17 November 2019, 03:00 WIB

Gandrung Kerukunan


Ono Sarwono, Wartawan Media Indonesia | Weekend

MI/Ebet
 MI/Ebet
Ono Sarwono, Wartawan Media Indonesia

DI antara nilai pidato Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dalam Kongres II NasDem yang baru lalu ialah pentingnya membangun kerukunan di antara seluruh elemen dan komponen bangsa. Bahkan Surya menegaskan bahwa kerukunan dan persatuan bangsa lebih dari segala-galanya, apalagi hanya kepentingan partai.

Bila menengok dalam cerita wayang, salah satu tokoh yang demikian itu, yang kerap menggaungkan pentingnya kerukunan dan persaudaraan menuju kehidupan yang harmonis ialah Salya, alias Salyapati. Ia bersedia mengorbankan kekuasaannya demi tercapainya perjuangannya tersebut.

Namun, sungguh tidak mudah. Upaya luhurnya itu banyak rintangan. Langkahnya selalu dicurigai dan ditafsirkan negatif oleh sebagian besar elite. Ia dituduh hanya mencari muka atau pencitraan.

Bertemu Pujawati

Masa kecil Salya bernama Narasoma. Ia merupakan anak pertama Raja Negara Mandaraka, Prabu Mandrapati. Adiknya bernama Madrim. Narasoma dikenal sombong. Penampilannya kemlinthi, egois, sok pintar dan jagoan. Ia juga berani tidak menggubris saran dan nasihat orangtuanya.

Oleh karena itu, tidak jarang Mandrapati gusar akibat kebandelan putra satu-satunya itu. Siang-malam kegelisahan menghantuinya karena Narasoma ia gadang-gadang sebagai penerus kepemimpinan di Mandaraka.

Kekhawatiran Mandrapati mencapai puncaknya ketika Narasoma menolak mentah-mentah perintahnya untuk menikah. Mandrapati berharap putranya segera memiliki pendamping sebagai syarat untuk menggantikannya sebagai raja, mengingat dirinya pingin segera lengser karena usia lanjut.

Namun, karena Narasoma tidak sejalan, Mandrapati mengusir putra sulungnya itu dengan amarah meluap. Tanpa pamit, Narasoma langsung pergi. Ia meninggalkan orangtua, saudara, dan keluarga besarnya.

Di tengah perjalanan tanpa tujuan, Narasoma bertemu dengan Bagaspati, resi yang berwujud raksasa. Bagaspati mengaku sudah sekian lama mencari Narasoma untuk dijadikan putra mantu. Ia meminta Narasoma bersedia dinikahkan dengan putri tunggalnya bernama Pujawati.

Narasoma serta-merta menolak karena yakin Pujawati wujudnya pasti tidak jauh berbeda dengan bapaknya. Maka, terjadilah perang tanding. Narasoma bertekuk lutut dan terpaksa mengikuti keinginan Bagaspati untuk diajak ke tempat tinggalnya di pertapaan Argabelah.

Narasoma terpesona dan hatinya bergelora ketika bertemu Pujawati. Ia langsung jatuh hati karena kecantikan dan kemolekannya. Hati Pujawati pun tak kalah menghebatnya. Ia merasa terbang tinggi ke langit bertemu pemuda yang sudah lama dirindukan, yang selalu hadir dalam mimpinya.

Karena sama-sama cinta dan merasa tidak bisa berpisah, keduanya lalu dinikahkan. Namun, dalam hati Narasoma merasa malu memiliki mertua berwujud buta. Itulah yang ia ungkapkan kepada istrinya. Hal itulah juga yang kemudian disampaikan Pujawati kepada bapaknya.  

Demi kebahagiaan putri dan menantunya, Bagaspati ikhlas meninggalkan dunia fana. Ia meminta Narasoma menyirnakannya setelah mewariskan ajian candrabirawa. Sebelumnya, Bagaspati mengganti nama putrinya menjadi Setyawati, yang bermakna wanita jelita yang setia.

Arif dan bijaksana

Pada suatu ketika, Narasoma pulang ke Mandaraka karena mendengar ayahnya mangkat. Singkat cerita, ia lalu menggantikan bapaknya sebagai raja bergelar Prabu Salya atau Salyapati. Setyawati menjadi permaisuri dan satu-satunya istrinya.

Dari pasangan tersebut lahirlah lima anak, yakni Irawati (istri Raja Mandura Prabu Baladewa), Surtikanti (istri Adipati Awangga Karna), Banowati (istri Raja Astina Prabu Duryudana), Burisrawa, dan Rukmarata.

Sejak menjadi raja itulah watak Salya berubah total dari masa lalunya yang penuh kontroversial. Ia menjadi sosok yang arif dan bijaksana. Bukan itu saja, Salya juga sangat gandrung dengan kerukunan dan persaudaraan. Ia mengentengkan langkahnya untuk wira-wiri ke negara putra-putra menantu guna mem­bangun pen­tingnya kerukunan antarsaudara.

Dalam seni pakeliran, Salya paling sering berkunjung ke Astina. Ini karena putra mantunya, Duryudana, demi kekuasaan, memiliki garis politik bermusuhan dengan Pandawa. Pada setiap kehadirannya, Salya selalu menasihati Duryudana agar lebih mementingkan kerukunan ketimbang yang lain, apalagi hanya urusan takhta atau duniawi.

Selain kepada Duryudana, Salya juga senantiasa menasihati putra mantunya yang lain, Karna, untuk tidak mendukung politik permusuhan Duryudana (Kurawa). Apalagi, Karna yang menjadi panglima perang Astina adalah saudara kandung Pandawa lain ayah.     

Di antara saudara-saudaranya, Duryudana memang hanya tidak rukun dengan Pandawa, malah memusuhinya. Padahal, Pandawa adalah adik sepupunya sendiri. Mereka sama-sama keturunan Begawan Abiyasa. Ayah Duryudana, Drestarastra, ialah kakak kandung Pandu, bapaknya Pandawa.

Adapun bagi Salya, Pandawa, terutama si kembar Nakula dan Sadewa, sudah dianggap sebagai anaknya sendiri. Nakula dan Sadewa adalah anaknya Madrim, adik kandung Salya yang sangat ia sayangi.

Sikap keras Duryudana memusuhi Pandawa itu akibat sangat dekat dengan pamannya dari pihak ibu, Sengkuni, yang menjabat patih. Ini dilatarbelakangi ambisi Sengkuni, yang berdarah Negara Plasajenar, agar Duryudana (Kurawa) langgeng menggenggam kekuasaan Astina.

Karena sumber persoalannya adalah kekuasaan, Salya menegaskan rela dan ikhlas menyerahkan takhta Mandaraka kepada Duryudana, dan Astina ia sarankan dikembalikan kepada Pandawa. Ini semata-mata agar tidak terjadi pemusuhan dan terwujudnya kerukunan antarsaudara.

Menurut Salya, Astina memang hak mutlak Pandawa. Karena Pandawa (Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa) merupakan ahli waris Pandudewanata, raja Astina, yang sebelumnya gugur dalam Perang Pamuksa melawan Raja Pringgondani Prabu Tremboko.

Elan perjuangan

Namun, langkah mulia Salya itu mendapat ganjalan. Bukan hanya dari Sengkuni yang bergaris politik pragmatis, melainkan juga oleh Karna yang malah kerap tidak segan-segan mengecam Salya. Duryudana pun memilih mengikuti saran Sengkuni dan Karna daripada nasihat mertuanya.

Menurut Sengkuni, Salya hanya pencitraan. Menurutnya, mana ada kekuasaan diberikan atau dilepas begitu saja. Kalau menurut Karna, langkah mertuanya itu bukan watak kesatria, melainkan  cermin seorang pecundang dan penakut. Ia maklum itu kebiasaan priyayi sepuh dan renta.

Hikmah dari kisah Salya ini ialah tekad dan upaya baik ternyata tidak selalu mendapat dukungan. Malah memancing persepsi bermacam-macam, termasuk yang negatif dan atau malah memunculkan perlawanan. Namun, perjuangan membangun kerukunan dan persatuan memang membutuhkan elan yang tidak boleh padam karena bila itu terjadi berarti mati (hancur). (M-2)

BERITA TERKAIT