19 November 2019, 21:24 WIB

Umat Buddha Membawa Gamelan Salonding ke Tanah Jawa


Emir Chairullah | Humaniora

Ist
 Ist
Gamelan Salonding dimainkan Southeast Asia Lamrim Festival (SEALF) 2019, 11-18 November 2019 di Gedung Prasadha Jinarakkhita, Jakarta Barat.

GAMELAN Salonding, alat musik sakral yang biasa digunakan di Bali sebagai pengiring ritual, dimainkan pertama kali dalam ritual Buddhis pertengahan November ini di Jakarta.

Komunitas Buddhis bernama Kadam Choeling Indonesia mengolaborasikan musik tradisional ini dengan doa yang dipanjatkan sepanjang Southeast Asia Lamrim Festival (SEALF) 2019, 11-18 November 2019 di Gedung Prasadha Jinarakkhita, Jakarta Barat.

"Ini pertama kalinya kita memasukkan nada tradisional ke ritual Tibet. Kita tunjukkan kepada seluruh Indonesia bahwa ini bukan hanya Buddhisme Tibet, tapi ini totally, really, exactly Indonesia," kata YM Biksu Bhadra Ruci, Kepala Biara Indonesia Tusita Vivaranacarana Vijayasraya di Jakarta, Selasa (19/11).

Peristiwa ini juga bisa disebut pertama kalinya gamelan salonding kembali dimainkan di Pulau Jawa sejak keruntuhan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha. Alat musik gamelan ini diperkirakan masuk ke Bali berkat hubungan dekat antara Bali dan Jawa sejak abad VIII Masehi.

Gamelan salonding sudah digunakan pada masa kekuasaan Wangsa Warmadewa (882-914 M) yang bercorak Buddhis dan diduga dimainkan oleh para biksu. Raja pertama wangsa ini diyakini merupakan keturunan dari Wangsa Syaildendra yang memerintah kerajaan Buddhis di Jawa dan Sumatra bernama Shri Kesari Warmadewa, juga dikenal dengan gelar "Dalem Salonding". Sekarang, gamelan salonding besi di Bali hanya dimainkan oleh orang-orang tertentu di ritual-ritual khusus yang hanya diselenggarakan satu sampai lima tahun sekali.

Gamelan salonding di SEALF 2019 merupakan set utuh, replikasi dari salonding besi langka yang saat ini hanya tersisa secara utuh di dua pura di Bali, yaitu Pura Besakih dan Pura Batur. Gamelan jenis ini merupakan gamelan pertama di Pulau Bali.

Kembalinya gamelan salonding ke Pulau Jawa di SEALF 2019 bertepatan dengan kunjungan Guru Dagpo Rinpoche, tokoh yang diyakini sebagai kelahiran kembali Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dari Sriwijaya. Guru ini mengajar selama acara SEALF 2019. Setelah acara, gamelan salonding akan dibawa ke Biara Indonesia Tusita Vivaranacarana Vijayasraya, institusi pendidikan monastik yang mewarisi silsilah dari India dan Sriwijaya yang selama ini dilestarikan di Tibet. Biara ini bertempat di Desa Sumberoto, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Diresmikan

Biara Indonesia Tusita Vivaranacarana Vijayasraya juga diresmikan oleh Guru Dagpo Rinpoche, Senin (18/11), di Gedung Prasadha Jinarakkhita, Jakarta Barat. Biara ini merupakan institusi pendidikan monastik pertama di Asia Tenggara yang menghidupkan kembali tradisi kebiaraan dari Biara Universitas Nalanda dan Wikramashila serta biara besar lainnya di masa lampau. Biara dengan tradisi ini juga hidup di peradaban Hindu-Buddha kuno Nusantara, tepatnya di Candi Muaro Jambi.

Peresmian biara ditandai dengan pengecapan stempel oleh Guru Dagpo Rinpoche di penghujung acara Southeast Asia Lamrim Festival (SEALF) 2019. Prosesi ini juga dihadiri oleh tokoh-tokoh Buddhis nasional dari berbagai aliran seperti YM Biksu Nyana Maitri Mahasthavira dan YM Nyana Suryanadi Mahathera.

“Saya memiliki satu harapan; dengan mempraktikkan belajar, merenung, dan memeditasikan Buddhadharma, kita bisa mencapai kebahagiaan dalam kehidupan ini dan yang mendatang sehingga kita bisa meraih kebahagiaan untuk diri sendiri dan juga makhluk lain,” kata Dagpo Rinpoche ketika memberikan sambutan.

Desain bangunan-bangunan utama Biara Indonesia Tusita Vivaranacarana Vijayasraya adalah rumah joglo kuno. Kompleks biara seluas 25 hektar ini dirancang oleh arsitek asal Yogyakarta Eko Prawoto dan berlanggam Bali dan Jawa Timur. Sejak proses pengerjaannya dimulai tahun 2014 lalu, pekerja dan penghuni Biara aktif berkolaborasi dengan masyarakat dalam berbagai kegiatan seperti reboisasi, bakti sosial kesehatan, dan kembul budoyo. (OL-8)

BERITA TERKAIT