23 November 2019, 00:20 WIB

Perilaku Trump Lebih Buruk daripada Nixon


Melalusa Susthira K | Internasional

Andrew Harrer / POOL / AFP
 Andrew Harrer / POOL / AFP
Ketua Komisi Intelijen DPR AS, Adam Schiff.

TINDAKAN Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Ukraina dianggap jauh lebih buruk daripada tindakan yang menyebabkan mundurnya presiden ke-37 AS Richard Nixon. Hal itu dilontarkan Ketua Komisi Intelijen DPR AS, Adam Schiff, di akhir sesi audiensi setelah sembilan saksi maju berturut-turut selama tiga hari.

Demokrat menyebut strategi Trump menahan bantuan militer sebesar US$ 400 juta kepada Ukraina agar bersedia menyelidiki pesaing utamanya dari Demokrat, Joe Biden, bisa saja berhasil bilamana whistleblower (pembocor rahasia) tidak melaporkan pada 9 September lalu.

“Apa yang kami lihat di sini jauh lebih serius daripada perampokan kelas tiga markas Demokrat,” ujar Schiff, merujuk pada skandal pembobolan Watergate (1972) yang diperintahkan Nixon dan berimbas pada pegunduran dirinya secara terpaksa.

“Apa yang kita bicarakan di sini ialah menahan tindakan pengakuan dalam pertemuan Gedung Putih (dan) pemotongan bantuan militer untuk sekutu yang sedang berperang (Ukraina). Tindakan ini melampaui apa pun yang dilakukan Nixon,” tukas Schiff, Kamis (21/11).

Schiff berbicara pada penutupan kesaksian maraton oleh sembilan saksi selama tiga hari--di atas dua hari persidangan minggu lalu--yang menghasilkan longsoran salju pembuktian atas tuduhan terhadap Trump.

Demokrat diharapkan menyiapkan artikel resmi yang menuduh Trump menyalahgunakan kekuasaan presidensial, suap, dan penghalang keadilan.

Bantah teori konspirasi

Pada kesaksian Kamis (21/11), Direktur Senior Urusan Eropa dan Rusia di Dewan Keamanan Nasional AS (NSC) Fiona Hill membantah teori konspirasi Kremlin yang menyebut Ukraina membantu Demokrat dalam Pemilu AS 2016.

Plot tersebut serta desakan Trump terhadap Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky guna menyelidiki Biden, disebut Hill, dirancang untuk menimbulkan kekacauan dalam politik AS.

Hill bersaksi, sangat jelas pejabat AS telah membuat pertemuan Gedung Putih untuk presiden Ukraina bergantung pada pengumuman investigasi terhadap Joe Biden dan campur tangan Pemilu 2016. “Pertemuan Gedung Putih sendiri didasarkan pada masalah-masalah lain, yaitu investigasi dan pertanyaan tentang campur tangan pemilu pada 2016,” katanya.

Adapun pada kesaksian Rabu (20/11), Duta Besar Amerika Serikat untuk Uni Eropa, Gordon Sondland, mengatakan ia mengikuti perintah Trump dalam mengusahakan adanya kesepakatan quid pro quo (balas jasa) bagi Ukraina untuk menyelidiki Biden.

Sondland menyebut pengacara pribadi Trump, Rudy Giuliani, yang memimpin upaya mendesak Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk menyelidiki Biden sesuai arahan Trump.

Penyelidikan ini mengancam Trump menjadi presiden ketiga AS yang akan dimakzulkan oleh Kongres. Jika benar dimakzulkan, Trump akan diadili oleh Senat. (AFP/TheGuardian/I-1)

BERITA TERKAIT