22 November 2019, 22:33 WIB

Resistensi Antimikroba Ancam Kesehatan Global


Eva Perdiana | Humaniora

THINKSTOCK
 THINKSTOCK
Ilustrasi

RESISTENSI antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR) menjadi ancaman terbesar kesehatan global. Tidak hanya kesehatan manusia, namun juga kesehatan hewan dan lingkungan.

Antimikroba adalah satu jenis obat-obatan yang berfungsi membunuh atau menghambat laju pertumbuhan mikroba, salah satunya antibiotik. Antibiotik digunakan untuk menyembuhkan infeksi bakteri pada manusia dan hewan.

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Syamsul Maarif menegaskan untuk memerangi laju resistensi antimikroba diperlukan tindakan dari semua pihak.

''Tantangan dalam memerangi laju resistensi antimikroba dan mengendalikan penyakit infeksi baru harus dipandang sebagai kewajiban dan tanggung jawab semua pihak, untuk itu semuanya harus berupaya meningkatkan kompetensi dan menjaga antimikroba tetap efektif,'' ujarnya saat kampanye bijak dan cerdas menggunakan antibiotik, di Universitas Lampung, Jumat (22/11).

Direktur Kantor Keuangan USAID, Ravindral Suaris, mengapresiasi peran pemerintah Indonesia, terutama Kementerian Pertanian, atas langkah-langkah penting dalam mencegah dan mengendalikan resistensi antimikroba.

Suaris menyebut, selama lebih dari satu dekade, Amerika Serikat melalui USAID, telah bermitra dengan Pemerintah Indonesia untuk mencegah dan mengendalikan berbagai pernyakit, termasuk resistensi antimikroba sebagai bagian dari komitmen kedua negara terhadap ketahanan kesehatan global.

Menurut Gubernur Lampung Arinal Djuanidi, Provinsi Lampung sangat berkomitmen menangani masalah ini, salah satu upaya adalah pembinaan, pengawasan peredaran dan penggunaan obat hewan pada ternak melalui Sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV) pada unit usaha peternakan. NKV adalah sertifikat terpenuhinya persyaratan higienitas dan sanitasi sebagai kelayakan dasar jaminan keamanan pangan asal hewan.

''Sertifikat NKV ini adalah bukti komitmen pemerintah dalam memberikan jaminan keamanan pangan untuk masyarakat, sampai saat ini di Indonesia baru ada 45 unit usaha budidaya peternakan yang sudah bersertifikat NKV dan 14 atau 30% di antaranya adalah budidaya unggas petelur di Lampung,'' jelasnya. (OL-11)

 

BERITA TERKAIT