22 November 2019, 23:00 WIB

Kacau Balau di Kampus Hong Kong


Melalusa Susthira K/AFP/X-11 | Internasional

Ye Aung THU / AFP
 Ye Aung THU / AFP
Seorang pengunjuk rasa berjalan melewati puing-puing yang menumpuk di sebuah barikade di kampus Universitas Politeknik Hong Kong.

SINAR mentari menembus gedung Universitas Politeknik Hong Kong dan memperlihatkan sampah yang memenuhi koridor-koridor. Keadaan kacau balau di kampus yang terletak di Kowloon itu tersingkap setelah hampir sepekan dikepung polisi karena menjadi markas pengunjuk rasa prodemokrasi.

Para demonstran yang menduduki kampus itu kini bersembunyi di antara labirin ruang-ruang kelas atau koridor. Mereka berpakaian dan mengenakan penutup wajah hitam. Sesekali mereka muncul dan berkumpul serta memberikan pernyataan kepada awak media.

“Polisi mengatakan jumlah kami sedikit. Namun, saya dapat memberitahu Anda bahwa jumlah kami lebih banyak,” terang seorang demonstran berusia 30 tahun bernama Mike.

Di kantin universitas itu, tampak panci kosong, gelas kertas, hingga pisau berserakan di lantai. Kantin itu disulap menjadi ‘bengkel’ untuk merakit bom-bom molotov sebagai amunisi melawan aparat polisi. “Pertempuran pekan lalu paling mengerikan dalam sejarah Hong Kong,” ujar Mike.

Di dalam gedung kampus, bau busuk yang berasal dari kantin atau dapur, yang mana makanan telah tumpah dan menarik kecoak-kecoak berdatangan. Sementara itu, mesin penjual otomatis makanan ringan dan kaleng yang berada di area lain sudah lama dijarah. Namun, lemari es dan pendingin kampus yang besar masih penuh dengan persediaan makanan.

“Polisi salah jika mereka berpikir kami akan menyerah. Kami memiliki persediaan yang kami butuhkan, air dan makanan. Kami dapat terus bertahan selama sebulan,” ujar Mike.

Pada Jumat (22/11), Komisioner Polisi Hong Kong mengatakan tidak memberikan batas waktu bagi para demonstran yang masih bertahan untuk meninggalkan gedung kampus dan tidak mengungkapkan taktik yang mereka pakai. Namun, setelah hampir satu pekan pengepungan berlangsung, tampaknya aparat polisi bersiap untuk menunggu demonstran keluar dari kampus.

Sebelumnya, ratusan demonstran, yang banyak di antara mereka berusia di bawah 18 tahun, telah meninggalkan Universitas itu. Sebagian besar dari mereka ditangkap.

Sementara itu, pedemo lainnya mencoba menyelinap keluar kampus melalui sistem drainase. Ada juga yang mencoba melarikan diri menuruni gedung memakai tali lalu dijemput dengan sepeda motor. (Melalusa Susthira K/AFP/X-11)

BERITA TERKAIT