19 November 2019, 11:15 WIB

Risiko Demensia pada Penyandang Buta Aksara


Irana Shalindra | Weekend

ANT/Herry Murdy Hermawan (STR)
 ANT/Herry Murdy Hermawan (STR)
Sekelompok orang dewasa mengikuti program percepatan pengentasan buta aksara di Banjarmasin, Kalsel, Kamis (17/1)

Kemampuan membaca dan menulis ternyata dapat menjadi faktor dalam mencegah demensia di usia senja. Itu menurut sebuah studi baru dari para ilmuwan di Columbia University.

Mereka mempublikasikan hasilnya pada Rabu silam di jurnal Neurology, seperti dilansir CNN, kemarin. Para peneliti mempelajari 983 orang dewasa berusia di atas 65 yang tinggal di daerah Washington Heights, New York City, yang memiliki empat atau kurang tahun masa sekolah.

Dengan nengunjungi rumah para peserta, para ilmuwan melakukan tes terhadap memori, bahasa, dan kemampuan visual atau spasial. Selama kunjungan tersebut, mereka membuat diagnosa demensia berdasarkan kriteria standar. Peserta yang buta huruf menunjukkan hasil lebih buruk dalam tes-tes tersebut.

Dalam menetapkan ukuran dasar, mereka yang tidak pernah belajar membaca atau menulis hampir tiga kali lebih mungkin menderita demensia daripada mereka yang bisa membaca. Dan di antara mereka yang tidak memiliki demensia pada awal penelitian, bagian kelompok yang buta huruf dua kali lebih mungkin untuk mengidapnya di kemudian hari.

Salah satu alasan menurunnya otak, tulis para periset, adalah bahwa mereka yang buta huruf memiliki "tingkat fungsi kognitif yang lebih rendah" daripada mereka yang melek huruf.

Temuan ini merupakan bagian dari studi jangka panjang pada proses penuaan manusia. Jennifer Manly, seorang profesor neuropsikologi di Universitas Columbia dan penulis senior dalam penelitian ini, mengatakan kepada CNN bahwa para ilmuwan telah memantau sekelompok orang dewasa di atas usia 65, banyak dari berbagai latar belakang di daerah Washington Heights, sejak 1992.

Selama tiga dekade terakhir, mereka telah mempelajari 6.500 warga New York saat mereka berusia lanjut, katanya.

Meskipun sudah lama diketahui bahwa pencapaian pendidikan dapat dikaitkan dengan hasil kesehatan yang lebih baik, tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menentukan bagaimana korelasi melek huruf dengan kemampuan seseorang untuk menjaga kesehatan otak selama tahun-tahun emas mereka. Misalnya, banyak orang dewasa yang buta huruf di Washington Heights datang dari Republik Dominika, katanya, dan mungkin harus keluar dari sekolah untuk bekerja.

Dia mengatakan diperlukan lebih banyak penelitian untuk menguatkan temuan timnya, tetapi mereka dapat membangun kasus kesehatan masyarakat bagi mereka yang berhenti sekolah lebih awal untuk didaftarkan ke kursus keaksaraan orang dewasa guna membantu menurunkan risiko mereka terhadap demensia.

Lebih lanjut, Manly mengatakan studi ini memiliki implikasi untuk bagaimana pemerintah merancang dan mengimplementasikan kebijakan pendidikan.

"Alasan mereka tidak bersekolah adalah karena kebijakan pendidikan Dominika," katanya merujuk pada kondisi imigran Dominika di Washington Heights tersebut. Setelah kelas delapan, kehadiran sekolah tidak lagi wajib di Republik Dominika, menurut Proyek Borgen nirlaba.

"Meningkatkan peluang bagi anak-anak dan orang dewasa untuk mendapatkan melek huruf mungkin melindungi kesehatan otak di kemudian hari," katanya. Manly menyamakan efek positif yang didapat dari belajar membaca di pikiran dengan efek positif yang dimiliki olahraga pada tubuh. "Untuk individu dan keluarga, perilaku kesehatan harus mencakup pendidikan," pungkasnya. (M-2)

BERITA TERKAIT