20 November 2019, 22:20 WIB

Sampah Plastik dan Mikroplastik Harus Jadi Perhatian Serius


Antara | Humaniora

 ANTARA FOTO/Wira Suryantala
  ANTARA FOTO/Wira Suryantala
Sampah plastik yang terdampar di Pantai Kedonganan, Badung, Bali.

LIMBAH plastik dan microplastic menjadi isu penting yang mendesak dicari solusinya, termasuk di Indonesia.

Menurut data The Indonesian Olefin & Plastic Industry Association (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah sampah plastik di Indonesia diperkirakan mencapai 64 juta ton per tahun. Sebanyak 10 miliar lembar atau 85 ribu ton kantong plastik terbuang ke lingkungan tiap tahun.

Sebanyak 70% wilayah Indonesia yang terdiri dari lautan membuat sekitar 70% sampah plastik ini berpotensi berakhir di laut Indonesia.

Data the World Bank (2018) mengindikasikan bahwa sebanyak 87 kota di pesisir Indonesia diperkirakan turut menyumbang sekitar 1,27 juta ton sampah ke laut.

Sampah ini kemudian dapat terbelah menjadi partikel-partikel kecil berukuran 0,3-0,5 milimeter yang dikenal dengan sebutan “microplastic”. Partikel microplastic ini sangat mudah dikonsumsi hewan laut seperti ikan yang kemudian akan dikonsumsi manusia.

 Namun di sisi lain, plastik juga banyak memberi manfaat positif bagi manusia. Meski ada upaya pembatasan penggunaan kantong plastik, faktanya plastik secara umum masih dibutuhkan dan konsumsi plastik masih tinggi.

 Oleh karenanya, diperlukan manajemen berwawasan lingkungan yang strategis (strategic environmentally sound management) terhadap limbah plastik, yang tentunya perlu dikolaborasikan semua pihak mulai dari masyarakat, pemerintah, para pelaku industri, hingga di skala nasional.

Persoalan tersebut dibahas dalam  ‘One-day Seminar on Plastic Waste and Microplastic’, Social Responsibility Asia (SR Asia) di Jakarta, Rabu (20/11). Seminar tersebut juga memfasilitasi diskusi dan pertukaran ide di antara para pemangku kepentingan.

 “Hasil diskusi seminar akan didokumentasikan dan dirangkum menjadi rekomendasi bagi Pemerintah Republik Indonesia dalam penanganan isu limbah plastik dan plastik mikro,” ungkap Dr. Semerdanta Pusaka, Country Director for Indonesia SR Asia.

Seminar sehari dibuka oleh Dr. Anton Purnomo, Direktur Basel Convention Regional Centre for South East Asia (BCRC-SEA), yang mewakili pembicara utama Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3, Rosa Vivien Ratnawati, SH, M.Sc.

Dari seminar dibahas penanganan  limbah, khususnya limbah perkotaan, landfill (open dumping) atau pembuangan sampah di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) menjadi metode yang paling sering digunakan. Cara pengolahan lain adalah menjadikan sampah sebagai sumber energi dengan incinerator.

Selain itu di samping reduce, reuse, dan recycle yang sudah mulai diiniasi berbagai elemen dalam masyarakat, produsen plastik dapat mengganti produknya dengan plastik berbasiskan bahan dari tanaman  (OL-09)

 

BERITA TERKAIT