19 November 2019, 14:00 WIB

Lokalisasi GBL di Perbatasan Semarang-Kendal Ditutup


Akhmad Safuan | Nusantara

ANTARA FOTO/Aji Styawan
 ANTARA FOTO/Aji Styawan
Seorang warga berada di kawasan Resosialisasi Argorejo atau Lokalisasi Sunan Kuning (SK) yang sepi seusai resmi ditutup di Semarang

USAI penutupan lokalisasi terbesar di Kota Semarang Sunan Kuning (SK), kini lokalisasi terbesar kedua Gambilangu (GBL) di perbatasan pintu masuk wilayah Kota Semarang dan Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, ditutup selamanya.

Sekitar 126 pekerja seks komersial (PSK) penghuni lokalisasi sejak pagi sudah berada di Terminal Mangkang, Semarang, untuk mendeklarasikan penutupan lokalisasi yang kerap disebut GBL bersama kedua pemerintah daerah tersebut.

Penutupan lokalisasi terbesar kedua ini, merupakan lanjutan penutupan SK yang dilakukan Pemkot Semarang untuk membersihkan kegiatan prostitusi. Karena GBL berada di dua daerah maka penutupan melibatkan pemerintah Semarang dan Kendal.

"Saya akan pulang kampung, mungkin menekuni usaha di desa karena di sini sudah tidak dapat lagi bekerja," kata Marni, 28, warga Pati yang mengaku sudah 1,5 tahun bekerja di GBL.

Baca juga: Pemkot Surabaya Beri Beasiswa untuk Anak Warga Eks Lokalisasi

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Semarang Muthohar mengatakan penutupan lokalisasi GBL secara seremoni dilakukan di Terminal Mangkang agar bisa menampung seluruh penghuni GBL termasuk ratusan PSK yang langsung dipulangkan ke kampung halaman.

"Di Gambilangu tidak ada lokasi yang luas dan tidak dapat menampung mereka secara bersamaan, maka menggunakan terminal ini," kata Muthohar.

Penutupan lokalisasi GBL ini, lanjut Muthohar, merupakan hasil koordinasi dua daerah yang sepakat menutup lokalisasi secara bersamaan, yakni Semarang dan Kendal.

Seremonial penutupan lokalisasi GBL yang dihadiri Sekretaris Dirjen Kementrian Sosial, Wali Kota Semarang dan Bupati Kendal ini sekaligus menyerahkan bantuan dana sosial dan tali asih kepada PSK dari Kementrian Sosial (Kemensos) yang dipulangkan melalui Lembaga Kesejahteraan Sosial Yayasan At Tauhid Kota Semarang.

Ketua Yayasan Rehabilitasi At Tauhid Singgih Yongki Nugroho mengungkapkan masing-masing PSK akan mendapatkan dana bantuan sosial melalui rekening sebesar Rp6 juta per orang.

"Rinciannya yaitu dana transport sebesar Rp250 ribu dan dana jaminan hidup sebesar Rp750 ribu serta Rp5 juta merupakan dana usaha ekonomi produktif," tutur Singgih.(OL-5)

 

BERITA TERKAIT