20 November 2019, 09:42 WIB

Cukai Rokok Naik Harus Dibarengi Diversifikasi Pertanian


Tosiani | Nusantara

Antara
 Antara
Rencana kenaikan cukai rokok sebesar 23 persen tahun 2020 diprediksi akan menurunkan penyerapan tembakau petani.

FORUM Petani Multikultur Indonesia (FPMI) meminta kebijakan menaikkan cukai rokok sebesar 23 persen di tahun 2020 diikuti diversifikasi komoditas pertanian. Hal itu agar  kesejahteraan petani meningkat menuju tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Ketua FPMI Istanto, menyampaikan hal itu di Magelang, Jawa Tengah, Rabu (20/11/2019)

"Diversifikasi harus diikuti program menyeluruh meliputi pelatihan pertanian, kesiapan pasar, penyediaan kredit dan asuransi, serta informasi kondisi iklim dan tanah untuk tanaman alternatif," kata Istanto.

Pihaknya juga meminta pemerintah mendorong terciptanya lingkungan sehat tanpa asap rokok, iklan rokok, promosi dan sponsor untuk melindungi generasi muda. Serta melakukan perubahan kebijakan pengendalian tembakau yang komprehensif.

Ia mengatakan, petani menyadari penggunaan rokok dapat menyebabkan kematian lebih dari 200.000 per tahun di Indonesia. Juga menimbulkan masalah kesehatan petani, melibatkan pekerja anak, kemiskinan, polusi air dan kerusakan lahan. Petani juga menyadari bahwa industri tembakau dan investor multinasional lebih banyak memperoleh keuntungan dibandingkan dengan petani dan pekerja pabrik yang menjadi korban rokok.

baca juga: Kuota Hanya 400, Pendaftar Seleksi CPNS di Pontianak Tembus 1.326

"Karena itu, FPMI mendukung pemerintah menaikkan harga dan cukai rokok, sehingga tidak dapat diakses oleh anak-anak. Merokok mengancam hak hidup dan hak kesehatan, terutama orang-orang yang berisiko seperti anak-anak, remaja, wanita dan orang-orang berpenghasilan rendah," tegasnya. (OL-3)

BERITA TERKAIT