22 November 2019, 20:24 WIB

Tingkatkan Literasi Diabetes, Cegah Kerugian Besar


Eni Kartinah | Humaniora

Istiimewa
 Istiimewa
Rangkaian kampanye Live Healthier Lives yang digelar Sun Life Indonesia di Jakarta.

INTERNASIONAL Diabetes Federation (IDF) Atlas 2017 melaporkan epidemi diabetes di Indonesia masih menunjukkan kecenderungan meningkat, khususnya diabetes tipe 2. Indonesia menjadi negara peringkat ke-enam dengan jumlah penyandang diabetes terbesar di dunia, setelah Tiongkok, India, Amerika Serikat, Brazil dan Meksiko. Sekitar 10,3 juta masyarakat Indonesia mengidap diabetes pada rentang usia 20-79 tahun. Namun, hanya separuh dari mereka yang menyadari kondisinya.

Angka ini bukanlah angka yang sedikit. Jika tidak segera ditanggulangi, diperkirakan ketika puncak demografi terjadi pada 2030, 21,3 juta jiwa mengidap diabetes tipe 2. Bukan hanya mengancam kualitas generasi penerus bangsa, tingginya prevalensi penyakit kronis ini juga berdampak pada perekonomian nasional. Pada 2018, BPJS Kesehatan telah menggelontorkan dana Rp6,1 triliun untuk pengobatan penyakit diabetes.

”Hasil Survey FKUI RSCM-Divisi metabolik endokrin menemukan 1 dari 8 orang di Jakarta terkena diabetes, dan 2 dari 3 orang yang terkena diabetes tidak mengetahui kalau dirinya terkena diabetes. Angka ini belum termasuk jumlah penderita pradiabetes, yang diperkirakan jumlahnya 6x lebih banyak dari penderita diabetes,” ujar Kepala Divisi Metabolik Endokrin Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, dr Dante S Harbuwono Sp.PD-KEMD, pada rangkaian kampanye Live Healthier Lives yang digelar Sun Life Indonesia di Jakarta, pekan lalu.

Menurutnya, peningkatan pemahaman dan upaya pencegahan terhadap pradiabetes dan diabetes menjadi sebuah keharusan. Dante menjelaskan, jika seseorang sudah terkena diabetes, terdapat tiga gejala klasik yang dikenal dengan istilah 3P yaitu; poliuri atau sering buang air kecil, polifagi atau sering merasa lapar, dan polidpsi atau sering merasa haus.

“Penurunan berat badan tanpa disertai dengan sebab yang jelas, juga menjadi ciri yang perlu diperhatikan. Sayangnya, masyarakat masih kerap abai terhadap gejala ini. Faktanya, hanya 30% penderita diabetes di Indonesia yang memahami tentang diabetes dan cara penanganannya,” imbuhnya.

Dante menambahkan, upaya efektif untuk mencegah dan mengendalikan diabetes harus dilakukan, dimulai dari menerapkan gaya hidup yang lebih sehat dengan cara menjaga pola makan sehat dan berimbang serta aktif bergerak; menghindari diri dari rokok dan alkohol; serta membangun komunitas pendukung yang solid.

Bukan karena keturunan saja

Pada kesempatan sama, Elin Waty, Presiden Direktur PT Sun Life Financial Indonesia mengatakan diabetes tengah menjadi ancaman kesehatan global, yang jika tidak segera ditangani secara serius, akan mengakibatkan pada rendahnya kualitas generasi bangsa, serta kerugian ekonomi yang signifikan. “Inilah mengapa, secara global, Sun Life menunjukkan komitmennya dalam upaya bersama melawan diabetes,” katanya.

Salah satu langkah penting yang diambil Sun Life Financial Asia ialah dengan merilis laporan terkait dibetes di Asia, berjudul Diabetes in Asia: Empowering communities to lead healthier live pada awal tahun ini, yang berfokus di Negara Hong Kong, Filipina, Indonesia, Vietnam dan Malaysia.

Di Indonesia, fakta masih rendahnya literasi dibetes di tengah masyarakat ditegaskan dengan data 68% penduduk Indonesia yang menilai bahwa diabetes adalah penyakit yang disebabkan oleh faktor keturunan saja. Padahal, gaya hidup yang tidak sehat menjadi faktor utama seseorang menderita diabetes, khususnya tipe 2. Guna menekan angka gelombang penderita diabetes di Indonesia, laporan ini juga memberikan rekomendasi berupa peningkatan literasi diabetes dan pendekatan terkordinasi berbasis komunitas, sebagai upaya yang perlu dilakukan bersama. (Ol-09)

 

BERITA TERKAIT