19 November 2019, 00:47 WIB

DBD Renggut Nyawa Bocah di Pulau Pemana, NTT


Alexander P/ Taum | Nusantara

MI/Alexander P. Taum
 MI/Alexander P. Taum
Mario B.R Mara, Dokter Spesialis di RSUD TC. Hillers Maumere

PENYAKIT Demam Berdarah Dengue (DBD) merenggut nyawa dua anak asal Pulau Pemana, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dua bocah malang itu dilarikan ke RSUD TC Hiller Maumere, dalam kondisi Shock berat. Petugas medis berusaha menolong, namun nyawa kedua bocah itu tidak mampu tertolong.

dr. Mario B.R. Nara, dokter Spesialis Anak pada RSUD TC. Hillers Maumere, mengungkapkan, berbeda dengan pola serangan DBD pada tahun lalu, kini serangan DBD mulai meluas hingga ke wilayah kepulauan.

"Tahun 2018 rata-rata penyakit DBD hanya berkisar pada wilayah kota Maumere dan sekitarnya.Tapi sekarang hampir seluruh wilayah kabupeten Sikka mulai terserang penyakit DBD," ungkapnya.

Mario mengatakan, 2 korban meninggal tersebut adalah pasien rujukan dari Pulau Pemana dalam waktu yang berbeda. 1 korban merupakan anak berusia 3 tahun dan 1 lagi korban berusia 3,7 tahun. Kedua korban tersebut bertetangga dekat di kampung halamannya.

Baca juga : Bermandi Debu dan Peluh Demi Produktivitas Pertanian

Sejak bulan Oktober 2019 sampai saat ini, Di kabupaten Sikka, setiap hari ditemukan 5 sampai 6 anak penderita DBD yang dirujuk ke RSUD.TC.Hillers Maumere.

"DBD disebapkan karena virus Dengue yang ditularkan dari satu orang ke orang lain lewat perantaraan Aedes aegypti. Nyamuk jenis ini membawa virus dengue, penyebab penyakit demam berdarah, yang terbangnya itu siang sampai sore hari," ungkap Mario kepada Media Indonesia, Senin (18/11)

Disebutkan, kedua pasien DBD itu meninggal dunia karena shock yang berat atau Pembuluh darahnya bocor sehingga darah keluar melalui pembuluh darah dan berakibat shock pada anak.

“Itu yang menyebabkan shock, trombosit juga menurun dan beresiko terjadi perdarahan, darah tersebut keluar melalui muntah darah atau mimisan dan bisa juga terjadi bintik-bintik merah pada tubuh, lebih berbahayanya lagi, terjadi perdarahan didalam perut dan paru-paru atau otak manusia,” ujar Dokter Mario.

Pada prinsipnya anak sudah panas lebih dari 3 hari dan dibaringi nyeri badan disertai nyeri kepala dan munta, tidak makan dan minum harus segerah berobat ke puskesmas terdekat, rumah sakit dan fasilitas kesehatan.

"Kalau panas sudah lebih dari 3 hari harus segera dilakukan pemeriksaan dara, sehingga bisa dilihat kondisi trombositnya supaya dilihat apakan ini disebabkan oleh iveksi demam berdarah yang disebabkan oleh virus dengue atau tidak", jelasnya.

Baca juga : Bendungan Temef di NTT Rampung pada 2021

Virus DBD ini disebabkan oleh gigitan nyamuk sehingga upaya pencegahan yang pertama supaya nyamuk tidak bertambah banyak dengan melakukan 3M+ menguras, mengubur dan menutup tempat-tempat sarang nyamuk.

Sehingga tidak ada air yang tergenang, sehingga larva nyamuk tidak berkembang biak, dirumah harus menggunakan kelambu dan jangan ada baju yang tergantung didalam kamar dengan begitu kita bisa memutus mata rantainya.

"Meskipun kita digigit nyamuk ini kalau daya tahan tubuh kita baik, sehingga dengan faktor peningkatan daya tahaun tubuh kita yang kuat dengan vitamin yang baik, sehingga kita tertular virus ini tetapi kita tidak sakit", jelasnya.

Dokter Mario mengingatkan, jika sakit, pasien DBD secepatnya dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk dipriksa darah untuk bisa diketahui tromobosit.

Ia mengungkapkan, dulu penderita DBD  bisa terdeteksi pada hari ke 5 dengan pemeriksaan IgG, IgM Virus Dengue, tetapi saat ini ada beberapa pemeriksaan laboratorium yang baru sudah bisa mendekteksi virus demam berdarah sejak hari pertama dengan pemeriksanan NS. (OL-7)

BERITA TERKAIT