19 November 2019, 05:00 WIB

Wedus Gembel masih Mengancam


Agus Utantoro | Nusantara

 ANTARA FOTO/Rudi/hn/pd.
  ANTARA FOTO/Rudi/hn/pd.
Letusan Gunung Merapi terlihat dari bungker Kaliadem, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (17/11/2019)

GUNUNG Merapi masih berbahaya. Meski sehari kemarin aktivitasnya mereda jika dibandingkan dengan dua hari sebelumnya, masyarakat diminta tetap waspada.

"Ancaman bahaya letusan Merapi berupa awan panas yang bersumber dari bongkahan material kubah lava dan lontaran material vulkanis. Sampai saat ini, ancaman itu memiliki jangkauan kurang dari 3 kilometer (km) dari kawah," ujar Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi Yogyakarta Hanik Humaida, kemarin.

Karena itu, lanjutnya, warga diminta beraktivitas di luar radius 3 km dari puncak. Jangkauan awan panas diukur berdasarkan volume kubah lava yang sebesar 416 ribu meter kubik berdasarkan data drone pada 30 Oktober.

Ia memperingatkan letusan seperti yang terjadi pada Minggu (17/11) masih dimungkinkan terjadi lagi di masa-masa mendatang. Letusan yang menghasilkan kolom setinggi 1.000 meter dari puncak itu dipicu oleh akumulasi gas vulkanis. Sementara itu, pada Sabtu (9/11), Gunung Merapi juga melontarkan kolom awan panas setinggi 1.500 meter.

"Letusan pada Minggu menjadi indikasi suplai magma dari dapur magma Gunung Merapi masih terus berlangsung. Potensi ancaman bahaya saat ini berupa luncuran awan panas dari runtuhnya kubah lava dan jatuhan material vulkanis dari letusan eksplosif," tandasnya.

Di Semarang, Gubernur Ganjar Pranowo meminta warga di Lereng Gunung Merapi waspada dan mengikuti instruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah. "Warga harus tetap tenang, tapi waspada. Jika kondisinya terus memburuk, saya minta warga segera mengungsi karena keselamatan itu paling utama."

Menurut dia, letusan Merapi pada Minggu belum sampai mengganggu kegiatan. "Kegiatan Borobudur Marathon 2019 tidak terganggu, meski terasa lebih panas."

Terancam longsor

Sementara itu, ancaman bencana tanah longsor dan tanah bergerak di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, semakin berbahaya. Pasalnya, peranti sistem peringatan dini yang sudah dipasang pemerintah di sejumlah kecamatan tidak berfungsi.

"Dari 16 alat, hanya tinggal satu yang berfungsi, yakni yang dipasang di Dusun Sumampir, Desa Hanum, Kecamatan Dayeuhluhur," aku Kepala Pelaksana Harian BPBD Cilacap Tri Komara Sidhy.

Peralaan dipasang berbagai pihak seperti dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), UGM dan BNPB. Ke-15 peranti yang rusak itu ada di Kecamatan Dayeuhluhur, Wanareja, Majenang, Cimanggu, dan Karangpucung. Seluruh kecamatan itu rawan tanah longsor dan tanah bergerak. Kerusakan berupa pencabutan, gangguan transmisi, dan terkendala pulsa.

Nasib ribuan warga di Desa Fatululu, Kecamatan Amanatun Selatan, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, juga di tubir bahaya. Raturan rumah di wilayah ini terancam longsor karena berada di bawah bukit yang mulai retak.

"Retakan tanah memiliki kedalaman setengah meter. Saat hujan turun, air bisa masuk ke rongga sehingga beban tanah menjadi lebih besar dan terjadi longsor," Kata Kepala BPBD Ady Tallo.

Petugas BPBD akan mengajak warga melakukan relokasi ke daerah lain. "Saat ini lokasi yang mereka tempati benar-benar tidak aman" tandas Ady. (AS/LD/PO/N-2)

BERITA TERKAIT