19 November 2019, 08:00 WIB

Ekspor Kayu Legal Naik karena SVLK


(Ata/Pra/*/H-2) | Humaniora

NTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/foc.
 NTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/foc.
Kepala Balitbang KLHK Agus Justianto 

EKSPOR kayu legal asal Indonesia ke pasar dunia meningkat signifikan pascapenerapan sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK) selama 10 tahun terakhir. Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Litbang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Agus Justianto saat ditemui di Jakarta, kemarin.

"Ekspor secara keseluruhan meningkat yang bersertifikat tentunya. Kemudian, kepercayaan pasar meningkat. Selain Uni Eropa, kita juga diterima Australia dan Tiongkok. Indonesia akan terus berkomitmen menyuplai pasar dunia dengan kayu legal," ucap Agus.

Pada 2018, ekspor sembilan produk kayu Indonesia ke pasar dunia mencapai US$12,13 miliar atau naik dua kali lipat jika dibandingkan dengan kondisi di 2013.

Khusus Uni Eropa, kata Agus, pemerintah Indonesia melakukan Voluntary Partnership Agreement (VPA) Forest Law Enforcement Governance and Trade (FLEGT) sejak 2016. "Indonesia sudah menerbitkan 117 lisensi FLEGT yang diterbitkan untuk ekspor ke pasar Uni Eropa," pungkasnya.

Ditemui di tempat yang sama, Duta Besar UE untuk Indonesia dan Brunei Darussalam Vincent Piket mengatakan kerja sama antara UE dan Indonesia semakin penting, terutama di tengah ancaman perubahan iklim yang terus meningkat.

Lewat keterangan resminya, Menteri LHK Siti Nurbaya mengatakan, keberadaan pohon dapat menahan kenaikan suhu bumi yang disebut sebagai perubahan iklim. Untuk mewujudkannya, pemerintah telah menganggarkan dana Rp2,7 triliun untuk program rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) pada 2019.

Biaya tersebut dialokasikan untuk penanaman pohon seluas 206 ribu hektare serta pengembangan kebun bibit dan persemaian. (Ata/Pra/*/H-2)

BERITA TERKAIT