23 November 2019, 01:40 WIB

Vasektomi Minim Sosialisasi


Rifaldi Putra | Humaniora

ANTARA/Septianda Perdana
 ANTARA/Septianda Perdana
Dua dokter memasang vasektomi kepada salah satu peserta KB.

SURVEI Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 menyebutkan persentase pemakaian alat kontrasepsi pria dengan menggunakan kondom sebesar 2,5% dan yang memakai metode vasektomi sebesar 0,2%. Rendahnya angka tersebut, khususnya vasektomi, disebabkan kurangnya pemahaman masyarakat akibat minimnya informasi soal itu.

“Vasektomi ini sebuah alternatif metode yang baik, yang mudah, tapi kurang sosialisasi yang lebih mendalam sehingga ada ketakutan-ketakutan tertentu. Namun, sebenarnya ini hanya sebuah sosialisasi yang kurang, dan lebih banyak ­rumornya,” ungkap Deputi ­Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi ­BKKBN, Dwi Listyawardani, pada ­kegiatan Seminar Peningkatan Kesertaan Kapasitas KB Pria, di  Bekasi, Jawa Barat, kemarin.

Dwi mengungkapkan vasektomi sangat aman dilakukan, dan bahkan efek sampingnya sangat minim. “Sudah ada penelitian soal vasektomi, tidak menimbulkan masalah fisik. Justru dari aspek psikologis terbukti positif, yakni ketenang-an karena tidak ada risiko istri akan hamil,” jelasnya.

Dari aspek agama, imbuh Dwi, vasektomi sudah teruji dan dapat dilakukan karena tidak akan membuat seorang pria mengalami kemandulan permanen.

“Teknologi saat ini juga sudah berkembang. Jadi, bagi akseptor yang sudah vasektomi, tapi ingin punya anak lagi, bisa diupayakan menyambung lagi saluran atau rekanalisasi. Nah, pemahaman itulah yang harus disampaikan,” imbuh Dwi.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Forum Antarumat Beragama Peduli Keluarga Sejahtera dan Kependudukan (Fapsedu) Muhammad Cholil Nafis menyampaikan hal yang senada.

“Metode vasektomi pada KB pria tidak melanggar kaidah dalam agama Islam jika dilakukan untuk menunda kehamilan dalam waktu tertentu dan bisa dilakukan pemulihan kembali,” terang Cholil Nafis yang juga merupakan Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI.

Menurutnya, hal tersebut menjadi pembahasan dalam Muktamar NU di Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak, Yogyakarta, akhir Juli lalu.

Ia menjelaskan, sejatinya program KB baik dilakukan karena menurutnya hal tersebut bergaris lurus dengan ajaran Islam selama ini, yakni memaksimalkan keturunan menjadi berkualitas.

Promosi

Jumlah peserta metode vasektomi yang rendah mendorong BKKBN bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk meningkatkan angka capaian tersebut. “Perwakilan BKKBN di 34 provinsi ikut ambil bagian dalam mempromosikan Hari Vasektomi Sedunia dan melakukan pekan pelayanan vasektomi,” ujar Dwi.

Hasilnya, ada 949 akseptor baru KB metode vasektomi, sebagian besar dari Sumatra Utara. Pemda juga memberi ­iming-iming insentif bagi ­peserta baru metode vasektomi.

Pemkab ­Kulon Progo memberikan satu kambing, Pemkab ­Karanganyar memberikan insentif sebesar Rp1.500.000, Pemprov DI Yogyakarta uang Rp1.000.000, dan Pemkot Blitar  uang Rp1.000.000. Adapun di Jawa Barat, diberikan dana hibah bagi kelompok KB pria sebesar Rp7.500.000 per kelompok. (H-3)

BERITA TERKAIT