19 November 2019, 00:17 WIB

PGRI Sebut Setuju Calon Guru Minimal Punya IPK 3,00


Syarief Oebaidillah | Humaniora

MI/Permana
 MI/Permana
Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi

KETUA Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Unifah Rosyidi setuju bila calon guru yang akan mengikuti pendidikan profesi guru (PPG) Prajabatan, harus memiliki indeks prestasi komulatif (IPK) minimal 3,00.

Kebijakan IPK minimal 3,00 diwacanakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) beberapa waktu lalu, dengan tujuan menyaring para calon guru-guru yang berkualitas.

"Kalau untuk calon guru saya setuju-setuju saja. Kenapa? Karena calon guru kan memang harus didesain yang ideal. Tuntutannya baik," kata Unifah usai kegiatan `Diskusi Terbatas Ahli` di Gedung Guru PGRI, Jakarta, Senin (18/11)

Lagi pula, menurut Unifah, saat ini tolok ukur kualitas seluruh Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) sebagai pencetak para calon guru hanyalah akreditasi.

Dengan demikian, dikotomi perguruan tinggi negeri dan swasta harus dihilangkan.

Baca juga : Indonesia Kekurangan Ratusan Ribu Guru

"Justru pertanyaan saya, pernah tidak dikaji serius bahwa konten PPG sesuai dengan kebutuhan guru di kelas," ujar dia.

"Mutu itu di kelas. Mutu itu tidak di mana-mana. Di kelas itu siapa? Guru. Berdialog, diskusi, menatap mata anak-anak," imbuh dia.

Seperti diketahui, Kemdikbud menetapkan, mulai tahun ini calon guru yang akan mengikuti PPG Prajabatan harus memiliki nilai IPK minimal 3,00

Direktur Pembelajaran Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemendikbud Paristiyanti Nurwardani menjelaskan, kebijakan ini bertujuan untuk menghasilkan guru profesional dengan kualitas yang baik.

Di sisi lain, ,Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) Ali Ghufron Mukti menyebut ada tiga hal yang harus dipenuhi untuk meningkatkan kualitas guru, yakni pola pikir, kemanusiaan, dan 5C.

"Kalau kemanusiaannya tidak dibangun, bisa kalah dengan kecerdasan buatan (AI) dan robot. Karena semua sudah digantikan oleh robot. Jadi yang tidak mungkin digantikan oleh robot adalah kemanusiaan. Simpati dan empati harus dibangun di sekolah," pungkas Ghufron. (RO/Ol-7)

BERITA TERKAIT