18 November 2019, 06:00 WIB

Etika Peduli dan Peduli Etika


Fuad Fachruddin Divisi Penjaminan Mutu Pendidikan Yayasan Sukma | Opini

Dok.Pribadi
 Dok.Pribadi
Fuad Fachruddin  Divisi Penjaminan Mutu Pendidikan Yayasan Sukma

KATA atau ungkapan yang berkaitan dengan nilai, moralitas, atau etika seperti peduli (care) mudah diucapkan dan dipahami. Namun, tidak serta-merta mudah diamalkan dan menjadi bagian kehidupan seseorang atau kelompok. Banyak contoh atau kasus yang kita temukan dalam kehidupan yang bertentangan dengan nilai atau etika. Misalnya, dalam sebuah penerbangan yang dialami penulis; pada saat pesawat hampir mendarat dan disampaikan imbauan untuk mematikan telepon genggam dan alat elektronik lainnya, tapi ada penumpang yang tetap asyik menggunakan gawainya tanpa mengindahkan imbauan tersebut.

Saat penumpang lainnya mengingatkan, ia tidak menggubrisnya. Bahkan saat salah seorang awak pesawat meminta untuk mematikan gawainya sampai penumpang berada di dalam terminal kedatangan, penumpang tersebut mematikan gawainya untuk sementara waktu dan menyalakan lagi saat awak pesawat kembali ke tempat duduknya. Saat diingatkan kembali oleh awak pesawat lainnya, penumpang tersebut kembali tampak mematikan gawainya, tetapi kemudian menyalakan lagi secara sembunyi-sembunyi.

Kejadian tersebut merupakan contoh kecil perilaku yang bertentangan dengan nilai (moral) atau etika yang memberi mudarat terhadap kehidupan orang banyak, seperti layaknya korupsi, perusakan lingkungan (pembalakan/pembakaran hutan), dan lainnya. Pertanyaan reflektif yang bisa diajukan dari perilaku mudarat di atas ialah; ada apa dalam pendidikan--masyarakat--kita? Mengapa individu atau kelompok tidak peduli terhadap nilai atau etika dan akibat tindakannya terhadap orang banyak? Model atau pendekatan seperti apa yang tepat dalam menumbuhkan kesadaran etika atau nilai dalam kondisi sekarang dan ke depan? Hal ini hendaknya menjadi bagian agenda pendidikan kita sekarang dan ke depan dalam konteks mewujudkan manusia unggul sebagai platform pendidikan Kabinet Indonesia Maju.

Peduli dan etika peduli

Peduli merupakan karakter atau falsafah yang mendasar bagi manusia, yang di dalamnya terkandung prinsip, nilai, dan sikap yang dapat mewujudkan kehidupan yang baik dan tindakan yang benar. Peduli memberi jawaban terhadap pertanyaaan mendasar What is to be human being? (Boff: 2008). Dengan kata lain, peduli merupakan persyaratan mendasar dan penting untuk kelangsungan hidup dan keberhasilan, serta kehidupan yang sehat (Barnes: 2012).

Menaruh kepedulian diwujudkan dalam usaha kita untuk memelihara, melanjutkan, dan memperbaiki bumi yang kita tempati sehingga kita bisa hidup nyaman dan baik. Dalam konteks ini, dunia mencakup pengertian jasmani, diri kita (jiwa) dan lingkungan kita yang kesemuanya saling berkaitan. (Tronto: 1993)

Peduli (care) berasal dari bahasa Latin, coera, yang galibnya digunakan dalam konteks relasi cinta dan persahabatan. Care mengungkap perilaku peduli, pengabdian, perhatian, dan kekhawatiran terhadap seseorang yang dicintai atau suatu benda yang menjadi favorit seseorang. Kata care juga berasal dari kata cogitare-cogitus yang berarti merenung, berpikir, menaruh perhatian, menunjukkan minat, menegaskan sikap, mengabdi, dan perhatian.

Jadi, care berarti pengabdian, komitmen, kecerdasan, entusiasme, dan perlakuan baik (Boff: 2008). Dengan kata lain, peduli mengandung dua sikap yang saling berkaitan, yaitu 1) sikap mengabdi, komitmen dan menaruh perhatian kepada orang lain, dan 2) perhatian lantaran seseorang memiliki rasa peduli untuk ambil bagian (berbagi) dan secara emosi merasa mempunyai hubungan dengan orang lain (Boff: 2008).

Berkepedulian menunjukkan perhatian, rasa bertanggung jawab yang diwujudkan dengan tindakan nyata, yang bukan untuk menggapai kepentingan dirinya. Jika kita mengklaim peduli terhadap kelaparan yang menimpa masyarakat dunia, misalnya, lantas tidak melakukan upaya atau ambil bagian untuk mengatasi masalah, kita tidak disebut orang-orang berpedulian terhadap kelaparan yang menimpa masyarakat dunia (Tronto: 1993) alias ngomong doang.

Fungsi care

Ada tiga fungsi; pertama, peduli juga dipahami sebagai cara untuk mengonseptualisasi hubungan personal dan sosial. Hal ini mencakup relasi yang intens, akrab dan personal, seperti peduli terhadap orang yang berusia lanjut, orang sakit, berkebutuhan khusus (disabilitas), dan apresiasi terhadap akibat (hasil) dari 'gawe-gawe kemasyarakatan' seperti memelopori program literasi. Peduli juga mencakup persahabatan yang dilahirkan lantaran aktivitas politik atau pembuatan kebijakan, kegiatan peduli lingkungan fisik yang dikerjakan secara pribadi dan atau kelompok, rukun tetangga, dan lingkungan yang lebih luas, juga kesejahteraan sosial (Barnes: 2012).

Kedua, peduli dalam pengertian mengevaluasi. Care mengandung sederet nilai atau prinsip moral sebagai dasar atau cara untuk melihat sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan manusia, keberhasilan dan kelangsungan kehidupan, yakni apakah care tampak dalam berbagai relasi dan konteks kehidupan seperti relasi pribadi/individu, relasi kerja dan persahabatan, proses pembuatan keputusan politik dan lainnya, yang mengondisikan kehidupan kita, baik secara individu, kelompok maupun masyarakat. (Barnes: 2012 dan Slote: 2007)

Ketiga, care dalam praktik. Adalah kemampuan untuk mengenali dan menerapkan care. Bukan hanya tahu tentang makna peduli (care about), melainkan juga mengamalkan care dalam kehidupan (care for) dalam berbagai konteks dan mengembangkannya dalam konteks yang beragam. (Barnes: 2012)

Sementara itu, etika peduli merupakan etika relasi yang menjawab "What is the right thing for me to do?" or "What is right ways for me to live?" dan mengungkap kewajiban yang dilahirkan lantaran relasi antarindividu (Collin: 2015), yang didasari inklusi dan atau dengan cara damai (nirkekerasan), serta tanggung jawab. Etika peduli berkaitan dengan relasi manusia dan berbicara tentang diri manusia. Kepedulian akan tampak saat seseorang mampu mendengar orang lain dan ia didengar orang lain (komunikasi dua arah). Selain itu, etika peduli dapat mendorong rasa kemanusiaan dalam pengertian cinta, solidaritas, menghargai orang lain, serta bersedia menangani dan mengenyahkan kekeliruan yang terjadi dalam masyarakat (Wadgid: 2019).

Setidaknya ada dua hal yang menjadi catatan; pertama, contoh kasus yang disebutkan sebelumnya dan kasus-kasus serupa yang terjadi di masyarakat merupakan tantangan bagi pendidik--di lembaga pendidikan dan masyarakat--untuk melihat kembali dan mengembangkan praktik pendidikan nilai (termasuk pendekatan dan metode) yang sejalan dengan tantangan kehidupan, serta mencari pendekatan dan cara yang menyentuh rasa. Karena itu, nilai atau etika tercermin dalam sikap dan tindakan seseorang/peserta didik.

Kedua, jangan sampai kemajuan sains dan teknologi di era digital ini membuat warga bangsa, khususnya generasi berikutnya, menjadi produser the God syndrome, yaitu saat manusia mulai terjangkit dan bertingkah layaknya Tuhan. Padahal, yang lebih penting dari keinginan akan kekuasaan ialah kebutuhan akan kebajikan/kearifan. Itu karena menurut Boff (2008); "... only wisdom will maintain power within instrumental character and use it as a means to strengthen life and safeguard the planet." Wallaahu 'alam.

BERITA TERKAIT