21 November 2019, 18:13 WIB

Penurunan Target Produksi Padi Dinilai Realistis


Andhika prasetyo | Ekonomi

Antara
 Antara
Syahrul Yasin Limpo

PENURUNAN target produksi padi dari 82 juta ton atau setara 48 juta ton beras di 2019 menjadi 59 juta ton atau setara 35 juta ton beras di 2020 merupakan kebijakan yang realistis.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania mengungkapkan, dengan luas lahan sawah yang hanya 7,1 juta hektare saat ini, sangat tidak mungkin bisa mencapai produksi hingga lebih dari 80 juta ton per tahun.

"Belum lagi kalau ada alih fungsi lahan atau kekeringan dan banjir yang mengakibatkan gagal panen. Target tahun depan jauh lebih masuk akal," ujar Galuh melalui keterangan resmi, Kamis (21/11).

Menurut Galuh, dengan target yang tidak muluk-muluk saja Indonesia sudah bisa mencapai swasembada beras. Pasalnya, kebutuhan dalam negeri diperkirakan hanya sekitar 30 juta ton per tahun.

Itu artinya terdapat surplus lima juta ton yang bisa menjadi stok cadangan untuk dikelola Perum Bulog.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengakui bahwa dirinya menginginkan target yang realistis, tidak seperti menteri pendahulunya yang selalu menetapkan target padi di atas 70 juta ton.

Ia mengatakan target produksi beras harus mengikuti data kerangka sampel area yang diterapkan Badan Pusat Statistik (BPS).

"Analisa kita harus menyesuaikan data di lapangan. Dari pada tinggi tidak tercapai, lebih baik kita turunkan sesuai dengan target yang realistis," ucap Syahrul.

Penetapan target, lanjut dia, tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Pasalnya, hal tersebut berkaitan erat dengan anggaran yang akan dikeluarkan melalui APBN seperti subsidi pupuk hingga bantuan benih.

"Tidak baik jika anggaran yang disediakan justru berlebih dari yang dibutuhkan. Kalau pun nanti ternyata produksi melampaui target, pemerintah siap untuk menambah kebutuhan anggaran," tandasnya. (OL-8)

BERITA TERKAIT