17 November 2019, 22:00 WIB

Protes Rompi Kuning Ricuh, Polisi Tahan 254 Orang


MI | Internasional

AFP
 AFP
Unjuk Rasa di Prancis

POLISI Prancis menahan 254 orang selama bentrokan di Paris dan kota-kota lain pada peringatan pertama gerakan rompi kuning yang menantang kebijakan Presiden Emmanuel Macron.

Jumlah yang menghadiri protes dan tingkat kekerasan telah berkurang tajam dalam beberapa bulan terakhir. Namun, protes yang oleh para demonstran disebut “Act 53” menandai bentrokan serius pertama antara pasukan keamanan dan demonstran di Paris tengah.

Ketegangan terfokus di alun-alun Place d’Italie di tenggara Paris. Polisi dengan peralatan antihuru-hara membanjiri area itu dengan menembakkan gas air mata dan menggunakan meriam air setelah para demonstran melemparkan batu, membakar tempat sampah, menjungkirbalikkan mobil, dan membakarnya.

Sebuah pusat perbelanjaan besar di daerah terpaksa memilih tutup setelah puluhan pemrotes melemparkan batu ke jendela sebuah hotel berdekatan. Beberapa demonstran dan jurnalis lepas terluka.

Menteri Dalam Negeri Christophe Castaner, Minggu, menyatakan polisi memerangi perusuh selama berjam-jam di sekitar alun-alun Place d’Italie tenggara, sebagai yang terburuk di ibukota Perancis.
Sebanyak 173 orang ditangkap di kota itu, Castaner mengatakan kepada radio Europe 1, merevisi hitungan 147 hari Sabtu.

Puluhan orang lagi ditangkap dalam protes-protes kecil di kota-kota termasuk Nantes, Montpellier, Strasbourg, Bordeaux dan Toulouse.

Beberapa mobil terbalik atau dibakar, halte bus dihancurkan dan sebuah monumen untuk pahlawan Perang Dunia II - Marsekal Alphonse Juin - dirusak.
Sebelumnya pada sore hari, kepala polisi Paris Didier Lallement melarang demonstrasi Place d’Italie, mengutuk kerusakan dan serangan sistematis terhadap pasukan keamanan.

“Sangat menyedihkan demonstrasi ini dilarang,” kata Catherine Van Puymbroeck, 49. “Negara telah memicu kemarahan ini.”

Rompi kuning menginginkan aksi pada Sabtu hari biasa protes dan juga Minggu, hari peringatan, untuk mengingatkan Macron, sebelum mereka menghilang dari jalanan. “Kami datang sekalipun Macron tidak menyukainya,” teriak para demonstran di Paris, Sabtu.

Beberapa stasiun metro ditutup di ibu kota dan polisi dikerahkan dalam jumlah besar, terutama di sepanjang Champs-Elysees. (AFP/Hym/I-1)

 

BERITA TERKAIT