19 November 2019, 00:02 WIB

Bermandi Debu dan Peluh Demi Produktivitas Pertanian


Alexander P. Taum | Nusantara

MI/Alexander P. Taum
 MI/Alexander P. Taum
Traktor yang diigunakan untuk mensukseskan program 700 hektare lahan gratsi

DALAM sekali hentak, tiga buah piringan yang tertanam hingga 30 cm, itu menyeret tanah keras. Rerumputan yang ada di sekitarnya pun ikut tercerabut. Tidak sedikit yang hancur diterjang piringan dari besi keras itu. Gerakan traktor itu kemudian membentuk deretan tanah yang membentuk parit kecil.  

Dengan kekuatan 120 PK, ditunjang Dua buah ban belakang yang besar, memudahkan traktor itu menyeret tanah yang keras akibat kemarau Panjang, dengan mudah pula traktor itu melewati hamparan tanah yang tidak rata karena sudah digembur cukup dalam.

Sang operator tetap kokoh memegang kemudi sambil sesekali menghalau Debu yang beterbangan di sana-sini dengan tangan kirinya. Tangannya sigap mengatur luku, setir dan menghindari rintangan berupa pohon besar yang masih berdiri kokoh di tengah kebun.

“ini hamparan kebun yang ke 120. Hari ini kami harus selesaikan 3 hektare. Kalau kebun sudah disiapkan petani, 1 Ha kami bisa habiskan dalam waktu 1 jam. Tetapi kalau masih banyak tanaman di dalam kebun, butuh waktu sekitar 2 jam. Jadi kalau mau dibajak, tolong Bapa Mama Petani benar-benar siapkan lahan. Kayu minimal jangan ada di dalam hamparan kebun,” ujar Tonce Blolok, Operator Traktor milik Dinas pertanian dan Ketahanan pangan Kabupaten Lembata.

Di Pundak Tonce Blolok dan 8 teman operator traktor lainnya, program bajak 700 Ha lahan gratis menjelang musim tanam di Lembata, sungguh dipertaruhkan.

Baca juga : Bendungan Temef di NTT Rampung pada 2021

Untuk memenuhi target yang ditetapkan Pemerintah, dirinya bersama 8 operator traktor lainnya mulai bergerak melayani para petani sejak bulan Agustus 2019.  

“kami kejar target, sebelum musim hujan, lahan pertanian di Lembata sudah siap ditanam. Apalagi awal musim hujan masih tidak menentu,” ujar Tonce Blolok.

Ia berbicara kepada Media Indonesia, Selasa (18/11) siang saat rehat dari pekerjaannya membajak kebun milik Eko Tolok, salah satu petani yang tergabung dalam kelompok Tani Ina Letek, Waikomo, Kelurahan Lewoleba Barat, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata.

Menurut Tonce Blolok, ada 9 Operator Traktor yang setiap tahun bekerja melayani program bajak gratis yang di dorong Pemda Lembata, 4 PNS sedangkan 5 lainnya tenaga honorer daerah.

“kalau kejar target seperti ini, kami terpaksa berharap pada kebaikan hati pemilik kebun, dalam urusan makan dan minum. Karena kami harus menjaga peralatan ini untuk bisa beropersi optimal. Kalau masih urus dengan membawa makanan ke lokasi bajak gratis, tentu waktunya akan banyak tersita,” ujar Tonce Blolok.  

Sementara itu, Paji Lewar, Operator PNS yang disiapkan pemda Lembata untuk program Bajak lahan gratis mengtakan, pihaknya pernah menolak untuk membajak lahan petani yang belum disiapkan.

“Petani memang harus terus didorong agar bersiap menjelang musim hujan. Sering kali kami sampai di kebun baru para petani kaget. Tidak masalah, asal kami bisa dibantu bersihkan lahan terlebih dahulu,” ujar Paji Lewar.

Hari itu, Tidak tanggung-tanggung, tiga buah tractor  mengeroyok 4 Ha lahan, milik dua orang anggota kelompok Tani. Sebab musim penghujan, menurut BMKG akan rutin mengguyur pada pertengahan bulan Desember.

“Kami sudah kerjakan lahan mulai dari kecamatan Omesuri, Lebatukan, Ile Ape dan sekarang di Nubatukan. Yah beginilah sehari-hari kami. Berdamai dengan debu, peluh demi mengejar target, 700 Ha lahan pertanian lahan kering di Lembata harus berproduksi memanfaatkan musim hujan tahun ini yang sangat sedikit,” ujar Paji Lewar.

Baca juga : 28 Peserta Paralayang Ikut Lomba di Bukit Cinta Lembata

Sudah 8 jam, Paji, Tonce dan Lamburtus, membajak lahan dengan menggunakan traktor bantuan pemerintah Pusat. Sejak pukul 10.00 wita, selesai pukul 17.00 wita. Wajah mereka berubah. Menghitam karena bercampur debu dari tanah yang baru selesai di”gembur”.

Mereka harus kembali membelah kota Lewoleba, kemudian bergerak kembali ka kampung halamannya.

Paji Lewar harus kembali ke Desa Merdeka, sedangkan dua operator lainnya tinggal di dalam kota Lewoleba. Masih ratusan Hektar lahan yang menanti untuk dibajak.

Meski dengan gaji Rp1,5 juta per bulan, para operator ini tidak berhenti berkarya. Sebab, tanpa mereka, petani masih terlelap dalam rentetan panas dari kemarau berkepanjangan.

Para operator itu mulai membangun optimisme petani di Lembata yang masih dirundung pesimisme menghadapi ketidakpastian musim penghujan yang entah kapan dapat memabasahi tanah ini. (OL-7)

BERITA TERKAIT