17 November 2019, 06:40 WIB

Pemerintah dan Warga Sinergi Antisipasi Banjir dan Longsor


Bayu Anggoro | Nusantara

MI/Bayu Anggoro
 MI/Bayu Anggoro
Maket pengerjaan proyek terowongan air curug jompong di Kabupaten Bandung. 

UNTUK mengantisipasi dampak bencana akibat cuaca ekstrem, pemerintah dan masyarakat melakukan berbagai upaya sistematis.

Seperti di Kabupaten Bandung, proyek terowongan Curug Jompong di Desa Lagadar, Margaasih, diproyeksikan akan tuntas pada akhir tahun ini. Pembangunan yang dilakukan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cita­rum, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, itu bertujuan untuk mempercepat aliran air menuju Waduk Saguling sehingga bisa meminimalkan banjir setiap musim hujan.

Kepala BBWS Citarum Bob Arthur mengatakan, dengan akan beroperasi­nya terowongan air Curug Jompong, aliran Sungai Citarum dari kawasan hulu akan semakin lancar. Dengan begitu, diharapkan banjir di Kabupaten Bandung bisa ditekan.

“Sekarang sudah 95% terowongan selesai,” kata Bob saat memaparkan kepada Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (Emil), di Curug Jompong, Bandung,­ kemarin. Dalam kesempatan itu, Emil datang secara langsung untuk memantau perkembangan terowongan air tersebut.

Sementara itu, dalam menghadapi musim penghujan dan angin kencang yang bisa menumbangkan pohon, tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Polri, TNI, Taruna Siaga Bencana, Dinas Perhubungan, Kota Tasikmalaya, memangkas dahan-dahan pohon yang dinilai membahayakan.

Manajer Pusdalops BPBD Kota Tasikmalaya Harisman mengatakan musim penghujan di masa perubahan iklim sangat berpotensi membuat pohon tumbang. Selain itu, bencana lainnya yang harus diantisipasi, yaitu longsor, banjir, pergerakan tanah, dan luapan aliran sungai.

“Untuk mengantisipasi pohon tumbang pada musim penghujan, tim langsung memangkas dahan-dahan pohon yang membahayakan. Selama ini, BPBD banyak menerima pengaduan warga terkait pohon. Namun, pemangkasan baru di beberapa titik sesuai verifikasi,” kata Harisman, kemarin.

Dia mengungkapkan, pemangkasan pohon yang dilakukan tim gabungan, yakni mulai pohon-pohon di sekitar jalan nasional, jalan provinsi, dan jalan di Kota Tasikmalaya. “Kami berharap upaya ini bisa meminimalkan (dampak) ketika terjadi bencana. Tumbangnya pohon di Dadaha hingga memakan korban jiwa tidak boleh kembali terjadi dan semoga tidak ada lagi pohon roboh yang mencelakakan warga,” urainya.

 

Sampah plastik

Terkait antisipasi bencana di ­Kabupaten Temanggung, Jawa ­Tengah, BPBD Temanggung telah bersiap ­dengan membersihkan empat su­ngai besar dari sampah plastik. Hal itu ­dilakukan untuk mengantisipasi ­potensi banjir saat musim peng­hujan.

Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Pelaksana Harian (Plh) BPBD Kabupaten Temanggung, Gito Walngadi, menyebutkan empat sungai yang dibersih­kan ialah Kali Galeh di Kecamatan Parakan, Kali Kuas di Kecamatan Temanggung, Kali Bodri di Kecamatan Bejen, dan Kali Trocoh di Kecamatan Candiroto.

Selama ini empat sungai itu rawan meluap dan menimbulkan bencana banjir tiap kali musim penghujan datang. Upaya pembersihan sungai dari sampah plastik dilakukan untuk meminimalkan potensi banjir.

Kegiatan itu dilakukan sejak satu bulan terakhir. “Sebagai antisipasi menghadapi musim penghujan, kami telah membersihkan sungai-sungai dari sampah plastik.” (AD/TS/BB/N-3)

BERITA TERKAIT