21 November 2019, 10:00 WIB

Pemerintah Perlu Benahi Pembuangan Sampah Plastik


mediaindonesia.com | Humaniora

Antara
 Antara
Pemerintah perlu membenahi pembuangan sampah plastik.   

KEBIJAKAN sejumlah kementerian untuk melarang penggunaan botol plastik dan kantong plastik sekali pakai mengundang kekhawatiran para pemulung, yang selama ini menggantungkan hidupnya dari botol plastik.

Ketua Ikatan Pemulung Indonesia (IPI), Pris Polly Lengkong, merasa heran dengan kebijakan pelarangan botol plastik di sejumlah kementerian tersebut.

“Saya tidak habis mengerti dengan pelarangan botol plastik dan kantong plastik oleh beberapa kementerian. Mengapa harus memusuhi plastik. Apa yang salah dari plastik?” ujarnya dalam acara Diskusi Publik bertema Potensi Ekonomi dari Pengelolalan Sampah Plastik, di Jakarta, Selasa, (19/11).

Pris menegaskan tidak ada yang salah dari plastik. “Yang salah itu manusianya yang membuang sampah plastik sembarangan. Kalau saja manajemen sampah diperbaiki, tidak akan ada masalah dengan plastik,” tegasnya.

Ia menambahkan, pelarangan penggunaan botol plastik dan kantong plastik di sejumlah kementerian akan mengancam kehidupan para pemulung, yang jumlahnya mencapai 3,7 juta orang di 25 propinsi.

“Apakah pemerintah memikirkan nasib mereka? Betapa banyak manusia yang derajat kehidupannya meningkat karena menjadi pemulung plastik," ujar Pris.

"Saya membuktikan sendiri bahwa sebagian pemulung, yang tadinya berdagang soto atau berdagang kelontong, justru memilih menjadi pemulung untuk mengubah nasibnya,” tegas Pris.

Menurut Pris, besar pendapatan yang diperoleh pemulung berbeda-beda. “Mulai dari pemulung kampung besar pendapatan Rp100 ribu hingga Rp 150 ribu per hari. Untuk pemulung yang sudah menjadi pelapak, pendapatan bisa mencapai Rp1 juta sampai Rp1,5 juta perhari,” paparnya.

Ia sendiri mengakui mendapat keuntungan yang sangat besar dari pekerjaannya sebagai pemulung. Meski tidak mengakui secara jujur, Pris disebut-sebut memiliki pen dapatan hingga Rp100 juta sebulan.

“Padahal modal awal saya pertama kali menjadi pemulung hanya Rp750 ribu. Tapi Anda lihat sendiri bahwa saya sudah memiliki peningkatan kesejahteraan sekarang,” ujar putra dari artis Catty Lengkong ini.

Selain Pris Polly Lengkong sebagai pembicara dalam acara Diskusi Publik bertema Potensi Ekonomi dari Pengelolalan Sampah Plastik tersebut, juga tampil pakar Polyethylene terephthalate (PET) dari ITB, Ir. Ahmad Zainal Abidin, Christine Halim, Ketua ADUPI, Tyasning Permanasari, Kepala Seksi Daur Ulang, Direktorat Pengelolaan Sampah Plastik, KLHK, dan Endang Truni Tresnaingtyas, Direktur Bank Sampah Induk Patriot Bekasi. Acara ini digagas  Komunitas Plastik untuk Kebaikan yang dideklarasikan di area CFD Jakarta, pada Senin (10/11) lalu.

Eni Saeni, Koordinator Komunitas Plastik untuk Kebaikan, menyatakan, komunitasnya telah melakukan gerakan edukasi pilah plastik dengan insentif tukarkan sampah plastik dengan Sembako. Hasilnya dalam 2 jam pengumpulan di area CFD Jakarta, terkumpul 7 kantong besar sampah plastik.

“Kami membuat gerakan memilah sampah plastik agar sampah bisa dikelola dengan baik. Namun ketika melakukan edukasi kepada masyarakat untuk memilah sampah, ternyata banyak kendala dihadapi," jelas Eni.

"Sebagian masyarakat enggan memilah sampah plastik di rumah, karena gerobak sampah mengambilnya dengan mencampurnya dengan sampah lain,” kata Eni.

"Pemerintah harus turun tangan dalam tatakelola ini. Masyarakat, komunitas, bank sampah, pemulung dan industri daur ulang sudah melakukannya, daur masyarakat untuk sudah, tinggal dari pemerintahnya bagaimana?” tambah Eni.

Sementara itu, Tuti Karyati, seorang pemulung dari Cempaka Putih, Jakarta Pusat, juga mengakui dampak ekonomi dari daur ulang botol plastik.

“Saya setiap hari memulung botol plastik dan gelas plastik, di mana saja di tempat yang saya lewati. Dan saya gunakan botol dan gelas plastik hasil memulung itu untuk dijadikan kerajinan tangan,” ujar Tuti yang ditemui di acara yang sama, di Jakarta, Selasa (19/11).

Ia mengakui bisa menghasilkan satu kerajinan tangan dari setiap 10 tutup gelas plastik. “Saya bisa menjual hasil kerajinan tangan itu Rp 10.000 per buah,” ujarnya.

Meski tidak secara terbuka mengakui pendapatan dari hasil memulung, Tuti mengatakan bahwa apa yang ia dapat dari hasil memulung cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Cukup. Kalau buat saya cukup. Dari hasil menjual kerajinan tangan itu sangat lumayan keuntungan buat saya dan teman-teman saya,” ujarnya.

Sementara itu, narasumber lainnya di acara Diskusi Publik bertema Potensi Ekonomi dari Pengelolalan Sampah Plastik tersebut, Ketua Asosiasi Daur Ulang Indonesia (Adupi), Christine Halim, mengatakan sampah plastik memiliki potensi ekonomi yang tinggi.

“Sampah plastik bila didaur ulang. Demand terhadap sampah botol plastik cukup tinggi. Jadi, bila dikelola dengan baik sampah plastik akan mendatangkan manfaat ekonomi,” kata Christine, yang ditemui di acara yang sama, di Jakarta, Selasa (19/11).

Hanya saja, Christine belum melihat adanya kebijakan yang tegas dan konkret dari pemerintah untuk mendorong industri daur ulang di Indonesia.

“Seharusnya pemerintah mengubah persepektif terhadap sampah plastik. Jangan pandang plastik sebagai sampah. Pandanglah plastik sebagai bagian dari solusi,” tegasnya.(OL-09).

 

BERITA TERKAIT