17 November 2019, 18:45 WIB

Ahli Vulkanologi: Letusan Merapi Seperti 2010 tak Akan Terjadi


Atalya Puspa | Humaniora

Antara/Rudi
 Antara/Rudi
Letusan Gunung Merapi terlihat dari bungker Kaliadem, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (17/11)

PUSAT Vulkanologi dan Mitigasi Geologi (PVMBG) melaporkan terjadi letusan di Gunung Merapi pada Minggu. 17 November 2019 pukul 10:46 WIB.

Berkaitan dengan itu, ahli vulkanologi Surono mengungkapkan, kemungkinan untuk terjadi letusan kembali masih ada. Namun, letusan tidak akan sebesar yang pernah terjadi pada 2010.

"Kemungkinan meletus agak besar dibanding yang penah terjadi 2017-2019. Mohon jangan panik, karena bila jumlah guguran dan hembusan meningkat tetap aman," kata Surono kepada Media Indonesia, Minggu (17/11).

Surono menuturkan, letusan gunung merapi tersebut disebabkan oleh kantung magma yang sudah mendekat ke permukaan.

Namun begitu, Surono menyatakan letusan yang terjadi hari ini patut disyukuri. Pasalnya, letusan tersebut terjadi agar tidak terjadi penumpukan dan menyebabkan erupsi besar seperti pada 2010 silam.

Baca juga : Hari Ini, Merapi Luncurkan Guguran Lava hingga 1,2 Kilometer

Surono mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada dan tidak panik, serta tetap memantau informasi terkini seputar gunung merapi.

“Jangan membayangkan letusan seperti tahun 2010. Tidak mudah merapi membuat letusan seperti itu. Sejak 2010 Merapi sudah berubah karakter,”  tandasnya.

Diketahui, letusan tercatat di seismogram dengan amplitudo max 70 mm dan durasi 155 detik. Teramati kolom letusan setinggi ±1000 m. Angin bertiup ke Barat dan mengakibatkan hujan abu tipis di sebagian wilayah desa Banyubiru Dukun, Kabupaten Magelang.

Berdasar pantauan BMKG dari citra satelit Himawari pada pukul 13.00 WIB, debu vulkanik sudah tidak terdeteksi lagi di angkasa.

Tingkat aktivitas Gunung Merapi dinyatakan pada tingkat Level II (Waspada) sejak tanggal 21 Mei 2018.

Baca juga : Hujan Abu Tipis Guyur Dua Desa di Sekitar Gunung Merapi

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo menyatakan, potensi ancaman bahaya saat ini berupa luncuran awan panas dari runtuhnya kubah lava dan jatuhan material vulkanik dari letusan eksplosif.

Agus mengimbau, agar tidak beraktivitas di area dalam radius 3 km dari puncak gunung merapi

"Masyarakat agar mengantisipasi bahaya abu vulkanik dari kejadian awan panas maupun letusan eksplosif," ucapnya.

Masyarakat juga diminta agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak gunung merapi, serta memantau informasi aktivitas gunung merapi melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 Mhz, melalui telepon (0274) 514180/514192, website www.merapi.bgl.esdm.go.id, dan media sosial BPPTKG. (Ol-7)

BERITA TERKAIT