23 November 2019, 05:00 WIB

Greta Thunberg, Raih Penghargaan Internasional


Melalusa Susthira K | Weekend

Spencer Platt/Getty Images/AFP
 Spencer Platt/Getty Images/AFP
Aktivis iklim remaja asal Swedia, Greta Thunberg.

AKTIVIS iklim remaja asal Swedia, Greta Thunberg, dianugerahi Penghargaan Perdamaian Anak-anak Internasional karena upaya dan inisiasinya dalam perjuangan melawan perubahan iklim lewat gerakan Friday for Future.

Saat penghargaan itu diberikan di Den Haag, Belanda, Rabu (20/11), Thunberg berhalangan hadir. Remaja berusia 16 tahun itu diketahui tengah melintasi Sa­mudra Atlantik menggunakan kapal dalam perjalanannya menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Iklim PBB Ke-25 (COP25) yang digelar di Madrid, Spanyol, awal Desember 2019 mendatang.

Namun, dalam pesan tertulis yang dikirimkannya, putri pasangan Malena Ernman dan Svante Thunberg itu berterima kasih atas apresiasi itu.

“Saya sangat berterima kasih dan merasa terhormat atas penghargaan ini,” terang Thunberg dalam pesan tertulisnya.

Aktivis iklim asal Jerman, Luisa-Marie Neubauer yang mewakili Thunberg mengambil penghargaannya mengatakan meski krisis iklim berdampak nyata dan luas, para pemimpin dunia malah bersikap lamban dalam meresponsnya.

“Krisis iklim merupakan masalah perdamaian di zaman kita. Kami turun ke jalan-jalan untuk bertindak dan kebenarannya ialah hari ini setelah satu tahun gerakan, kehidupan setiap anak di planet ini terancam,” tambah Neubauer mengkritik kelambanan para pemimpin dunia menangani krisis iklim.

Greta Thunberg menjadi terkenal di panggung internasional ketika ia menginisiasi gerakan Fridays for Future, pada 2018 lalu, ketika dirinya berusia 15 tahun. Ia beraksi pada setiap Jumat di luar parlemen Swedia mulai Agustus 2018. Remaja berambut panjang itu berdiri sambil memegang plakat bertuliskan ‘Bolos sekolah demi masalah iklim’.

Jika dulu Thunberg memulai aksinya seorang diri, kini puluhan ribu anak di seluruh dunia mengikuti dan terlibat aksinya tersebut.

Thunberg juga melakukan pelayaran melintasi Samudra Atlantik dari Stockholm menuju Amerika Serikat untuk berpidato di pertemuan iklim PBB dan mengecam para pemimpin dunia yang dinilainya tidak serius mengatasi perubahan iklim.

Aksinya juga membuat Thunberg sempat dinominasikan meraih Nobel Perdamaian 2019, walaupun akhirnya jatuh kepada Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed.

Lebih memilih kapal

Untuk dapat mencapai Madrid, Greta Thunberg mencari tumpangan ke Eropa dengan Kapal Katamaran. Pasalnya, ia menolak berangkat menggunakan pesawat karena emisi karbon yang ditimbulkannya.
Thunberg bertolak dari Amerika Serikat pada pertengahan November 2019, karena konferensi iklim internasional itu seyogianya dihelat di Cile.

“COP25 tidak akan diadakan di Santiago. Pikiranku bersama rakyat Cile. Saya telah menempuh perjalanan melalui benua Amerika Utara menuju Santiago, tetapi karena #COP25 akan dipindahkan, saya sekarang akan menunggu sampai saya memiliki informasi lebih lanjut,” tulis Thunberg di akun Twitter dan Instagram-nya, Kamis (31/10).

COP25 yang batal dilaksanakan di Cile ialah konferensi iklim terakhir yang digelar untuk mempersiapkan pelaksanaan Paris Agreement hasil dari COP21 di Paris pada 2015. Kesepakatan iklim yang diratifikasi lebih dari 195 negara dunia itu disepakati dimulai pada 2020 hingga 2030 dengan target menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) untuk menekan kenaikan suhu Bumi di bawah 1,5 derajat celsius.

Tak hanya Thunberg, aktivis perdamaian remaja asal Kamerun, Divina Maloum, juga menerima Penghargaan Perdamaian Anak-Anak Internasional. (AFP/H-2)

BERITA TERKAIT