20 November 2019, 18:13 WIB

CORE Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2020 Hanya 4,9%


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

Antara/Galih Pradipta
 Antara/Galih Pradipta
Suasana bongkar-muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priuk yang jadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi

CENTER of Reform Economics (CORE memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 berada dikisaran 4,9% - 5,1%. Prediksi tersebut lebih rendah ketimbang proyeksi pemerintah di angka 5,02%.

"Kita mempunyai pandangan potensi pertumbuhan ekonomi tahun depan antara 4,9-5,1%. Itu bisa kurang lebih sama atau lebih rendah dari tahun ini," kata Direktur Eksekutif CORE Muhammad Faisal dalam seminar CORE Economic Outlook 2020 and Beyond di Jakarta, Rabu (20/11).

Didapatnya angka prediksi itu, kata Faisal, beriringan dengan kondisi ekonomi global yang masih tak menentu dan cenderung melambat. Belum lagi kian tingginya tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Pelemahan konsumsi yang terlihat sejak kuartal II juga menjadi alasan munculnya prediksi CORE yang lebih rendang dibanding proyeksi pemerintah. Di kuartal III, tingkat konsumsi tumbuh melambat sebesar 0,1% menjadi 5,01%.

Tingkat konsumsi itu terbilang stagnan bila dibandingkan kuartal sebelumnya dan periode yang sama di 2018.

Baca juga : Wamenkeu: Pelemahan Ekonomi Global Berimbas Pada Tiga Hal

CORE juga memprediksi tingkat ekspor dan impor masih akan lemah pada tahun depan. Namun, Faisal mengatakan harga pasaran batu bara dan sawit diperkirakan akan mengalami penaikan.

"Kita melihat ekspor dan impor mengalami perbaikan karena memang sudah kontraksi terlalu dalam. Jadi pertumbuhannya terbatas," jelas Faisal.

Ekonom CORE lainnya, Akhmad Akbar menyebutkan, di 2020 penerimaan pajak juga tidak akan mengalami banyak perubahan, alias stagnan atau penerimaan negara dari sektor perpajakan akan cenderung jauh dari target.

Prediksi itu merupakan refleksi dari realisasi pada tahun ini. Pasalnya hingga Oktober 2019, realisasi penerimaan pajak baru mencapai Rp1.018,5 triliun atau 64,56% dari target Rp1.577,56 triliun di APBN 2019.

"Itu masih jauh dari yang ditargetkan, katakanlah ada kemajuan luar biasa dalam dua bulan ini, itu akan sulit untuk mencapai 100%. Tahun depan, kemungkinan yang sama akan terjadi, karena itu lebih baik siap-siap dari awal," kata Akbar.

Rendahnya penerimaan pajak, kata Akbar disebabkan karena lesunnya sektor manufaktur dan berimbas pada penerimaan pajak dari sektor manufaktur tersebut.

Baca juga : Ekonom Percaya dengan Data dari Badan Pusat Statistik

Pemerintah dalam kondisi seperti itu, lanjutnya, berada dalam posisi yang tidak menguntungkan.

"Di situ ada dilema, di satu sisi harusnya kita membantu industri itu supaya bisa tumbuh lebih cepat dan bisa segera melakukan reindustrialisasi, ini kalau kita lihat dalam beberapa tahun terakhir, tarif pajak untuk perusahaan Indonesia itu tinggi," imbuh Akbar.

"Harusnya pemerintah menurunkan tarif pajak, tapi sayanganya diwaktu yang sama, rasio pajak kita itu masih kecil. Rasio pajak kita yang terendah. Ini memang situasi yang tidak mudah dari perekonomian kita," sambung dia.

Meski begitu, Faisal menyatakan, pertumbuhan ekonomi nasional bisa saja menjadi jauh lebih baik ketimbang prediksi CORE. Dengan catatan, Presiden AS Donald Trump tidak lagi terpilih sebagai presiden.

"Bila Trump di tahun 2020 tidak terpilih, otomatis perang dagang tidak berlanjut lagi," tandas Faisal. (OL-7)

BERITA TERKAIT