama kepala sekolah lainnya,” jelas Santi.

Selain kepala sekolah, unsur lain yang juga penting dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang baik ialah pengawas sekolah. Mereka bekerja sama dengan kepala sekolah dan guru untuk memastikan berjalannya 8 standar pendidikan.

“Pengawas memiliki banyak peran mulai dari mensupervisi pelaksanaan akademik, supervisi manajerial kepala sekolah, supervisi akademik guru, dan supervisi akreditasi sekolah. Banyak sebetulnya pekerjaan dan peran pengawas kalau mereka menyadari, termasuk membuat riset kecil-kecilan,” jelas Santi.

Mereka juga bekerja sama dengan kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan di wilayah kepengawasannya, termasuk memberikan rekomendasi kepada guru dan sekolah untuk meningkatkan kompetensi yang dipandang masih kurang. “Untuk itu, penting bagi pengawas agar selalu berdiskusi dengan kepala sekolah dan guru di wilayah kepengawasan mereka,” tutup Santi.

Kompetensi guru
Pada kesempatan terpisah, Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikbud Sri Renani Pantjastuti menyatakan untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang bermutu dan inovatif amat dibutuhkan kompetensi guru.

Sekarang ini Indonesia membutuhkan sedikitnya 400.000 guru profesional atau bersertifikasi. Jumlah itu terdiri dari kebutuhan 221.000 guru untuk Sekolah Dasar dan 187.000 guru untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Kebutuhan guru pun dipicu oleh sekitar 40.000 guru yang pensiun setiap harinya.

Guna memenuhi kebutuhan guru profesional atau guru yang berkompetensi, Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan memiliki peranan penting. Pemenuhan kuota harus dibarengi dengan mutu lulusan program profesi guru yang tinggi serta merata di seluruh Indonesia. 

Itu guna mendorong terwujudnya visi Indonesia maju dengan sumber daya manusia yang unggul yang salah satu solusinya membentuk konsorsium perguruan tinggi. Konsorsium itu akan menyamakan visi dan misi dalam menyiapkan guru profesional untuk Indonesia di masa akan datang. 

Selain itu, juga membuat sistem nasional dan regulasi mulai pendaftaran sampai uji kompetensi, penelusuran lulusan, penempatan dan pengukuran learning outcome untuk melihat apakah calon guru ini betul-betul berkualitas di 
sekolah tempat mereka bekerja. Konsorsium itu, kata Sri Renani, diharapkan nantinya menjadi lembaga yang legal untuk menjamin mutu pelaksanaan PPG sehingga menghasilkan guru-guru yang berkualitas. Konsorsium ini juga menjadi awal untuk memperbaiki sistem penyelenggaraan PPG Prajabatan.

“Jadi memang guru ini perlu untuk sangat diperhatikan karena mereka inilah yang akan mencetak generasi emas nantinya. Terlebih lagi saat ini anak-anak milenial juga masuk mendaftar PPG sehingga nantinya lebih cocok dengan metode pembelajaran yang telah disiapkan seperti teknologi augmented reality, virtual reality, dan lainnya,” pungkas Sri Renani.

Tidak hanya mengajar
Sementara itu, Kepala SMAN 1 Bogor Bambang Aryan Soekisno menyampaikan guru saat ini tidak hanya dituntut mengajar, tapi lebih daripada peran itu. Terlebih era digitalisasi revolusi industri 4.0 yakni otomatisasi industri, guru saat ini harus bisa membangun sumber daya manusia (SDM) sebagai inovator, sains, dan teknologi.

“Ada peran guru yang juga utama yaitu mendidik dan membimbing. Peran ini tidak cukup menggunakan teknologi. Ini penting untuk membangun pendidikan karakter peserta didik, meski butuh proses panjang tetapi harus dilakukan untuk mencptakan generasi penerus yang berkualitas,” ujarnya.

Guru SMK Negeri 1 Sebatik Barat Mangestiningtyas yang merupakan guru di daerah perbatasan mengakui amat penting mengedepankan pendidikan karakter bagi anak-anak. “Jika karakter anak sudah terbentuk, mereka bisa mandiri dan terhindar dari bahaya narkoba. Selain itu, dengan pendidikan karakter yang baik berpengaruh langsung pada peningkatan nilai akademik. Dengan begitu, akan tercipta ekosistem pendidikan yang bermutu,” pungkas dia. (Tes/S5-25)

BERITA TERKAIT