22 November 2019, 22:04 WIB

Polisi Periksa 23 Orang Terkait Pembobolan Bank DKI


Ferrdian Ananda Majni | Megapolitan

Antara/Reno Esnir
 Antara/Reno Esnir
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus

KEPOLISIAN Daerah Polda Metro Jaya telah memanggil 41 orang untuk bersaksi terkait pembobolan anjungan tunai mandiri (ATM) milik Bank DKI yang melibatkan oknum Satuan Polisi Pamong Praja Dki Jakarta.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengungkapkan, dari 41 orang yang dipanggil, hanya 25 orang yang memenuhi panggilan untuk bersaksi.

"Hasil pemeriksaan awal ternyata berkembang menjadi 41 orang yang sudah melakukan. Tapi sampai sekarang belum ditahan, masih dilakukan pemeriksaan," kata Yusri di Kawasan Gelora Bung Karno, Jumat (22/11)

Yusri mengatakan, pihaknya belum menetapkan tersangka dari kasus tersebut. Ke-25 orang yang memenuhi panggilan polisi pun diakuinya, sebagian besar bukan berprofesi sebagai personel Satpol PP,

"Bukan, nggak semuanya (berprofesi sebagai Satpol PP). Belum (ada tersangka) masih kita dalami semuanya," terangnya.

Baca juga : Uang Bank DKI Dicuri, Anies Serahkan ke Polisi dan OJK

Yusri memastikan, pihaknya juga telah meminta keterangan dari pihak Bank DKI. Dari keterangannya, mereka telah melakukan perbaikan terkait sistem keamanan. Begitu juga mendalami kesalahan dalam sistem hingga menimbulkan celah pembobolan tersebut.

"Mereka masih memverifikasi kira-kira kesalahan apa yang terjadi dalam sistem ini, masih didalami tim dari Bank DKI," pungkas.

Sebelumnya sebanyak 12 anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI melakukan pembobolan Bank DKI senilai Rp32 miliar dan kini tengah diperiksa di Polda Metro Jaya. Aksi tersebut dilakukan sejak Mei lalu.

Kepala Satpol (Kasatpol) PP DKI, Arifin, mempertanyakan sistem perbankan dari Bank DKI yang merupakan BUMD milik Pemprov DKI tersebut.

Arifin menjelaskan, dari laporan yang dia terima sementara, 12 anggotanya itu mengambil uang di anjungan tunai mandiri (ATM) Bersama dengan rekening mereka di Bank DKI.

Namun saat mereka sudah mengambil uang, ternyata saldo tidak berkurang. Mereka pun mencoba lagi mengambil uang untuk kedua kalinya. Dan saldo tetap tidak berkurang.

“Melihat saldonya tidak berkurang, padahal sudah diambil uangnya, kan jadi ada semacam penasaran. Makanya dicoba lagi. Nah yang jadi pertanyaannya kok bisa begitu. Itu juga perlu dipertanyakan ke pihak sana (Bank DKI-Red) dong,” kata Arifin, di Balai Kota DKI Jajarta, Senin (18/11).

Baca juga : Pemprov DKI Pecat 10 Satpol PP Kasus Bank DKI

Arifin menegaskan sekali lagi, tidak ada pencucian uang, korupsi atau pembobolan Bank DKI yang dilakukan para anggotanya. Yang terjadi hanyalah mereka mengambil uang di rekening Bank DKI melalui ATM Bersama. Namun saldo tidak berkurang meski uang sudah diambil.

Berdasarkan pengakuan anggotanya, kasus seperti ini sudah lama terjadi. Ada yang bilang sejak Mei sampai Agustus. Yang menjadi pertanyaannya adalah, mengapa sistem Bank DKI bisa seperti itu dengan kasus yang terus berulang.

“Sekali lagi saya luruskan tidak ada itu pencucian uang dan korupsi ya. Tetapi mereka ambil uang tapi saldo tidak berkurang. Dan ini menurut pengakuan mereka sudah lama. Bukan dalam sekali ambil sebesar itu, tidak. Ada yang bilang sejak Mei, lanjut sampai Agustus. Kenapa pihak yang sana (Bank DKI) juga baru hebohnya sekarang. Itu juga jadi pertanyaan saya, sistem mereka seperti apa,” ungkap Arifin.

Namun demikian, supaya kasus ini tidak terulang kembali, Arifin mengimbau jajarannya agar menghindari cara-cara yang tidak halal. Jika menemukan kesalahan sistem dalam rekening mereka, maka harus segera dilaporkan kepada pihak yang berwenang

“Ya saya katakan pada jajaran saya untuk mensyukuri berapapun penghasilan yang didapat, berapapun itulah yang menjadi hak kita. Hindari cara-cara yang tidak baik, tidak halal. Kalau ada kerusakan harusnya melaporkan. Iya, harus seperti itu,” jelas Arifin. (OL-7)

BERITA TERKAIT