18 November 2019, 09:05 WIB

Perguruan Tinggi Islam Unjuk Gigi di OSKI


Lina Herlina | Nusantara

MI/Lina Herlina
 MI/Lina Herlina
Olimpiade Sains dan Karya Inovasi PTKI (OSKI) Tahun 2019.

KOMPETISI merupakan bagian dari upaya terintegrasi dalam menumbuhkembangkan motivasi belajar, kreativitas, dan daya saing bagi mahasiswa untuk berprestasi. Kompetisi mesti berlangsung sehat serta menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas dan keadilan.

Karena itu, Olimpiade Sains dan Karya Inovasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) atau disingkat OSKI 2019 digelar. Ajang perdana ini merupakan kompetisi dalam bidang Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, serta karya inovasi bidang ilmu bagi mahasiswa dan dosen lingkup PTKI negeri dan swasta.

"OSKI berperan dalam peningkatan kapasitas generasi muda melalui upaya kreasi hal baru yang lebih baik, bekerja secara disiplin, kompeten, dan tepat waktu dengan hasil baik," kata Kamaruddin Amin, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama.

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Prof M Arskal Salim GP mengimbuhkan, penyelenggaraan OSKI antarperguruan tinggi keagamaan Islam merupakan tindak lanjut secara konkret atas kebijakan transformasi kelembagaan PTKI. OSKI merupakan jawaban atas distingsi PTKI dibanding dengan perguruan tinggi lain.

Pada kesempatan itu, Arskal juga mengingatkan, saat ini masyarakat dunia semakin tidak terpisahkan dari sains dan teknologi.

"Bahkan, revolusi industri 4.0 kini berpengaruh kuat terhadap pola pikir, pola bertindak, dan pola bersikap dalam dunia keseharian kita. Di satu sisi, perkembangan teknologi melahirkan sejumlah kemudahan, tapi di sisi lain disrupsi semakin meningkat, terutama di kalangan milenial," lanjutnya.

Karena itu, ia menyerukan agar penguasaan keislaman tidak boleh lepas dalam diri para mahasiswa, dosen, serta stakeholders sains dan teknologi di PTKI. Apalagi sekarang muncul gejala ekstremisme, intoleransi, dan pemahaman yang sering kali melahirkan klaim sepihak atas kebenaran.

Lebih jauh lagi, sejumlah pihak mulai mempertentangkan keindonesiaan dengan paham keagamaan. "Sungguh, hal ini patut untuk kami ingatkan agar seluruh sivitas akademika PTKI jangan sampai terkena virusvirus semacam itu, apalagi menjadi terpapar," tandas Arskal. (LN/S3-25)

BERITA TERKAIT