19 November 2019, 00:37 WIB

Tiongkok Bantah Tudingan Represi Minoritas di Xinjiang


Dhika Kusuma Winata | Internasional

Wikipedia
 Wikipedia
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Geng Shuang

PEMERINTAH Tiongkok membantah laporan New York Times terkait bocoran dokumen internal pemerintah tentang etnis minoritas muslim di Xinjiang, Uighur.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Geng Shuang menyatakan laporan media Amerika Serikat yang menuding pemerintah NeGeri Panda itu merepresi muslim di Xinjiang tidak akurat.

Menurut dia, dokumen internal setebal 400-an halaman tersebut berisi upaya pemerintah Tiongkok dalam memerangi terorisme dengan pendekatan deradikalisasi.

"Isu yang dihadapi di Xinjiang bukan mengenai etnik, agama, ataupun hak asasi manusia. Ini lebih merupakan upaya pemerintah melawan kekerasan, terorisme, dan separatisme," kata Geng Shuang dalam sebuah media briefing seperti dilansir di laman Kemenlu Tiongkok, Senin (18/11).

Ia membeberkan sejak 2015, pemerintah menerbitkan tujuh 'buku putih' terkait dengan upaya kontraterorisme dan deradikalisasi. Termasuk juga mengenai program pendidikan vokasi dan pelatihan kepada masyarakat setempat.

Baca juga : https://m.mediaindonesia.com/read/detail/272178-cara-tiongkok-taklukkan-terorisme-di-xinjiang

Geng Shuang melanjutkan tudingan kepada pemerintah Tiongkok yang membangun kamp-kamp konsentrasi bagi muslim di Xinjiang tidak akurat. Sebab, menurutnya, yang dibangun pemerintah ialah program pelatihan vokasi, bukan kamp penahanan.

Hal itu dilakukan untuk memberdayakan warga setempat secara ekonomi agar terhindar dari radikalisme serta ekstremisme.

Menurut dia, komunitas internasional juga telah menyaksikan sendiri upaya deradikalisasi yang dilakukan penerintah Tiongkok di Xinjiang. Ia menyebut lebih dari 1.000 diplomat asing, pejabat pemerintah, dan media massa pernah mengunjungi Xinjiang.

Mereka disebut sudah melihat sendiri upaya kontraterorisme dan deradikalisasi di Xinjiang sukses dilakukan.

"Tiongkok tidak akan memberi ampun bagi kaim radikal dan teroris yang melakukan kekerasan. Hal itu untuk melindungi keamanan rakyat Tiongkok," imbuhnya.

Geng menyatakan terdapat ribuan insiden dan aksi terorisme di Xinjiang selama kurun waktu 1990 hingga 2016. Aksi terorisme kemudian berhasil ditekan hingga nihil dalam tiga tahun terakhir.

"Xinjiang melawan kejahatan terorisme tersebut sembari mengatasi akar masalah dan juga melindungi hak asasi dasar untuk melindungi mereka dari bahaya terorisme dan ekstremisme. Kebijakan itu juga didukung seluruh komunitas etnik," tandasnya.

The New York Times baru-baru ini menyebut dokumen internal pemerintah Tiongkok menunjukkan bahwa Presiden Xi Jinping memerintahkan pejabatnya untuk melakukan represi terhadap etnis minoritas muslim di Xinjiang, Uighur. Laporan itu juga menyebut pemerintah melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap populasi etnis Uighur. (AFP/OL-7)

BERITA TERKAIT