19 November 2019, 02:20 WIB

Diplomasi Apik yang Menyentuh Sarajevo


MI | Internasional

Dok. KBRI Sarajevo
 Dok. KBRI Sarajevo
Sarajevo Jazz Festival 2019

HALL Dom Policija di Kota Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina, ramai didatangi pengunjung, beberapa waktu lalu. Padahal, konser baru akan dimulai pukul 20.00 waktu setempat.

Hujan yang mengguyur kawasan itu tidak menghalangi pengunjung yang ingin menyaksikan peampilan grup jaz World Peace Band dalam rangkaian Sarajevo Jazz Festival 2019 yang berlangsung pada 6-9 November. World Peace Band ialah grup multibangsa dan multikultural yang populer di kalangan pencinta musik di Bosnia dan Herzegovina.

Seperti diungkap Dubes RI untuk Bosnia-Herzegovina, Amelia Achmad Yani, grup itu terdiri atas Dwiki Dharmawan (piano/synthesizer) yang merupakan musikus Indonesia, Boris Savoldelli (vokal dan elektronik) asal Italia. Lalu, Kamal Musallam yang memainkan gitar, warga Jordania asal Palestina, serta Asaf Sirkis, penabuh drum sekaligus juga vokalis yang berkewarganegaraan Inggris.

Tepat pada waktunya, Dwiki dan rekan-rekannya naik ke panggung. Saat musik mulai mengalun mengiringi lagu Paris Barantai yang merupakan lagu daerah asal Kalimantan yang diaransemen Dwiki, penonton tenang. Semua menikmati dan hanyut dalam keahlian permainan musik dan lagu yang dipertontonkan oleh keempat personel.

Saat lagu usai, penonton tanpa dikomandoi serentak berdiri memberi standing ovation. Audiensi baru duduk kembali ketika lagu berikutnya dimainkan. Begitu seterusnya hingga enam lagu yang semuanya dinyanyikan dalam bahasa Italia selesai.

Lima lagu lainnya ialah berjudul Arafura ciptaan Dwiki, Rima ciptaan Kamal Musallam, Bubuy Bulan ciptaan Benny Corda yang diaransemen oleh Dwiki, Ramallah lagu tradisional Palestina, dan The Spirit of Peace yang juga ciptaan Dwiki.

Semua personel World Peace Band malam itu mendapatkan porsi untuk menampilkan kebolehan mereka masing-masing.

"Saya pribadi yang tidak begitu mengenal musik jaz menjadi terpukau, terharu, sekaligus bangga ketika menyaksikan penampilan keempat musikus. Bahkan, sepanjang pertunjukan selama sekitar 1 jam yang luar biasa itu, tidak terasa terkadang air mata perlahan menetes," ujar Dubes Amalia.

"Bagaimana tidak. Seorang musikus Indonesia memimpin pemusik lainnya untuk bertemu, berkumpul, lalu mempertunjukkan alunan jaz yang mereka garap dengan sangat apik dan profesional," ujarnya. (RO/X-11)

BERITA TERKAIT