17 November 2019, 04:00 WIB

Sadari dan Lakukan Toleransi


Suryani Wandari Putri | Weekend

DOK INDIKA FOUNDATION
 DOK INDIKA FOUNDATION
Banyak hal kecil yang kita lakukan ternyata bentuk perundungan. Saatnya sadar dan lakukan toleransi.

TANPA disadari tujuan akrab dengan teman lewat memberikan nama panggilan atau julukan kerap disematkan. Tidak terkecuali bagi Safril, mahasiwa Studi Agama di UIN Alauddin Makassar, yang menyematkan panggilan kepada salah seorang teman akrabnya.

Ternyata langkah memberikan julukan yang sudah dilakukan bertahun-tahun itu menjadi penyesalan dalam diri Safril. Apalagi nama panggilan itu biasanya didapatkan dari karakter, ciri khas yang gampang diingat, dan tanpa konsep sebelumnya. Ia sempat menyematkan julukan ‘cebol’ pada seorang temannya yang bertubuh mungil.

“Awalnya kan memang bercanda, tapi itu tidak direspons dengan ekspresi marah, malah cekikikan teman-teman lain sehingga nama tersebut menjadi miliknya dan teman lainnya pun meng­ikuti,” kata Safril, yang diwawancarai Muda via telepon, Rabu (6/11).

Dari awal, Safril sadar betul jika julukan itu bisa saja melukai perasaan temannya. Namun, temannya memaklumi dan menerimanya. Meskipun tak ada yang berbeda dari cara bergaul dan memperlakukan sebagai teman, ia semakin takut kala ucapan itu akan terdengar orangtua temannya. “Tentu akan mengundang perselisihan dan menganggap itu adalah penghinaan karena menyangkut keterbatasan fisik,” lanjut Safril.

Kesadarannya itu semakin terpicu saat ia mengikuti workshop Narasi Toleransi yang diadakan Indika Foundation dan United Nations Development Programme (UNDP). Pelatihan yang berlangsung pada Agustus lalu itu bertujuan menyebarkan nilai-nilai toleransi dan perdamaian. Di sana ia tersadar pemberian julukan tidak seharusnya dilontarkan, apalagi berangkat dari kacamata ukuran tubuh, agama, ras, dan budaya.

“Memang banyak jenis perundungan, julukan ini menjadi salah satunya. Efeknya bisa saja membuat orang itu tidak percaya diri, semakin terpuruk, membatasi dirinya untuk berkembang, bahkan membunuh hidupnya,” kata Safril.

Tidak hanya Safril, Mutiara Srikandi, mahasiswa Institut Seni Indonesia Yog­yakarta ini pun punya cerita hampir serupa. Bedanya ia  banyak menerima hate speech atau ujaran kebencian yang ia dapatkan dari pesan-pesan singkat yang mengatasnamakan keluarga, anak, negara, bahkan agama. Semisal, “kalau kamu sayang anakmu, sebarkan pesan ini...” lalu, “kalau kamu sayang ibumu maka ...”

Menurut Mutiara, mereka penyebar hate speech ini ibarat penyair. Mereka akan menggiring otak kita agar terlihat relevan dengan situasi yang ada. “Itu menjebak orang, saya bahkan sering mendapatkan pesan dengan isi yang menjelek-jelekan aliran agama tertentu,” katanya.

Kedua kasus, julukan dan hate speech, ini memang diyakini bisa mengikis rasa toleransi. Padahal, rasa toleransi ini sudah dipupuk sejak kecil oleh nenek moyang bangsa Indonesia yang sejatinya bisa menerima perbedaan, bahkan telah terkandung dalam Pancasila sila kedua, yaitu Peri kemanusiaan yang adil dan beradab.

Ciptakan toleransi di medsos

Masalah intoleransi tengah panas belakangan ini, terutama saat pesta demokrasi pemilihan capres dan cawapres beberapa waktu silam. Nyatanya, kondisi panas itu hanya terjadi di media sosial saja. Penyebaran hoaks atau berita palsu menjadi penyebabnya.

Guna mengurangi tensi panas, para peserta Narasi Toleransi mulai melakukan gerakan. Caranya dengan lebih banyak membagikan kutipan-kutipan untuk melakukan toleransi. Seperti yang dilakukan Mutiara sejak ia bergabung dalam komunitas dua tahun silam.

“Saya termasuk tidak terlalu melek media sosial, posting-an paling tentang tempat wisata tanpa ada caption, kata bijak. Tapi saya mulai belajar untuk posting pengalaman saya yang membuat saya lebih bersyukur,” kata Mutiara.

Namun, diakuinya, ia sempat menghindar untuk dekat dengan orang yang memiliki latar belakang berbeda, seperti beda agama, ras, atau lainnya. “Namun, setelah ikut salah satu komunitas membukakan mata saya, interaksi dan bergaul dengan beragam orang itu tak dapat terelakan, bahkan sudah menjadi kesenangan pribadi,” kata Mutiara yang sudah bergabung dalam lima komunitas atau lembaga berbeda, seperti YOT Yog­yakarta, YIPC Jogja, BGFP (Boardgame for peace) peace generation, dan STUBE HEMAT Yogyakarta.

Media sosial, bagi Mutiara, bukan sekadar sarana berbagi pengalaman yang menarik. Saat membagikan posting-an di media sosial, sudah menjadi personal branding seseorang untuk memperjelas penilaian orang terhadap dirinya dengan menyebarkan narasi kebenaran, menyebarkan perdamaian, bukan menjadi penyebar hoaks.

Guna membangun toleransi, lanjut Mutiara, banyak kegiatan yang bisa dilakukan, salah satunya lebih bijak bermedia sosial dan memberi workshop atau pengajaran kepada siswa tentang bagaimana menangkal hoaks. (M-3)

BERITA TERKAIT