19 November 2019, 21:03 WIB

Badan POM Siap Sukseskan Rencana Imunisasi PCV


Zubaidah Hanum | Humaniora

MI
 MI
ilustrasi pemberian vaksin

TERKAIT dengan rencana pemerintah mendatangkan vaksin pneumonia dengan skema advance market commitment (AMC) dari The United Nations Children's Fund (Unicef), Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) siap berperan serta menyukseskan program imunisasi tersebut.

Hal itu ditegaskan Direktur Pengawasan Distribusi dan Pelayanan Obat, Narkotika, Psikotropika dan Prekursor Badan POM Ratna Irawati seusai workshop Mengupas Persoalan Distribusi Vaksin di Indonesia di Jakarta, Selasa (19/11).

"Diperlukan jaminan mutu sepanjang jalur distribusi agar obat termasuk vaksin sesuai tujuan. Badan POM sebagai otoritas obat berkomitmen bersama-sama dengan Kemenkes dalam menyukseskan program imunisasi dan berkolaborasi dengan distributor yang bersertifikat," kata Ratna.

Sebagaimana diketahui, Indonesia mendapatkan tawaran dari Unicef yang didukung oleh Gates Foundation untuk mendapatkan vaksin pneumococcal conjugate vaccine (PCV) dengan harga terjangkau dalam bentuk multidose, yakni 2,93 dolar AS per dosis dari harga normal 20 dolar AS per dosis.

Pengadaan vaksin PCV melalui Unicef sangat penting untuk menghemat uang negara karena vaksin itu harus diimpor. Namun, Indonesia harus berkejaran dengan tenggat waktu pendaftaran pembelian vaksin PCV dengan harga khusus melalui Unicef pada 31 Desember 2019.

Baca juga : Cegah Vaksin Palsu, Petugas Medis Bisa Beli di Distributor Resmi

Jika rencana ini jadi direalisasikan, kata Ratna, Badan POM telah mengeluarkan izin edar vaksin pneumococcus multidose sejak Juli 2019 lalu untuk produk PCV 13 dengan merek dagang Prevenar13. PCV 13 berisi 13 tipe serotipe bakteri.

"Kami terbiasa melakukan distribusi vaksin dalam jumlah banyak untuk seluruh Indonesia karena sebelumnya kita kan sudah menjalankan imunisasi dasar untuk jenis vaksin lain," imbuhnya.

Wilson Yahya dari Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia mengaku pihaknya juga siap dari sisi personel maupun peralatan.

"Dari sisi distribusi sih sudah siap. Dari harga US$2,93 per dosis PCV, ada selisih biaya sekitar 10% sebagai ganti biaya logistik, administrasi dan profit buat kami sebagai distributor," ujarnya.

Sesuai pedoman CDOB, terangnya, pengelolaan vaksin harus memiliki area distribusi, cold room/chiller dengan suhu 2-8 derajat Celcius yang dilengkapi alarm dan wajib memiliki generator/genset. Selain itu, seluruh alat juga terkalibrasi dan memiliki batch delivery record sebagai cara mengontrol penerimaan dan pengeluaran vaksin.

Baca juga : Kemenkes Beri Vaksin Polio Kontingen Indonesia di SEA Games 2019

Pengadaan vaksin PCV sangat penting lantaran Indonesia menjadi salah satu negara dengan penduduk berjumlah besar yang belum memasukkan vaksin tersebut dalam paket imunisasi dasar.

Pneumonia bisa menyebabkan radang paru akut pada bayi dan anak di bawah 5 tahun. Penyakit ini menjadi momok karena menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia maupun dunia.

Meski begitu, imunisasi PCV belum masuk dalam program imunisasi dasar di Indonesia karena harganya tergolong mahal, yaitu mencapai Rp1 juta per unit. Setiap anak mesti tiga kali dapat imunisasi PCV sehingga total biaya vaksinasi mencapai Rp3 juta.

Karena itu, Ketua Dewan Pengurus Indonesian Health Economics Association (InaHEA) Hasbullah Thabrany mengatakan, saat ini introduksi vaksin PCV di Indonesia masih kalah dengan Bangladesh. (OL-7)

BERITA TERKAIT