20 November 2019, 04:10 WIB

Pemerintah Bawa Jiwasraya ke Ranah Hukum


Nur Aivanni Fatimah | Ekonomi

 MI/RAMDANI
  MI/RAMDANI
gedung berlogo Asuransi Jiwasraya 

KEMENTERIAN BUMN membawa kasus Asuransi Jiwasraya yang diduga telah merugikan nasabahnya untuk diproses secara hukum. Kejaksaan Agung pun diminta turun tangan untuk menelaah ada-tidaknya unsur pidana dalam kasus tersebut.

"Untuk Jiwasraya, kita dorong ke kejaksaan supaya diproses," ujar Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga di Jakarta, kemarin.

Inisiatif pelaporan ke kejaksaan itu berangkat dari dugaan terjadinya kecurangan (fraud) di tubuh Asuransi Jiwasraya. Perusahaan asuransi pelat merah itu diduga telah membuat laporan keuangan yang tidak lengkap. Selain itu, ada dugaan penggelapan dana investasi ke perusahaan tersebut.

Alhasil, perusahaan asuransi jiwa tertua di Indonesia itu menunda pembayaran kewajiban polis yang jatuh tempo sejak Oktober 2018.

"Banyak laporan dari masyarakat dan nasabah terkait kasus Jiwasraya sehingga kita laporkan saja ke kejaksaan agar bisa diproses supaya lebih jelas dan proses hukumnya lebih jalan," imbuh Arya.

Saat dihubungi di kesempatan terpisah, Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Mukri mengatakan pihaknya langsung membentuk tim untuk mempelajari laporan dari Kementerian BUMN tersebut.

"Laporan sudah masuk. Saat ini laporan itu masih ditelaah untuk menentukan bisa-tidaknya ditindaklanjuti ke penyelidikan," katanya.

Untuk penyelamatan perusahaan, Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan Isa Rachmatarwata menyatakan pemerintah telah menyiapkan sejumlah skenario untuk menutup defisit likuiditas PT Asuransi Jiwasraya. Meski demikian, semua skenario penyelamatan itu tak akan menggunakan APBN.

"Kalau ada kebutuhan modal tambahan, sejauh ini Kementerian Keuangan meyakini bahwa penyelesaian Jiwasraya tidak perlu ada dari APBN," ujar Isa, Senin (18/11).

Upaya penyehatan likuiditas Jiwasraya, sambungnya, berada di bawah koordinasi Kementerian BUMN selaku kuasa pemegang saham.

Nasabah diminta sabar

Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya, Hexana Tri Sasangko, mengatakan pihaknya bersama Kementerian BUMN sudah merancang sejumlah skenario penyelamatan, yaitu pencarian investor strategis untuk Jiwasraya Putra, pembentukan Lembaga Penjamin Polis (LPP), pembentukan holding BUMN sektor keuangan, hingga merilis produk-produk asuransi dengan menggandeng perusahaan reasuransi atau financial reasuransi (finre).

Skenario penyelamatan itu untuk menyelesaikan persoalan seretnya likuiditas perseroan hingga pada defisit kecukupan modal berdasarkan risiko perusahaan asuransi atau risk base capital (RBC). Perusahaan itu sedikitnya membutuhkan Rp32,89 triliun

"Yang harus digarisbawahi, kami bersama pemegang saham terus mencari solusi untuk dua masalah itu, dan berjuang untuk nasabah. Jadi, kami percaya para nasabah akan bersabar ketika mengetahui apa yang sedang dilakukan manajemen bersama pemegang saham," ujar Hexana, kemarin. (Ant/E-2)

BERITA TERKAIT